Tsunami di Tubuh

- Advertisement - Pfrasa_F
Ilustrator: Lelya Hilda Amira Ritonga
- Advertisement - jd

Penulis: Muhammad Ibrahim

“Kau yakin pernah wudu di sini?” Akhirnya seseorang menegur Ibrahim dari sisi bahunya. Ibrahim menoleh, “kau ragu?”

“Aku tak menyukai penampilanmu, tapi sepertinya kau sangat mengenal tempat ini.”

“Hemmh,” beberapa jari tangan Ibrahim kemudian menggesek lantai masjid, sambil membenamkan ujung-ujung kukunya mengikuti ukiran lantai “dua puluh tahun lalu sebelum mar-mar ini dibangun, aku pernah salat Isya di sini.”

“Lalu?”

“Setelah malam itu, aku tak lagi menyembah tuhan.”

“Sangat buruk!” Seseorang itu menatap marah ke arah Ibrahim, 20 tahun ke mana saja kau, dasar tak berguna, kalau bukan karena sebentar lagi zuhur, mungkin kau sudah kuinjak-injak. Kau harusnya tak memberi tahu ini padaku. “Kau mau apa?” seseorang itu membentak.

“Maaf, beri tahu aku di mana tempat wudu,” dengan rasa salah Ibrahim mulai melepas sandal kulitnya, berharap ia dapat diterima setelah ini.

“Ke sana” seseorang itu kemudian menunjuk ke arah dua kamar terpisah di belakang masjid, “jika kau masih bisa membaca, cari tulisan ‘laki-laki’ di salah satu pintu kamar.”

Baca juga: Berniat Hijrah, Ayo Itu Perintah

***

Sengaja aku niat wudu untuk menghilangkan hadas kecil wajib karena Allah ta’ala

Tanpa aba-aba, tiba-tiba gempa ribuan skala richter mengguncang wilayah hidung dan sekitarnya, hingga mengakibatkan semua makhluk-makhluk hitam dari berbagai usia berhamburan keluar dari pori-pori. “Apa ini?” kepala suku keluar dari sarang lalu melihat ke atas sambil mencaci maki semua yang dilihatnya.

“Siapa yang marah!”

“Siapa!”

“Sudah turun temurun sejak dua puluh tahun, aku tak pernah melihat tanah ini diobrak-abrik.”

Di waktu yang sama pula, guncangan jutaan skala richter juga terjadi di wilayah mata dan sekitarnya, guncangan yang lebih dahsyat dari wilayah hidung ini mengakibatkan pori-pori tanah bahkan sampai retak melebar. Bukan hanya itu, kepala suku dan semua warga juga keluar dari sarang sambil melihat ke atas lalu mencaci maki bersama-sama.

“Siapa yang marah!”

“Kami dan semua keturunan di sini tak pernah melihat pemandangan seburuk ini!”

Begitu juga dengan wilayah mulut, selain jauh lebih kotor, wilayah paling primadona dari ini dihuni oleh makhluk-makhluk hitam yang tak punya rasa iba. Di dalamnya terdapat satu tempat empuk tanpa tulang yang dihuni oleh makhluk yang tidak paham tata krama. Karenanya gempa total skala richter yang terjadi di wilayah ini jauh lebih besar dari guncangan di dua wilayah sebelumnya.

Baca juga: Ekstrovert

“Siapa yang marah?” kepala suku sampai terjatuh-jatuh saat keluar dari sarangnya, diikuti semua warga yang tampak sangat ketakutan, tak ada dari mereka yang bisa berdiri lalu melihat ke atas sambil mencaci maki, kecuali semuanya tersungkur ke tanah, “siapa? Siapa yang marah?”

Beberapa saat setelah itu, tsunami sebanyak tiga kali berturut-turut pun menghempaskan wilayah hidung, mata, dan mulut lalu menghapus sebagian besar makhluk-makhluk hitam di sana. Beberapa dari mereka ada yang selamat, melarikan diri ke wilayah telinga, ke rambut, ada juga yang turun sampai ke tangan.

Sayangnya, belum kering air tsunami di muka, gempa dengan skala richter yang sama juga mengguncang wilayah tangan dan sekitarnya. Guncangan ini tak kalah hebat dari gempa sebelumnya, wilayah yang dihuni oleh makhluk hitam yang suka memegang barang haram ini tampak amburadul sekarang, terutama di area siku hingga jari.

“Wahai sebangsa setanah air,” kepala suku di sana langsung meneriaki semua anggota-anggotanya, “keluar dari sarangmu sekarang! Seseorang telah marah, jangan musnahkan dirimu!” Semua makhluk di sana kocar-kacir, mereka berlarian tanpa arah bahkan saling bertabrakan. Tidak ada takdir yang pasti dari ketakutan mereka kecuali akan segera dimusnahkan. Benar, beberapa saat setelah propaganda itu, tsunami tiga kali berturut-turut menghempaskan mereka.

Baca juga: Tobat

“Ha ha ha ha,” makhluk-makhluk yang berhasil menyelamatkan diri ke wilayah rambut dan telinga girang bukan main setelah memastikan tsunami tidak bisa memusnahkan mereka, “ini kami, diciptakan sekuat ini, tak ada yang bisa memarahi kami bahkan dajjal sekalipun.”

“Benarkah?” kepala suku di wilayah itu mendatangi mereka. Bukan senang, kepala suku justru meragukan ucapan mereka, “kalian tak melihat ada kerut keraguan di keningku?”

“Bencana telah terjadi, ketahuilah.”

“Aku tahu. Aku sudah mengetahui ini setelah mempelajari rukun wudu,” kepala suku makin tegang.

“Maksudmu?”

“Seseorang telah sadar. Berdasarkan rukun wudu, wilayah ini menjadi sasaran selanjutnya.” Kepala suku kemudian memanggil semua warganya lalu mengajak mereka berkumpul bersama-sama di atas ubun-ubun. Beberapa saat setelah semuanya berkumpul, tsunami kemudian menimpa mereka. Peristiwa nahas serupa juga terjadi di wilayah telinga.

Makhluk-makhluk hitam yang suka melangkah ke tempat hina dan dosa, sering berlama-lama di tempat memabukkan dan mengundang syahwat, nista lagi kotor, makhluk seperti ini ternyata berada di wilayah kaki. Mereka saat ini sudah mengetahui kabar tsunami di wilayah lain, sehingga segala persiapan antisipasi telah dilakukan untuk menyelamatkan ekosistem mereka. Tumit dijadikan banteng kokoh, dan sela-sela jari dijadikan pegangan jika tsunami benar-benar datang, sebagian dari mereka ada yang sembunyi di telapak, sebuah tempat yang sulit dijangkau air.

Baca juga: Sahabatku Ternyata Bukan Manusia

Tidak mungkin, gempa dengan kebesaran skala richter dan tsunami dengan air yang tajam kemudian menyerang wilayah kaki dan sekitarnya. Semua menjadi musnah. Tidak ada satupun makhluk hitam di tumit dan sela-sela jari kecuali semuanya telah disingkirkan. Ketajaman aliran airnya bahkan memusnahkan semua yang berlindung di telapak kaki. Memang, makhluk-makhluk ini telah berantisipsi, sayang, mereka lupa tsunami menghempas sebanyak tiga kali.

Dengan tulus, Ibrahim kemudian menyempurnakan wudunya sambil berdoa meminta ampun dan pertolongan lalu tertatih-tatih menuju masjid. Bekas wudu yang masih basah di tubuhnya, membuatnya makin rindu pada arah kiblat dan ka’bah yang pernah diciumnya pada sajadah.

“Kau yakin akan terus berwudu?” seseorang yang sama tiba-tiba menegur Ibrahim dari sisi bahunya. Ibrahim menoleh, “kau ragu?”

“Sekarang aku menyukai penampilanmu.”

“Hemmh,” Ibrahim berterima kasih.

“Apakah tsunami telah menghapus semua dosa-dosamu?” seseorang itu bertanya lagi.

“Setelah dua puluh tahun, aku akan kembali menyembah tuhan.”

Editor : Miftahul Zannah

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles