
Penulis: Raja Nasrullah Fajrillah
Sejak zaman Baginda Rasulullah Saw. hingga sekarang, kepemimpinan telah menjadi poros peradaban. Kepemimpinan bukan sekadar jabatan atau kedudukan, tetapi merupakan amanah besar dari Allah Swt. Kepemimpinan dalam Islam bertumpu pada nilai-nilai spiritual dan moral. Seorang pemimpin dituntut bukan hanya cerdas dan bijaksana, tetapi juga jujur, amanah, adil, dan mampu bertanggung jawab. Dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 124, Allah berfirman:
“Sesungguhnya Aku menjadikanmu sebagai imam (pemimpin) bagi manusia.”
Baca Juga: Teknologi Melesat, Ruang untuk yang Unik Menyempit
Ayat ini menunjukkan bahwa kepemimpinan adalah karunia sekaligus ujian dari Allah. Dalam Islam, pemimpin adalah pembimbing yang menunjukkan jalan kebaikan dan bertanggung jawab terhadap seluruh umatnya.
Bila kita melihat ke bumi Pasundan, maka akan tampak sosok pemimpin dari Jawa Barat, Dedi Mulyadi, seorang tokoh yang gaya kepemimpinannya menyentuh hati rakyat kecil. Ia tidak segan turun ke jalan, bahkan memeluk orang-orang yang diabaikan oleh sistem. Pada setiap langkahnya, ia mengajarkan bahwa kebudayaan, keikhlasan, dan kearifan lokal bisa menjadi dasar yang kuat dalam membangun bangsa. Ia berbicara dengan bahasa rakyat dan mengangkat derajat mereka tanpa merasa lebih tinggi.
Bukankah ini mirip dengan apa yang dilakukan Rasulullah Saw. saat membela orang-orang tertindas di Mekkah? Saat menyapa para budak dengan penuh hormat? Saat memberi tempat bagi orang-orang yang paling tidak dianggap oleh dunia?
Keteladanan tidak lahir dari banyaknya kata-kata, melainkan dari kesetiaan pada nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi. Meski Dedi Mulyadi bukan seorang utusan Allah, namun dalam berbagai sikap dan perilakunya tampak nyata ruh kepemimpinan Islami yang menginspirasi. Dalam aspek keadilan sosial, Rasulullah Saw. dikenal sebagai pembela kaum tertindas, memerdekakan budak, dan membagikan kekayaan kepada yang berhak. Nilai ini tercermin pula dalam sosok Dedi Mulyadi yang konsisten membela warga miskin serta memberikan bantuan tanpa memandang latar belakang atau status sosial.
Kedekatan dengan umat juga menjadi salah satu nilai utama dalam kepemimpinan Rasulullah Saw., di mana beliau makan di lantai, tidur di atas tikar sederhana, bahkan tidak segan memikul barang-barang milik janda tua. Semangat inilah yang dijalankan oleh Dedi Mulyadi dalam kesehariannya, yang rela tidur di rumah rakyat kecil dan berjalan kaki menyusuri desa-desa demi mendengar langsung keluh kesah warganya.
Dalam hal mencintai budaya, Rasulullah Saw. menjaga tradisi positif dari masyarakat Arab kala itu, namun tetap terbuka terhadap perubahan selama tidak bertentangan dengan akhlak dan ajaran Islam. Sama halnya, Dedi Mulyadi sangat mencintai budaya Sunda sebagai identitas, tetapi ia tidak menutup diri terhadap kritik dan perubahan yang konstruktif.
Kepemimpinan bukanlah semata soal jabatan atau kekuasaan. Dalam pandangan Islam, setiap insan sejatinya adalah pemimpin sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” Maka, dalam rumah tangga, pekerjaan, bahkan dalam ruang hati kita sendiri, kepemimpinan itu hidup dan menuntut pertanggungjawaban.
Meneladani Rasulullah Saw. bukan hanya melalui ritual, tetapi melalui akhlak dan kepekaan sosial. Beliau menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati terlahir dari cinta yang jernih dan keadilan yang tidak pandang bulu. Ketika kita melihat sosok seperti Dedi Mulyadi, kita tidak sedang mengagungkan manusia, melainkan belajar bahwa cahaya keteladanan Rasulullah Saw. masih bisa berpendar dalam tindakan nyata. Hari ini, dalam langkah-langkah sederhananya, beliau membela yang lemah, menghormati budaya, dan merawat kemanusiaan.
Kita diajak untuk tidak takut menjadi berbeda, jika perbedaan itu berakar dari kebaikan. Kepemimpinan yang Islami bukan soal popularitas, tetapi soal keberanian menyalakan lilin di tengah kegelapan, menjadi penyejuk di tengah panasnya amarah sosial. Jadilah pemimpin yang tidak meninggikan diri, tetapi meninggikan martabat sesama. Jadilah pelita yang menuntun langkah, bukan bayang-bayang yang hanya mengikuti terang cahaya. Karena pada akhirnya, Allah tidak menilai seberapa tinggi kita berdiri, tetapi seberapa ikhlas kita berdiri untuk orang lain.
Baca Juga: Hati-Hati! Mari Waspada Terhadap Perundungan Berkedok Candaan
Editor: Aqlia Matslina Fattah

