Ajang Pencarian Bakat atau Merendahkan Martabat?

- Advertisement - Pfrasa_F
Foto: Dok. Pribadi (Kasubdiv PSDA)

Penulis: Alya Azra Mutia Nasution

Beauty pageant merupakan kontes kecantikan yang berfokus pada tiga hal, yakni brain, beauty, and behaviour (otak, kecantikan, dan perilaku). Beauty pageant adalah kompetisi yang berfokus pada penampilan fisik, kepribadian, bakat, dan kecerdasan. Ini adalah kontes di mana para kontestan yang biasanya wanita memamerkan kecantikan, keanggunan, dan ketenangan mereka melalui berbagai babak penjurian.

Dalam beauty pageant, peserta bersaing dalam berbagai kategori seperti baju renang, gaun malam, bakat, dan wawancara. Mereka dinilai oleh panel juri yang mengevaluasi penampilan mereka secara keseluruhan, penampilan panggung, kepercayaan diri, keterampilan komunikasi, dan bakat mereka.

Baca Juga: Bahaya Hustle Culture pada Mahasiswa

Beauty pageant sering kali memiliki tema atau tujuan tertentu, seperti mempromosikan tujuan atau meningkatkan kesadaran akan masalah tertentu. Beberapa kontes juga menawarkan beasiswa atau hadiah lain kepada para pemenang.

Kontroversi seputar beauty pageant mencakup kekhawatiran tentang mengobjektifikasi wanita, mempromosikan standar kecantikan yang tidak realistis, dan memperkuat stereotip gender. Namun, para pendukung berpendapat bahwa kontes dapat memberdayakan perempuan dengan memberi mereka platform untuk memamerkan bakat mereka dan mengadvokasi tujuan penting. 

Dewasa ini, media sosial diramaikan dengan pemberitaan body checking pada ajang Miss Universe Indonesia. Peserta merasa hal tersebut tidak pantas, karena body checking merupakan proses memeriksa tubuh peserta dengan cara yang sensitif dan dapat membuat mereka tidak nyaman atau terhina. 

Di samping itu, terdapat dugaan tindak pelecehan seksual terhadap sejumlah peserta Miss Universe Indonesia pada sesi body checking, di mana mereka diminta membuka baju di depan beberapa orang. Bahkan, lima peserta dipotret dalam keadaan telanjang, keterangan ini dikutip dalam laman m.kumparan.com

Kontroversi tersebut menjadi sorotan publik setelah sejumlah peserta buka suara dan di antaranya melaporkan kasus ini ke kepolisian. Satu per satu klaim pun mencuat usai pelaporan, salah satunya bahwa kegiatan body checking tidak pernah ada dalam tata acara, bahkan Mukie Muza selaku Co-Founder Indo Pageants dan penggemar kontes kecantikan juga tidak pernah mengetahui adanya sesi body checking dalam pageant yang mengharuskan pesertanya untuk melepaskan busana.

Dicari dari berbagai sumber di internet, beliau juga menjelaskan bahwa yang ia ketahui mengenai body checking sejauh perjalanan Indonesian Pageants, hal ini dilakukan pada babak Preliminary dan Malam Final. Peserta yang menajdi finalis mengenakan swimwear (baju renang) atau sportswear (baju olahraga) di atas pentas, dan dinilai oleh dewan juri serta ada penonton. Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa sesi body checking lazim dilakukan dalam keadaan peserta berbusana dan dilakukan di publik. Jika ada sesi body checking yang tertutup, adalah in-depth interview (wawancara mendalam) oleh panel dewan juri. Biasanya dengan memakai busana cocktail atau gaun malam

Sebagai ajang yang seharusnya berfokus pada kecantikan, kepribadian, bakat dan kecerdasan, body checking seperti ini hanya menekankan pada penampilan fisik dan mengabaikan nilai-nilai lainnya. Hal ini memperkuat standar kecantikan yang tidak realistis dan merugikan peserta yang mungkin saja tidak memenuhi standar tersebut. Semoga segera ada kebijakan dari pihak penyelenggara untuk bertanggung jawab menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi peserta dan melindungi peserta dari tindakan yang tidak pantas atau merendahkan martabat mereka. 

Baca Juga: Lima Rekomendasi Tempat Wisata di Sumatra Utara

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles