Addin 477: Syukur Adalah Kunci Bahagia dalam Hidup

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator: Shella Andriani)

Penulis: Nazua Fahrunisa

Di kehidupan sekarang, banyak manusia yang suka mengeluh. Merasa yang paling rapuh, paling sedih, dan paling miskin. Padahal, baru kemarin mereka merasakan tertawa di dalam kafe, sesekali tersenyum bahagia masih banyak uang di dalam kantong. Seharusnya kita sadar dan merenungi apa saja yang sudah Allah Subahanahu Wata’ala beri kepada kita. Boleh jadi, pemberian yang Allah berikan kepada kita adalah sesuatu yang mungkin diimpikan oleh orang lain.

Muhasabah diri adalah evaluasi untuk menyadarkan diri dan melakukan perbaikan  agar menjadi pribadi yang lebih baik, sehingga sadar bahwa selama ini bukan nikmat yang kurang, melainkan rasa syukur yang belum cukup. Padahal, merasa cukup itu merupakan cara bersyukur secara sederhana, menyadari di hati, diungkapkan dengan hamdallah dan buktikan dengan hal-hal yang bermanfaat, misalnya bersedekah.

Baca Juga: Addin 476: Moral dan Iman, Pilar Generasi Muda

Syukur menjadi bukti bahagia karena cukup atas segala nikmat kesehatan, rezeki, keluarga, teman bahkan kesempatan bernafas yang asalnya dari pemberian Allah Subahanahu Wata’ala. Dalam  Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 7 disebutkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat pedih.”

Ayat ini janji, tapi bukan hanya sekadar janji. Di dalamnya tersirat rumus kehidupan yang akan mengajarkan bahwa bukan hanya nikmat materi yang kita dapat. Tapi juga nikmat ketenangan, keberkahan dan kemudahan dalam menjalankan kehidupan. Begitu juga sebaliknya, ketika kita banyak tidak bersyukurnya, maka nikmat akan berkurang dan digantikan dengan azab yang sangat pedih. Oleh kerena itu, kenapa banyak manusia yang suka mengeluh, tapi tak kunjung dapat jawaban, justru banyak menguras tenaga karena emosi yang membuat badan makin lelah.

Kita sering menyadari atau mungkin masih berlaku di kita, bahwa masih banyak manusia yang sering lupa bahwa syukur itu bukan hanya senang saja. Tapi, syukur yang paling tinggi yaitu ketika kita mampu bersyukur dalam kondisi apapun, baik itu dalam keadaan sulit sekalipun.

Rasulullah salallahu.alaihi wasallam bersabda:

“Lihatlah orang yang lebih rendah darimu, dan jangan melihat orang yang lebih tinggi darimu. Agar kamu tidak meremehkan nikmat dari Allah yang telah diberikan kepadamu.” HR. Bukhari dan Muslim

Ketika bahu terasa berat, kaki sulit melangkah, hingga mata yang enggan dibuka. Cobalah lihat yang jauh di bawah, yang hidupnya lebih susah, hidupnya penuh luka, penuh cacian, apakah kita bisa tahu keadaan hatinya? Tentunya, rapuh dan sedih. Namun sedemikian, kita tetap bisa melihat cara mereka bersyukur dengan mereka yang tetap bertahan. Dari kehidupan mereka akan menyadarkan kita bahwa syukur bukan seberapa besar nikmat itu, tapi seberapa besar kita sadar bahwa nikmat itu ada.

Terkadang, sesuatu yang kita anggap baik, belum tentu baik bagi Allah. Karena Allah adalah Rabb yang tahu tentang kita, paham siapa kita, tahu seberapa mampu kita. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 286, “Allah tidak membebani hambanya melainkan dengan kesanggupan hambanya.”

Percayalah, Allah Subahanahu Wata’ala selalu memberi hal-hal yang indah untuk kita, meski datang terlambat tapi di hari yang tepat, mungkin tidak hari ini tapi di hari yang lainnya. Semakin sering berpikir yang baik, semakin banyak bersyukur, semakin banyak hal-hal indah yang menghampiri, bukankah begitu ?

Cara sederhana yang bisa membuat kita selalu bersyukur setiap harinya; Pertama, Memperbanyak do’a setiap harinya. Mengingat Allah dengan doa dan zikir, karena tidak ada ayat pemeberitahuan yang Allah sampaikan bahwasanya doa dan zikir harus dibatasi. Berdoa memohon ampun setiap hari adalah cara evaluasi diri untuk menjadi pribadi yang baik dan lapang untuk bersyukur. Allah akan senantiasa dekat dengan kita, yang selalu ingat dengan-Nya.

Kedua, kurangi kata-kata buruk, misalnya ketika tubuh sudah kerja seharian, sudah belajar seharian hingga datang rasa capek. Secara sengaja kita sering bilang, “capek kerja,” ada yang kuliah, “capek kuliah.” Harusnya kata-kata itu bisa kita ganti dengan kata yang membuat hati senang, tanpa ada beban, seperti “alhamdulillah, masih diberi kesepatan kerja, ya.” Pasti rasanya hati lebih legowo menerimanya.

Ketiga, ucapan terima kasih pada hal-hal kecil yang sudah dilalui. Hadiah kecil, tapi indah yang harusnya tidak perlu biaya untuk mengeluarkannya adalah apresiasi pada diri sendiri, beri semangat pada diri sendiri, “terima kasih diriku untuk hari ini. Selalu kuat, semangat dan selalu bersyukur, ya.” Meskipun sederhana, tapi ketika sudah terucapkan, semuanya akan terasa tenang.

Keempat, refleksi sebelum tidur untuk mengingat, hal apa yang harus kita pertahankan di hari ini dan hal apa yang akan kita lakukan untuk hari esok. Sehingga diri hari ini harus lebih baik di hari esok. Artinya, prinsip ini bukan sekadar motivasi untuk kita, melainkan konsep untuk meningkatkan kualitas hidup dan kunci untuk membangun kebiasaan yang baik.

Jangan kelamaan menunggu, mulailah belajar bersyukur sekarang, bahkan ketika hidup belum sempurna, karena yang sempurna itu tidak ada. Bahagia itu bukan semua keinginan kita tercapai, tapi ketika lisan bisa berkata dengan sederhana, “Apa yang aku miliki sudah lebih dari cukup.” Karena bisa jadi kesederhanaan itu, Allah sembunyikan menjadi kebahagian yang selamanya. Dengan demikian, kita harus menjadi orang yang mendapatkan nikmat itu dengan cara bersyukur dalam kondisi apapun. Barakallah fii kum.

Baca Juga: Addin 475: Kesalehan Sosial di Era Digital: Sukai dan Bagikan atau Amal

Bio Data Penulis

Nama               : Nazua Fahrunisa

Jurusan : Komunikasi dan Penyiaran Islam

Fakultas           : Dakwah dan Komunikasi

Semester          : III

Instagram         : @nazuafahrunisa_

Editor: Ranum Aisyah

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles