
Medan, Dinamika Online–Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar aksi demonstrasi di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumatra Utara (Sumut) pada Selasa, 26 Agustus 2025. Aksi tersebut sempat menimbulkan kericuhan dan dijaga ketat aparat kepolisian untuk mencegah massa memaksa masuk ke gedung dewan.
Dalam aksi itu, massa membawa 12 tuntutan yang dinilai sebagai respons atas krisis demokrasi, ketidakadilan, serta carut-marut kebijakan yang meresahkan masyarakat. Beberapa tuntutan di antaranya penghapusan tunjangan mewah anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), transparansi hasil audit, pembatalan Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI), serta evaluasi kepemimpinan Gubernur Sumut.
Baca Juga: Rayakan Alam, LPM Teropong UMSU Gelar Seminar Jurnalistik Lingkungan
Koordinator lapangan, Akhmad Bukhori, mengatakan bahwa mereka ingin menuntut dua kasus korupsi, yaitu Stadion Teladan dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Center. Hal ini merupakan fasilitas publik yang melibatkan Mahasiswa USU, bahkan UMKM tersebut sudah termasuk publik, dan bagian dari Mahasiswa USU, tetapi ada kasus korupsi di dalamnya.
“Kami menuntut dua kasus korupsi, yaitu Stadion Teladan dan UMKM Center, yang mana kita ketahui bahwa UMKM ini merupakan fasilitas publik yang melibatkan Mahasiswa USU, bahkan ini diklaim bagian dari fasilitas publik untuk Mahasiswa USU. Maka kita meminta ini untuk mengusut kasus korupsi yang ada di sana,” jelasnya.
Akhmad melanjutkan, bahwa mereka meminta evaluasi kepemimpinan Gubernur Sumut, karena banyak kebijakan-kebijakan yang tidak pro terhadap rakyat, dan yang merugikan mereka adalah program lima hari sekolah.
“Kemudian kami juga meminta evaluasi kepemimpinan Gubernur Sumut, yaitu Boby Nasution karena banyak kebijakan-kebijakan yang tidak pro terhadap rakyat, dan yang menyinggung kita adalah program lima hari sekolah,” lanjutnya.
Ia juga menambahkan, bahwa nanti adanya aksi lanjutan jika mereka tidak bertemu langsung dengan pihak DPRD. Selain itu massa aksi dari USU sempat mundur untuk membuat situasi menjadi lebih kondusif.
“Nanti adanya aksi lanjutan jika kita tidak bertemu langsung dengan pihak DPRD, dan ternyata aksi ini berbenturan dengan siswa Sekolah Teknik Menengah (STM), di mana kami tidak mau berbenturan dengan yang lain. Saat ini kami sedang dipaksa mundur, langkah kami berikutnya adalah melakukan colling down dengan artian menurunkan ego masing-masing massa aksi dari USU,” tambahnya.
Sementara itu, Muhammad Ramzi, salah satu massa dalam aksi demo mengatakan bahwa tuntutan mereka yaitu bertemu dengan DPR dan mendengar aspirasi mereka, karena mereka tidak senang dengan gaji DPR yang melebihi 90 juta per bulan. Aksi ini mereka lakukan sampai mahasiswa dan rakyat menang, dan tercapai tanggapan-tanggapan yang ada di dalam kantor.
“Tuntutan kami, yaitu bertemu dengan DPR dan mereka mendengar aspirasi kami. Kami tidak senang dengan gaji DPR yang melebihi 90 juta per bulan. Aksi ini kami lakukan sampai mahasiswa dan rakyat menang dan puas dari hasil tanggapan-tanggapan yang ada di dalam kantor itu,” katanya.
Baca Juga: Creshome Ajak Generasi Muda Jelajahi Sejarah Medan Lewat Heritage Tour
Reporter: Nanggul Kumala Sauri dan Nayla Fithra
Editor: Kauria Rawia

