Aku, yang Tidak Pernah Cukup (Bagian 2)

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. https://id.pngtree.com/)

Penulis: Riska Nurasnida Siregar

Ayura tidak langsung membalas pesan tersebut. Dia hanya diam, memperhatikan layar gawainya cukup lama untuk memastikan bahwa dia tidak salah baca. Kalimatnya sederhana, tetapi entah kenapa berhasil membuat pikirannya menjadi berisik.

“Tadi buru-buru banget perginya.”

Tidak ada nama. Tidak ada penjelasan siapa pengirimnya.

Baca Juga: Dunia Kucing (Bagian 4)

Ayura akhirnya mengunci layar ponselnya, lalu memasukkannya ke dalam tas. Dia mencoba kembali fokus pada dosen yang sedang menjelaskan di depan kelas, meskipun pertanyaan-pertanyaan kecil mulai bermunculan di kepalanya. Dia bingung, dari mana orang itu mendapatkan nomornya? Ataukah dia hanya orang iseng yang kebetulan mengirim pesan? Atau mungkin seseorang yang diam-diam memperhatikannya selama ini?

Setelah kelas selesai, suasana kampus seperti biasa. Mahasiswa langsung bubar, sebagian masih berkumpul dan berbincang di dalam kelas. Ayura memilih pergi lebih dulu sebelum suasana makin ramai.

Lorong kampus siang itu dipenuhi suara langkah kaki dan obrolan mahasiswa. Ayura berjalan santai tanpa benar-benar memperhatikan sekitar. Pikirannya masih tertuju pada pesan yang baru diterimanya tadi.

Saat menuruni tangga, langkahnya sedikit melambat.

Di ujung lorong, dia melihat seorang laki-laki sedang bersandar pada tembok. Mengenakan jaket hitam, dengan ekspresi santai dan wajah yang tampak datar.

Naufal Arshaka.

Seolah sudah tahu dia akan melewati lorong itu.

Ayura sempat ragu untuk mendekat. Namun, sebelum dia sempat berbalik arah, Naufal lebih dulu menyadari kehadirannya.

“Lama juga,” kata Naufal santai, seakan mereka sudah saling mengenal cukup lama.

Ayura mengernyit. “Kamu yang kirim pesan itu?”

Naufal tidak langsung menjawab. Dia hanya melirik Ayura sekilas, lalu mengangkat bahu.

“Harusnya lo bisa nebak, sih.”

Jawaban yang tidak benar-benar menjawab.

Ayura menarik napas pelan.

“Dapat nomor aku dari mana?”

Kali ini Naufal tidak menghindar.

“Gampang,” katanya singkat. “Nggak susah nyari sesuatu yang emang pengin gue tahu.”

Kalimat itu terdengar santai, bahkan terlalu santai menurut Ayura.

Dia tidak langsung merespons. Ada rasa tidak nyaman yang mulai muncul, tetapi dia sendiri tidak tahu harus berkata apa. Sementara itu, Naufal berdiri tegak lalu melangkah mendekatinya beberapa langkah.

“Lo selalu secepat itu ya kalau pergi?” tanya Naufal.

“Aku nggak punya alasan buat lama-lama di sini,” jawab Ayura ketus.

Naufal hanya mengangguk pelan, entah benar-benar memahami maksudnya atau hanya berpura-pura mengerti.

Kemudian hening.

“Ayura,” panggilnya pelan.

Ayura menoleh.

“Lo emang selalu kayak gitu, ya?”

“Gimana maksudnya?”

Naufal tidak langsung menjawab. Tatapannya berubah sedikit lebih serius.

“Menyimpan semuanya sendiri.”

Ayura langsung terdiam.

Kalimat itu tepat mengenai sesuatu yang selama ini berusaha dia sembunyikan. Dan entah kenapa, itu justru membuatnya makin tidak nyaman.

“Bukan urusan kamu,” jawab Ayura akhirnya. Suaranya tidak tinggi, tetapi terdengar tegas.

Naufal tidak tampak marah ataupun tersinggung. Dia malah tersenyum tipis, seperti baru menemukan sesuatu yang menarik.

“Iya,” katanya pelan. “Belum jadi urusan gue.”

Ayura tidak ingin berlama-lama di sana. Dia langsung melangkah melewati Naufal tanpa menoleh lagi.

Namun, ketika jaraknya makin jauh, dia menyadari satu hal.

Pertemuan tadi jelas bukan kebetulan. Seolah semuanya sudah direncanakan.

Sebenarnya, ini bukan kali pertama Ayura merasakan hal seperti itu. Namun, dia tetap berusaha untuk tidak berpikir terlalu jauh.

Saat berada di luar gedung, langit sudah mulai mendung.

Ayura berhenti sejenak di halaman kampus, mencoba menenangkan pikirannya yang terasa makin kacau. Namun, makin dipikirkan, semuanya justru terasa makin aneh.

Tiba-tiba ponselnya kembali bergetar.

Satu pesan masuk.

“Lo nggak bakal bisa pura-pura nggak kenal gue terus, Yura.”

Ayura langsung kaku.

Jarinya terdiam di atas layar ponsel.

Untuk pertama kalinya, rasa tidak nyaman itu berubah menjadi sesuatu yang lebih mengganggu. Bukan sekadar risih, melainkan takut perasaan yang perlahan merambat tanpa bisa dia hentikan.

Bersambung …

Baca Juga: Cinta yang Terkubur di Balik Dinding Tua

Editor: Naqiyya Alayya Arham Rambe

 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles