Wanita Baik Hati

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto: Dok. Internet
- Advertisement - jd

Penulis: Siti Aisa

Mendung baru saja berlalu meninggalkan rintik-rintik hujan dengan dinginnya cuaca di sore hari, terlihat matahari yang mulai tergelincir pertanda senja akan tiba. Kami sibuk menyiapkan berkas-berkas yang akan di butuhkan saat mendaftar ulang nanti, di ruangan itu hanya ada kami dan guru TU yang setia membimbing serta menemani kami karena semua murid sudah pulang sedari tadi.

Masih terngiang jelas di ingatanku sekitar dua tahun yang lalu, tepatnya tahun 2017 di bulan Agustus. Aku dan sahabat-sahabat ku baru saja menyelesaikan daftar ulang secara online, kami terdiri dari 6 orang. Siti Aisa yaitu saya sendiri, Wani, Vera Afriani Usli, Nurul Asikin, Rohana dan Sri Wahyuni yang sama-sama lulus jalur SPAN PTKIN di UINSU. Kami adalah sahabat sewaktu duduk di bangku Qismul `Aly, MAS Al Wasliyah Kedaisianam, Batubara atau sederajat SMA.

Suara jarum jam terdengar begitu jelas saat suasana hening, sontak aku pun melihat ke arah jam dinding yang berada tepat di belakangku. Waktu sudah menujukkan pukul 17:30, sinar emas akan muncul sebentar lagi pertanda senja yang di iringi akan datangnya malam. Semua berkas yang akan dibawa untuk mendaftar ulang telah selesai, kami pun bersiap-siap untuk pulang. Awalnya, berbagai macam hal berserak di sekitar karena kami sibuk dengan berkas masing-masing, namun kami segera merapikannya lalu menuju tempat parkir sepeda motor.

Sepi, hanya ada satu kereta yang terparkir. Kecemasan mulai ada di pikiran kami masing-masing, bagaimana tidak? Kami terdiri dari 6 orang, dan hanya ada satu sepeda motor milik Wani, kami berlima sibuk minta di antarkan pulang duluan ke rumah karena senja akan tiba sebentar lagi. Sungguh luar biasa pengorbanan Wani, ia rela mengantarkan kami yang memiliki rumah dengan jarak tempuh sangat jauh.

Wani merelakan tenaga, waktu, serta sepeda motornya untuk mengantarkan kami pulang. Tempat yang dituju Wani ialah Pahang, Dahari Indah, Barung-Barung, Simpang Sianam dan Bulan-Bulan. Sedangkan, Wani sendiri tinggal di daerah Kampung Lima di pedalaman Desa Lubuk Cuek. Jadi bisa dibayangkan kemana arah yang hendak di antarkan Wani, seperti arah mata angin, satu di utara, satu di selatan, satu di barat dan satu lagi di timur.

Bukan itu saja masalahnya, masalah lain yang menimpa adalah sepada motor Wani tidak berfungsi dengan baik. Jika yang membawa sepeda motor itu bukan ahlinya, bisa saja si pembawa menabrak pohon pisang atau lain sebagainya, di tambah lagi jalanan yang licin karena baru di sirami air hujan yang begitu deras. “Jadi, harus ada ilmu kungfu sedikit, bukan kungfu membela diri melainkan kungfu untuk menyeimbangkan kaki,” begitu kata guru TU kami karena ia sudah mencobanya sendiri.

Keadaan sepeda motor Wani ini ialah, “jika remnya sedang malas atau gak bisa menyatu dengan pedal lingkar, maka kakilah yang menjadi rem pengganti,” tambah pak Junaidi sang guru TU. Katanya lagi, mungkin seperti menaiki roller coaster tercuram yang ada di dunia tepatnya di negara Donald Trump, ngeri-ngeri gimana gitu (kata Sutan Batoegana)” tutupnya.

Kalau bukan karena sahabat sejati, tidak akan mungkin Wani bersusah payah mau mengatarkan kami pulang satu persatu sampai ke rumah. Sungguh wanita yang luar biasa dan baik hatinya. Berkat Wani akhirnya kami semua sampai kerumah saat maghrib dengan selamat. Sedangkan Wani sendiri sampai di rumahnya ketika malam hari, dan kami tidak akan melupakan pengorbanan Wani. Wani, wanita yang baik hatinya.

Editor: Atika Andayani

- Advertisement - DOP

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles