Dari Kapur ke Klik, Cerita Pengajar dan Pelajar di Era Globalisasi

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Istimewa)

Di ruang kelas yang kini tak lagi dipenuhi oleh debu kapur, Khairina duduk di depan laptopnya dengan tatapan hangat. Di layar, terpampang wajah-wajah siswa-siswinya yang antusias menjawab kuis digital. Sebagai guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMP Muhammadiyah 16 Lubuk Pakam, perempuan muda ini mengakui bahwa perubahan dunia pendidikan dari yang serba manual ke digital merupakan perjalanan panjang yang menakjubkan.

“Dulu semua serba buku dan kapur, sekarang cukup sentuh layar saja sudah bisa dapat banyak ilmu,” ujarnya. Bagi Khairina, dunia pendidikan kini menjadi lebih luas dan dinamis, meski di sisi lain tantangan pun semakin besar.

Baca Juga: Kreatifest 2025: Desa Kutambelin Menyatu dalam Semangat Kemerdekaan

Sebagai guru muda, ia harus terus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat. “Kadang belum sempat paham satu hal, sudah muncul hal baru lagi. Namun, kalau mau maju, harus mau belajar tanpa henti,” tambahnya.

Meski teknologi telah banyak membantu, Khairina menilai bahwa hubungan antara guru dan siswa kini memiliki dua sisi. “Teknologi bisa jadi jembatan sekaligus tembok. Kalau dipakai dengan hati, bisa bikin hubungan makin dekat–tetapi kalau terlalu kaku, justru terasa jauh dan dingin,” ungkapnya.

Untuk menjaga semangat belajar siswa, Khairina memiliki cara tersendiri. Ia sering mengajak siswa bermain kuis, menonton video singkat, atau membuat proyek kecil bersama. “Belajar ngga harus selalu serius, yang penting mereka tetap tertarik dan bahagia,” katanya.

Ia pun memanfaatkan berbagai platform digital, mulai dari Google Site, yakni media pembelajaran yang dulu ia kembangkan untuk tugas akhirnya, hingga aplikasi kuis dan video pendek yang disisipi pesan edukatif. “Anak zaman sekarang lebih dekat sama dunia digital, jadi saya coba masuk lewat pintu yang mereka suka,” ujarnya.

Namun, di balik semangat itu, Khairina tetap berpegang pada nilai-nilai klasik dalam mendidik. “Mesin bisa mengajarkan logika, tetapi hanya guru yang bisa menanamkan rasa dan nilai. Guru itu bukan hanya pengajar, tetapi juga penerang hati,” tuturnya penuh makna.

Menurutnya, menjadi guru di era globalisasi bukan hanya soal menguasai teknologi, tetapi juga tentang memahami karakter generasi digital. “Sekarang anak-anak lebih kritis, mereka bisa tanya apa saja. Kadang jawabannya bahkan sudah mereka temukan terlebih dahulu lewat internet. Tugas guru sekarang bukan lagi satu-satunya sumber ilmu, tetapi pembimbing dalam memilah mana yang benar dan bermanfaat,” katanya.

Perubahan ini menuntut guru untuk lebih kreatif, tidak hanya dalam menyampaikan materi, tetapi juga dalam membangun kedekatan emosional. Khairina menuturkan, banyak guru muda yang kini berusaha membuat pembelajaran terasa lebih hidup dengan memadukan unsur visual dan interaktif. “Kalau dulu guru bicara, murid mendengar. Sekarang, dua-duanya harus aktif. Guru dan murid belajar bareng,” ujarnya.

Bagi sebagian siswa, perubahan dari “kapur ke klik” memang terasa nyata. Inayah Arthata Trihapsari, Siswi Kelas X di MAN Pematang Siantar, mengaku bahwa belajar di era digital membuat segalanya lebih mudah dan cepat. “Banyak hal bisa aku cari sendiri lewat internet. Akan tetapi, tantangannya itu harus bisa atur waktu dan fokus di tengah banyak gangguan dari gawai,” ceritanya.

Menurut Inayah, pembelajaran digital terasa lebih modern, tetapi kadang kehilangan sentuhan hangat seperti diskusi tatap muka di kelas. “Sekarang guru sering pakai video dan presentasi. Seru, sih, tetapi interaksinya kadang kurang hangat,” tambahnya.

Hal serupa diungkapkan oleh temannya, Khalisah Syifa Iwani, Siswi Kelas X di sekolah yang sama. Ia merasa belajar di era digital seperti campuran antara kemudahan dan kejenuhan. “Enaknya bisa belajar dari rumah dan ngga harus bawa banyak buku, tetapi capek juga lihat layar terus,” ujarnya.

Khalisah menyukai pembelajaran yang melibatkan visual dan interaksi. “Kalau hanya mengirim file PDF panjang kadang malas baca, tetapi kalau ada video atau kuis interaktif jadi lebih semangat,” katanya. Ia mengaku sering terganggu oleh notifikasi media sosial saat belajar. “Niatnya mau lihat sebentar, tahu-tahu malah scroll lama,” katanya jujur.

Meski demikian, baik Inayah maupun Khalisah sepakat bahwa peran guru tetap tak tergantikan. “Yang bikin semangat belajar itu bukan aplikasinya, tetapi cara guru menyampaikan materi,” ujar Khalisah mantap.

Bagi mereka, guru yang bisa beradaptasi dan memahami dunia siswa adalah sosok yang menginspirasi. Inayah bahkan berharap lebih banyak guru yang mau memanfaatkan teknologi secara kreatif tanpa meninggalkan kehangatan interaksi. “Kalau bisa, tetap ada kegiatan langsung juga. Belajar bareng itu lebih berkesan,” katanya.

Khairina sendiri menyadari hal itu. Ia kerap menutup laptopnya sejenak hanya untuk mendengarkan cerita siswanya. “Kadang perhatian kecil lebih berarti daripada slide panjang,” ujarnya. Bagi Khairina, teknologi hanyalah alat, sementara inti pendidikan tetap berada pada hati dan empati seorang guru.

“Guru harus jadi teladan, bukan hanya di depan layar, tetapi juga di baliknya,” katanya tegas. Ia menambahkan bahwa kecerdasan buatan, aplikasi, dan sistem pembelajaran daring memang mempermudah proses belajar, tetapi tetap tak bisa menggantikan sentuhan manusia.

“Pendidikan itu bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter. Anak-anak butuh dirangkul, bukan sekadar diajar,” tutur Khairina.

Melalui perjalanannya, Khairina belajar bahwa menjadi guru muda di era globalisasi berarti menjadi pembelajar seumur hidup. Ia tidak hanya mengajarkan, tetapi juga terus belajar dari siswanya sendiri. “Mereka punya semangat dan cara pandang baru. Tugas kita sebagai guru adalah menjembatani, bukan menghakimi,” ujarnya.

Kini, setiap kali menatap layar laptopnya, Khairina tak sekadar melihat angka absen atau hasil kuis digital. Ia melihat masa depan pendidikan yang terus berkembang, tempat di mana kapur dan klik bisa berjalan berdampingan.

“Teknologi bisa mencerdaskan pikiran, tetapi hanya hati yang bisa menumbuhkan manusia seutuhnya,” katanya.

Sebagai guru muda yang tumbuh di tengah arus globalisasi, Khairina menyimpan satu harapan besar bagi dunia pendidikan.

“Harapannya, semoga pendidikan Indonesia terus berkembang tanpa kehilangan jati dirinya. Makin modern boleh, tetapi semoga tetap berakar pada nilai, kasih, dan ketulusan. Oleh karena itu, teknologi memang penting, tetapi yang membuat pendidikan bermakna adalah sentuhan hati di setiap proses belajar,” harapnya.

Baca Juga: Uluran Pelayanan Kelompok Rentan, Potret Pendampingan Kesehatan di Sumatra Utara

Reporter: Hadist Sulistiawati

Editor: Fadillah Hanum

 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles