
Penulis: Putri Rizky Handayani
Di pinggir jalan yang panasnya sering melebihi batas wajar, ada satu gerobak kecil yang selalu setia berdiri. Di sanalah Ibu Lasmianti, 48 tahun, menata lotek dan soto padang buatannya dengan tangan yang tak lagi sekuat dulu. Ia bukan siapa-siapa bagi banyak orang yang berlalu-lalang di depan Masjid Agung Pekanbaru, tetapi bagi anak, cucu, dan suaminya yang kini tertimpa penyakit strok, ia adalah napas hidup.
Perempuan tangguh ini berasal dari Sumatra Barat, tetapi masa mudanya dijalani di Solok. Jodohnya menuntunnya ke Pekanbaru, kota yang awalnya hanya persinggahan kerja. Namun, kemudian menjadi pelabuhan hidup. Dari seorang teman asal Jawa, ia belajar membuat lotek, yaitu makanan sederhana berbumbu kacang, penuh rasa dan kasih. Dengan racikan tangan sendiri pula ia membawa soto padang berkuah bening yang jadi pengobat rindu bagi para perantau Minang.
Baca Juga: Huta Siallagan, Museum Hidup Batak Toba yang Perlu Dilestarikan
Sudah sembilan tahun ia mengais rezeki di pinggir jalan, menantang panas Pekanbaru yang menyengat hingga pori-pori. “Aku lihat orang jualan, entah kenapa hati ini langsung bilang ‘aku juga bisa’”, ucapnya pelan, tatapannya menembus lalu lintas di hadapannya. Ketika razia tiba, ia dan pedagang lain berhamburan seperti burung-burung dikejar angin ribut. Lari ke bawah jalan, menahan napas, menanti semuanya berlalu. Meja dagangan dan gerobak kadang disita, dan untuk menebusnya, ia harus merogoh uang dua puluh ribu rupiah, uang yang seharusnya bisa untuk membeli beras.
Namun, Lasmianti tak pernah benar-benar menyerah. Ia tetap kembali, tetap menyusun bahan masakannya, karena hidup harus terus dijalani. Di belakangnya, rumah sakit daerah menjulang, orang-orang dari kota besar seperti Jakarta pun datang mencari kesembuhan. Di depannya, Masjid Agung berdiri megah, dengan pengunjung yang datang dari berbagai penjuru. Di samping kirinya, berdiri megah gereja yang tak pernah sepi kegiatan, menampung doa dari jemaah yang selalu datang setiap hari. Di sanalah ia menjual, bukan hanya makanan, tetapi juga harapan.
Dahulu, suaminya duduk di sampingnya, membantu melayani pembeli. Akan tetapi, kini tubuh itu tak sekuat dulu. Strok merenggut kekuatan laki-laki yang dulu menjadi tulangnya. Kini, cucunya yang kecil ikut menemaninya, mengisi ruang kosong yang ditinggalkan waktu dan penyakit.
“Gak sanggup lagilah, Dek, bolak-balik bawa gerobak, cepat capek sekarang,” ujarnya pelan sembari memakai celemek lusuh dengan banyak noda kacang yang digiling. Ia tak lagi muda, tetapi jiwanya masih berdiri tegak seperti gerobaknya yang dirantai di pinggir jalan. Tak ada ketakutan kehilangan, karena selama sembilan tahun ini, lapak itu tetap aman. Tidak ada preman, tidak ada rebutan lapak, tidak ada pencuri. Gerobaknya hanya dirantai dan dibiarkan di sana semalaman. Seolah semesta menghormati perjuangannya, menjaga dagangannya dari tangan-tangan jahat.
Lotek dan soto Padang mungkin hanya menu sederhana bagi sebagian orang. Akan tetapi, bagi Lasmianti, itu adalah hidupnya. Itu adalah tangis dan tawanya yang dikumpulkan setiap hari di pinggir jalan. Di setiap piring yang ia hidangkan, ada lelah yang ia telan, dan doa yang ia sematkan.
Dan hari ini, seperti hari-hari sebelumnya, meski peluh membasahi wajahnya dan sendi-sendinya kian rapuh, ia tetap berdiri. Karena ia tahu, tak ada pilihan lain selain terus melangkah. Di tengah panas kota dan riuh suara kendaraan, Lasmianti berdagang. Bukan sekadar mencari rezeki, tetapi menjaga martabat hidup di tengah dunia yang terus berjalan walaupun meski kadang tak sempat menoleh pada mereka yang hanya ingin tetap bertahan.
Baca Juga: Kota dengan Seribu Macam Julukan, Kebudayaan yang Tercipta kian Menggelora
Editor: Kauria Rawia

