Menelusuri Jalanan Panjang, Catatan Nurani Mahasiswa di Aceh Tamiang

- Advertisement - Pfrasa_F

Aksi kemanusiaan sering kali tidak diawali dengan kemewahan rencana, melainkan dengan panggilan nurani. Ketika bencana datang, jarak dan keterbatasan bukan lagi alasan untuk berpaling. Ada suara sunyi yang mengetuk kesadaran, menggerakkan langkah untuk hadir di tengah mereka yang kehilangan. Dari ruang diskusi sederhana hingga pengumpulan donasi seadanya, semangat itu tumbuh di antara mahasiswa yang percaya bahwa kepedulian tidak menunggu usia atau jabatan.

Perjalanan ini dimulai pada Minggu pagi, 14 Desember 2025. Dengan mobil berisi bantuan dan tekad yang tak kalah besar, mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UIN Sumatera Utara Stambuk 23 berangkat menuju Aceh Tamiang. Tujuan kami bukan wisata, melainkan datang ke sebuah dusun yang sedang berjuang bertahan setelah diterjang banjir. Jalanan yang dilalui tak selalu ramah. Beberapa akses terputus, tanah licin masih menyisakan bekas amukan air. Namun, langkah kami tak surut, hingga selama lima jam perjalan menuju titik posko, kami disapa oleh warga lintas usia yang berderet meminta bantuan kepada relawan yang lewat.

Baca Juga: Di Bawah Terik, di Antara Hidup: Sepenggal Kisah Ibu Lasmianti

Tawa dan senyum mereka tidak sepenuhnya menggambarkan isi hati mereka, mungkin itu bentuk semangat untuk jiwa yang tengah berduka. Duka itu tergambar dari pakaian yang mereka kenakan–penuh lumpur. Sesekali kami tertawa di balik jendela mobil, melihat sosok pemuda yang mengenakan pakaian perempuan. Namun, di balik perilaku menghibur itu juga merupakan bentuk harapan kepada relawan agar memperbanyak pakaian yang sesuai dengan jenis kelaminnya. Setelah kurang lebih satu jam dari Kota Tamiang, akhirnya kami tiba di Desa Simpang Empat Upah, Dusun Kramat–sebuah wilayah yang belum sepenuhnya tersentuh bantuan.

Bagi penulis, perjalanan ini bukan sekadar menyalurkan donasi, tetapi juga perjalanan batin. Rasa lelah di jalan terbayar saat melihat langsung kondisi masyarakat yang bertahan dengan keterbatasan, wajah-wajah lelah yang menyimpan harap. Pelukan hangat dari relawan pun menjadi obat bagi warga. Di balik bencana, warga masih berjuang melanjutkan hidup dengan sumber daya yang sangat terbatas. Salah satunya Chaidir Azhar, warga Dusun Kramat, yang mengungkapkan bahwa bantuan pemerintah belum merata hingga ke wilayah mereka. “Bantuan pemerintah ada, tetapi belum maksimal dan belum sampai ke dusun ini. Masyarakat justru lebih banyak terbantu dari pihak luar (relawan),” katanya.

Menurut Chaidir, situasi di dusun tersebut masih mencekam. Ketersediaan makanan menjadi persoalan utama, dan tidak sedikit warga yang harus menahan lapar. Ia berharap pemerintah daerah segera mendirikan dapur umum agar kebutuhan dasar warga dapat terpenuhi. “Kehidupan masyarakat sangat mencekam, banyak yang masih kelaparan. Kami berharap ada dapur umum di setiap dusun,” tambahnya.

Perjalanan mahasiswa KPI Stambuk 23 ke Aceh Tamiang bukan perjalanan yang mudah. Namun, dari lumpur, jalan rusak, dan keterbatasan, kami menemukan makna lain dari petualangan: keberanian untuk peduli. Di tengah bencana, langkah kecil kami menjadi jejak kemanusiaan–bahwa menolong sesama kadang memang harus diawali dengan berani melangkah, meski jalan tak selalu bersahabat.

Di titik ini, tidak ada jarak antara relawan dan warga, hanya ada rasa saling memahami yang lahir dari tatapan dan cerita. Dusun Kramat menjadi saksi bahwa bencana tidak hanya merusak rumah dan jalan, tetapi juga mengguncang rasa aman dan keberlanjutan hidup masyarakatnya.

Perjalanan ini mungkin akan usai ketika mobil kembali melaju meninggalkan dusun, tetapi cerita dan wajah-wajah yang kami temui akan tinggal lebih lama di ingatan. Dari Aceh Tamiang kami belajar bahwa kemanusiaan tidak selalu hadir dalam jumlah besar, melainkan dalam ketulusan untuk datang, mendengar, dan berbagi–meski hanya sebentar, tetapi dengan hati yang sepenuh-penuhnya.

Baca Juga: Huta Siallagan, Museum Hidup Batak Toba yang Perlu Dilestarikan

Reporter: Afriana Alawiah. AR

Editor: Fadillah Hanum

- Advertisement -

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles