
Penulis: Nur Azizah Siregar
Salah hakikat manusia yakni tidak pernah cukup dengan segalaanya, apalagi saat seseorang berada di masa produktivitas atau golden era. Menurut Kemenkes RI tahun 2017, manusia dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu kelompok usia muda (<15 tahun), usia produktif (15–64 tahun), dan usia nonproduktif (>65 tahun). Dari pengelompokan tersebut mahasiswa berada pada kelompok usia produktif. Di usia ini banyak mahasiswa yang berusaha menjadi orang yang produktif untuk mencapai tujuan masing-masing. Namun, mereka melakukannya tanpa mempertimbangkan fisik maupun psikologis yang ada pada diri mereka.
Hustle culture merupakan keadaan di mana seseorang terlalu keras dan melampaui batas dalam melakukan suatu hal sehingga menjadi suatu kebiasaan. Singkatnya, bisa dikatakan seperti membiasakan beraktivitas tanpa istirahat yang cukup. Dilansir dari mediaindonesia.com, fenomena ini secara umum diperkenalkan oleh beberapa tokoh seperti Elom Musk, Jeff Bezos, dan Jack Ma di mana mereka memuliakan perilaku bekerja tanpa adanya jam istirahat dan melampaui batas kemampuan dirinya.
Baca Juga: Kriminalitas Remaja menjadi Tantangan bagi Kota Medan
Banyak mahasiswa yang mengikuti berbagai aktivitas seperti organisasi di dalam maupun luar kampus, magang, volunteer, dan aktivitas lainnya supaya lebih produktif agar bisa sukses di usia muda. Pembahasan hustle culture di sini bukanlah dijadikan sebagai alasan untuk tidak produktif sama sekali. Tidak ada salahnya jika ingin melakukan semua kegiatan tersebut. Akan tetapi, cara untuk menyeimbangkan keadaan psikologis dengan fisik itu yang tidak tepat.
Misalnya, seorang mahasiswa merasa harus melakukan banyak kegiatan agar lebih produktif. Namun, setelah selesai ia akan menganggap hal tersebut sebagai suatu kebiasaan sehingga ia akan selalu melakukannya tanpa memiliki waktu istirahat yang cukup untuk kesehatan tubuh dan mentalnya. Jika dalam satu hari ia tidak melakukan kegiatan apa pun, ia akan merasa feel guilty atau menyalahkan dirinya sendiri sebagai orang yang tidak produktif.
Dilansir dari lasak.id, menurut dokter ahli spesialis kejiwaan penyebab dari hustle culture adalah faktor eksternal, yakni seperti persaingan bisnis yang ketat, tuntutan tugas, perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang sangat luas, dan lain-lain. Seorang mahasiswa yang memiliki keinginan tinggi terhadap kesuksesannya akan melakukan banyak aktivitas berdasarkan faktor eksternal tersebut.
Beberapa dampak negatif dari hustle culture yaitu, pertama, risiko terserang penyakit berat. Sebagaimana yang kita ketahui, ketika terus-menerus beraktivitas tanpa henti, tubuh akan mudah lelah sehingga rentan terserang penyakit. Tentu, hal tersebut akibat terlalu memporsirkan diri.
Kedua, gangguan kesehatan mental. Ketika terlalu banyak beraktivitas tanpa istirahat, ternyata dapat memengaruhi kesehatan mental. Dari banyaknya aktivitas yang kita lakukan, hal tersebut dapat membuat stres.
Ketiga, hilangnya waktu bersama keluarga, teman, ataupun orang terdekat kita. Ketika terus-menerus bekerja kita akan melupakan orang-orang sekitar. Kita hanya fokus terhadap apa yang harus kita selesaikan tanpa memikirkan keadaan sekitar yang mungkin membutuhkan bantuan dari kita.
Oleh karena itu, kita perlu menjaga keseimbangan antara aktivitas dengan istirahat yang cukup. Adapun cara menyeimbangkan hal tersebut, pertama, tidak membandingkan pencapaian diri dengan orang lain. Ketika yakin terhadap apa yang dilakukan dan tidak membandingkan diri dengan orang lain, pasti kita bisa mencapai tujuan dengan tidak menyakiti fisik maupun psikologis.
Kedua, mencari hobi di luar rutinitas seperti membaca, olahraga, dan hal lain yang bisa membuat fisik dan psikologis kita tenang. Dengan demikian, fisik maupun psikologis kita akan terjaga. Terakhir, manajemen waktu dengan baik. Pembagian waktu antara aktivitas, belajar, dan istirahat dilakukan agar semua aktivitas dapat direncanakan, sehingga tidak terjadi hustle culture.
Baca Juga: Pendidikan Karakter Solusi Degradasi Moral
Nama : Nur Azizah Siregar
Jurusan : Bimbingan Konseling Pendidikan Islam
Fakultas : Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Semester : III
Instagram : n.zzaaah
Editor: Nisrina Ardra Hafizha

