Jiwa yang Ingin Tenang, Terkurung dalam Riuh Riang

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Istimewa)

Penulis: Rafly Surya Dharma

Di tengah hiruk-pikuk dunia kampus, seminar, diskusi, lomba, dan organisasi, tidak semua mahasiswa benar-benar bahagia. Banyak yang hanya mengikuti arus, memasang senyum, sementara pikirannya dipenuhi tekanan, kecemasan, dan kelelahan yang tak tersampaikan. Mereka ingin tenang, tetapi terkurung dalam riuh rendah yang dipaksakan, baik oleh sistem, lingkungan sosial, maupun ekspektasi diri sendiri. Fenomena ini bukan sekadar perasaan sesaat, melainkan refleksi krisis kesehatan mental mahasiswa yang lebih dalam. Masalah kesehatan mental mahasiswa telah menjadi isu nasional dan global.

Di Indonesia, penelitian terhadap mahasiswa pendidikan dokter spesialis (PPDS) menemukan bahwa 22,4% mengalami depresi, bahkan 3,3% memiliki pikiran untuk bunuh diri. Yang lebih mencemaskan, hanya 9% dari mereka yang mengalami kecemasan dan depresi yang mendapatkan pengobatan atau dukungan profesional. Hal ini ditegaskan oleh Dr. Herni Susanti (Ketua STAND-Indonesia), yang menyatakan, “Kesehatan mental di Indonesia masih diselimuti pikiran negatif. Banyak yang takut dianggap lemah jika mengaku sedang tidak baik-baik saja.”

Baca Juga: Seni Mengembangkan Diri, Membangun Versi Terbaik dari Diri Sendiri

Mahasiswa sering terjebak dalam budaya “harus kuat”, “harus produktif”, dan “jangan mengeluh”. Padahal, tidak semua orang memiliki irama yang sama. Ada yang memilih diam, bukan karena malas, tetapi karena membutuhkan ruang untuk bernapas. Di sisi lain, layanan konseling di banyak kampus belum memadai. Kenyataan ini menunjukkan bahwa perasaan terasing, tekanan sosial, dan beban mental adalah bagian nyata kehidupan mahasiswa saat ini. Sudah saatnya kampus menjadi ruang akademik sekaligus ruang aman secara psikologis.  Berikut empat hal yang harus dilakukan:

  1. Layanan Konseling yang Ramah dan Terjangkau

Konseling harus mudah diakses, gratis, tanpa stigma, dan dipromosikan secara aktif. Mahasiswa harus tahu bahwa “tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja”.

  1. Edukasi dan Literasi Kesehatan Mental

Workshop, seminar, dan diskusi informal perlu diadakan rutin. Mahasiswa harus dibekali pemahaman tentang emosi, stres, dan cara mencari bantuan.

  1. Dukungan Teman Sebaya (Peer Support)

Mahasiswa bisa menjadi pendengar pertama. Pelatihan untuk menjadi pendengar yang empatik sangat penting dalam membangun solidaritas emosional.

  1. Kebijakan Kampus yang Berpihak

Kampus perlu memiliki kebijakan formal tentang deteksi dini, masa istirahat akademik karena alasan psikologis, dan pengurangan beban untuk kondisi khusus. Mahasiswa tidak hanya butuh ruang untuk belajar, tetapi juga ruang untuk pulih.

Di balik riuh sorak organisasi, keberhasilan akademik, dan tawa di media sosial, banyak jiwa sebenarnya sedang mencari ketenangan. Tidak semua tawa menandakan kebahagiaan, dan tidak semua keheningan berarti baik-baik saja. Mari mulai mendengar, bukan menuntut. Mari memberi ruang, bukan menekan. Jiwa yang ingin tenang tidak seharusnya terkurung dalam hiruk-pikuk. Krisis kesehatan mental mahasiswa bukan hanya persoalan pribadi, tetapi juga mencerminkan kondisi sistem pendidikan yang terlalu menekankan pada capaian, bukan proses.

Mahasiswa seolah dituntut untuk sempurna, dengan nilai tinggi, aktif berorganisasi, kreatif, dan bahagia. Konsekuensinya, banyak yang kehilangan arah. Rasa lelah yang tak tertangani berubah menjadi apatis. Motivasi yang tinggi memudar. Banyak yang mempertanyakan makna perjuangan mereka.  Salah satu pemicu yang sering tidak disadari adalah media sosial.  Di satu sisi, platform digital membuka peluang belajar dan berjejaring. Namun, di sisi lain, media sosial kerap menampilkan gambaran kehidupan yang terlalu ideal.

Mahasiswa membandingkan diri dengan pencapaian orang lain yang terlihat sempurna, menimbulkan perasaan gagal, rendah diri, dan kecemasan. Padahal, yang ditampilkan di layar sering kali hanya sebagian kecil kenyataan. Pendekatan berbasis empati dan komunitas sangat penting. Kampus tidak bisa hanya mengandalkan dosen atau tenaga profesional kesehatan jiwa. Mahasiswa harus diberdayakan untuk saling menguatkan. Budaya saling mendengar dan berbagi pengalaman bisa menjadi benteng awal untuk mencegah krisis yang lebih besar. Tidak semua masalah mental harus diselesaikan dengan terapi. Terkadang, cukup dengan ditemani dan didengarkan tanpa dihakimi.

Baca Juga: Krisis India-Pakistan, Ketegangan Militer, Diplomasi, dan Sumber Daya Alam

Editor: Ummy Syafitri

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles