
Sudah jadi adatnya manusia, hidup berdampingan dengan banyak perbedaan dengan lingkungan sekitar. Terlebih Indonesia, yang memegang teguh prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Setiap kita pasti memiliki perbedaan, tetapi kita tetap satu. Hal tersebut mengajarkan kita betapa pentingnya toleransi. Banyak hal yang akan terjadi, jikalau tidak menumbuhkan sikap toleransi pada masyarakat sekitar.
Kota Medan yang sering disebut sebagai miniatur Indonesia, karena keragaman suku, agama, budaya, dan adat istiadat di dalamnya, seakan mewakili kondisi Indonesia yang penuh keberagaman.
Baca Juga: Inovasi Baru, LPM Dinamika UIN SU Lakukan Kolaborasi dengan Medan Book Party
Adat dan budaya yang masih melekat tampaknya menjadi satu ciri khas Medan yang dirindukan para perantau. Nuansa Melayu Deli yang terekspos pun, turut menjadi daya tarik wisatawan untuk menapaki kaki di kota ini. Meski banyak stigma negatif akan kota ini, tetapi kearifan budaya terus berjalan, meski era kian bertransformasi.
Satu tradisi Melayu Deli yang sampai saat ini dilakukan adalah makan nasi hadap-hadapan. Tradisi ini dilakukan di tengah prosesi pernikahan dan dilakukan oleh kedua mempelai, juga keluarga mempelai pria dan wanita. Biasanya, prosesi ini diadakan setelah akad, saat tamu undangan belum banyak yang berhadir dan masih disaksikan oleh keluarga kedua mempelai.
Kedua keluarga mempelai duduk berhadap-hadapan membentuk persegi panjang. Namun uniknya, keluarga yang membersamai kedua mempelai, dominan kaum ibu-ibu atau wanita yang sudah melepas masa lajang. Sedangkan para bapak-bapak atau kaum pria lainnya, jarang terlihat saat prosesi tersebut.
Hal itu berkaitan dengan peran dan fungsi adat yang menempatkan prosesi sebagai ruang khusus perempuan untuk mempererat silaturahmi dan menyambung komunikasi secara lebih intim dan terfokus. Zul Irfan, salah seorang yang bersuku Melayu Deli turut menjelaskan hal unik tersebut.
“Tradisi makan nasi hadap-hadapan hanya ada mempelai pria dan wanita, disaksikan oleh kedua keluarga pengantin. Namun, yang biasanya duduk di barisan hanya ibu-ibu yang sudah menikah. Konon katanya, kalau anak gadis ikut duduk, nanti malah jadi perawan tua. Jadi selain ibu-ibu yang sudah menikah, keluarga yang lain hanya melihat dari kejauhan,” jelas Zul.
Sebagian masyarakat Melayu Deli mempercayai hal tersebut, tetapi sebagian lagi mengatakan tidak apa-apa jikalau kaum pria, bahkan wanita yang belum menikah ikut melihat prosesi tersebut. Namun kebanyakan, memang kaum ibu-ibu yang menyaksikan khidmat tradisi nasi hadap-hadapan tersebut.
Diiringi dengan berbagai rangkaian, di antaranya pantun khusus yang sarat makna, serta mustika terpendam. Terlihat rumit memang, tetapi saat menyaksikan prosesi tersebut, justru menjadi satu hal memikat.
Mak Inang sebagai pemimpin acara akan membacakan pantun-pantun nasihat untuk pasangan pengantin. Setelah itu, pengantin pria dan wanita diminta untuk mencabut bunga-bunga yang ditancapkan di atas tumpukan nasi. Dalam tradisi ini, bunga yang ditancapkan di atas tumpukan nasi bukanlah bunga yang biasanya ditemui, tetapi itu adalah beragam kue, juga makanan lain yang dibentuk serupa dengan bunga. Kedua mempelai berebut mengambil setiap tangkai bunga yang tertanam.
Selanjutnya, kedua mempelai menjalankan ritual Mustika Terpendam. Ritual ini mengharuskan pasangan tersebut untuk mencari ayam panggang di butiran nasi lemak yang mengubur ayam panggangnya. Setelah dapat, kedua mempelai harus mengangkat dan menarik ayam tersebut bersama-sama. Terakhir, kedua mempelai diharuskan untuk saling suap nasi. Khairina, seorang gadis Melayu Deli yang sering menyaksikan tradisi ini juga memberikan penjelasannya terkait ritual Mustika Terpendam.
“Menurut kepercayaan suku Melayu Deli, apabila pengantin pria mendapatkan bagian kepala ayam, ia akan dianggap sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab. Sedangkan, jika pengantin wanita mendapatkan bagian paha ayam, ia dianggap akan menjadi ibu dan memiliki keturunan,” jelas Rina melalui pesan WhatsApp.
Setelah rangkaian selesai, keluarga pasangan pengantin diperbolehkan untuk turut mengambil dan memakan bunga, kue, hingga nasi yang tersedia di prosesi nasi hadap-hadapan. Ritual tersebut dilambangkan dengan sepasang insan asing yang telah menjalin rumah tangga dan harus saling bekerja sama untuk membina satu bangunan yang kokoh.
Satu tradisi yang masih dilestarikan oleh masyarakat suku Melayu Deli tersebut merupakan bukti generasi muda harus mencintai dan turut menghargai harta warisan yang telah dititipkan. Budaya nusantara merupakan identitas nasional Indonesia yang mencerminkan cipta, karya, dan karsa bangsa serta tidak dimiliki oleh semua negara di belahan bumi. Dititipkan Tuhan kepada tangan-tangan yang dimampukan, hingga menjadi satu kekayaan yang tak ternilai harganya.
Baca Juga: Dari Kapur ke Klik, Cerita Pengajar dan Pelajar di Era Globalisasi
Reporter: Fadillah Hanum
Editor: Aqlia Matslina Fattah

