
Penulis: Muhammad Satria
Aku menatap tulisan itu tanpa berkedip.
“Dia akan datang dari dunia manusia.”
Entah kenapa dadaku terasa sesak setelah membacanya. Tulisan itu seperti ingin menjelaskan sesuatu kepadaku, tetapi aku tidak mengetahui apa itu.
“Alyumi …” panggilku pelan. “Menurutmu, tulisan ini maksudnya apa?”
Alyumi tampak gelisah. Telinganya bergerak pelan, sementara matanya terus menatap tulisan itu.
Baca Juga: Aku, yang Tidak Pernah Cukup (Bagian 2)
“Aku pernah mendengar tentang ramalan ini waktu kecil,” katanya pelan. “Tetapi, kupikir itu cuma dongeng kerajaan.”
“Ramalan?” tanyaku.
Sebelum Alyumi sempat menjawab, Hendra berjalan mendekati papan tulisan itu. Tatapannya terlihat serius.
“Itu bukan dongeng,” katanya pelan. “Ramalan itu sudah ada jauh sebelum kerajaan ini berdiri.”
Aku menoleh ke arahnya.
“Jadi … siapa yang dimaksud manusia dalam tulisan itu?”
Hendra tidak langsung menjawab. Ia justru memperhatikan wajahku lama sekali hingga membuatku tidak nyaman.
“Entahlah, tidak ada yang tahu,” jawabnya sembari membelakangiku. “Tetapi, sejak kau datang ke dunia ini, segalanya mulai berubah.”
Belum sempat aku bertanya lagi, tiba-tiba suara tongkat terdengar dari ujung lorong.
Tek … tek … tek …
Suara itu menggema pelan di sepanjang lorong istana yang sunyi. Kami bertiga langsung menoleh bersamaan.
Dari ujung lorong tampak seekor kucing tua berjalan perlahan mendekati kami. Bulunya abu-abu pucat, sementara matanya berwarna biru terang seperti cahaya bulan. Ia mengenakan jubah panjang penuh simbol aneh berwarna emas. Para pelayan yang melihatnya langsung menundukkan kepala tanpa berani menatap wajahnya.
“Astaga …” bisik Alyumi pelan.
“Siapa dia?” tanyaku.
Hendra menghela napas kecil.
“Itu Omak, peramal kerajaan,” katanya.
Kucing tua bernama Omak itu berhenti tepat di depanku. Ia mengamatiku lama tanpa bicara sedikit pun. Tatapannya tajam, seolah bisa melihat isi pikiranku. Aku mulai merasa tidak nyaman. Namun, beberapa detik kemudian, Omak tersenyum kecil ke arahku.
“Jadi, akhirnya kau datang juga,” katanya pelan.
Aku mengernyit bingung.
“Kita pernah bertemu?”
“Belum,” jawab Omak. “Tetapi, aku sudah melihatmu sejak lama.”
Aku terdiam.
“Apa maksudnya?” ucapku dalam hati.
Omak mengangkat tongkat kayunya perlahan, lalu menunjuk ke arah lukisan raja bermata emas tadi.
“Ramalan itu berbicara tentang seseorang dari dunia manusia yang akan membuka kembali gerbang lama.”
“Gerbang?” tanyaku.
“Gerbang antara dunia manusia dan dunia kucing,” jawab Omak pelan.
Jantungku langsung berdegup lebih cepat.
“Aku tidak mengerti …”
Omak melangkah mendekat hingga wajahnya sangat dekat denganku.
“Karena ingatanmu belum bangkit.”
Mendengar itu, aku langsung mundur satu langkah.
“Ingatan?”
Belum sempat Omak menjelaskan lebih jauh, tiba-tiba seluruh lorong bergetar keras.
DUAR!
Suara ledakan besar mengguncang seluruh isi istana. Lampu-lampu gantung bergoyang hebat hingga hampir jatuh, sementara debu berjatuhan dari langit-langit istana. Para pelayan langsung berteriak panik dan berlarian keluar lorong.
“Apa itu!” teriakku sambil menahan tubuh agar tidak jatuh.
Alyumi terlihat waspada. Telinganya bergerak gelisah saat ia menatap ke arah lorong timur istana. Hendra yang sejak tadi tenang mendadak berubah serius.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki berlari mendekat. Seorang penjaga kerajaan muncul dari ujung lorong dengan napas terengah-engah. Zirahnya dipenuhi debu hitam dan salah satu lengannya tampak terluka.
“Tuan Hendra!” teriaknya panik. “Menara timur diserang!”
Suasana langsung menjadi hening.
Hendra berjalan mendekati penjaga itu dengan tatapan tajam.
“Siapa pelakunya?”
Penjaga itu tampak ketakutan. Tangannya gemetar saat memegang tombak.
“Kami … kami tidak melihat jelas.”
Ia menelan ludah sebelum melanjutkan ucapannya.
“Tiba-tiba muncul asap hitam di sekitar menara. Beberapa penjaga terpental saat mencoba mendekat.”
Aku merasakan bulu kudukku berdiri mendengar penjelasannya.
Penjaga itu menundukkan kepala dengan wajah pucat, kemudian berkata,
“Penyerangnya seekor kucing hitam bermata emas.”
Baca Juga: Dunia Kucing (Bagian 4)
Editor: Naqiyya Alayya Arham Rambe

