Di Balik Tagar “Menuju Indonesia Bangkrut”

- Advertisement - Pfrasa_F

(Foto: Dok. https://www.tempo.co/)

Penulis: Muhammad Daffa

Halo, Sobat Kampus! Mahasiswa kembali turun ke jalan. Melalui seruan aksi bertajuk “Menuju Indonesia Bangkrut” yang diinisiasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI), mengajak masyarakat untuk bersama-sama menyuarakan keresahan terhadap berbagai persoalan yang dinilai makin membebani kehidupan rakyat.

Aksi yang digelar pada 12 Juni 2026 di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) itu langsung menjadi perhatian publik, baik karena tema yang diangkat maupun tuntutan yang dibawa. Namun, di balik spanduk, poster, dan orasi yang disampaikan, ada satu pertanyaan yang patut direnungkan bersama, mengapa mahasiswa merasa perlu kembali turun ke jalan?

Baca Juga: 5 Film Romcom 2000-an yang Cocok Jadi Pelepas Penat Mahasiswa!

Istilah “Indonesia Bangkrut” memang terdengar keras. Sebagian orang mungkin menganggapnya terlalu berlebihan. Namun jika dilihat lebih jauh, istilah tersebut tampaknya bukan dimaksudkan untuk menggambarkan kondisi negara yang benar-benar bangkrut secara ekonomi. Frasa tersebut lebih tepatnya sebagai ungkapan kegelisahan terhadap berbagai persoalan yang dirasakan masyarakat belakangan ini.

Dalam beberapa bulan terakhir, masyarakat dihadapkan pada berbagai tekanan ekonomi. Harga kebutuhan pokok mengalami kenaikan, biaya hidup makin tinggi, dan daya beli masyarakat terus menjadi sorotan. Belum lama ini, harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax juga mengalami kenaikan yang memicu beragam reaksi publik. Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian ekonomi global turut memperbesar kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional.

Situasi tersebut menjadi latar belakang lahirnya aksi mahasiswa. Dalam seruan yang disampaikan, BEM UI mengajukan lima tuntutan, mulai dari penghentian pemborosan APBN, penurunan harga kebutuhan pokok dan BBM, evaluasi sejumlah program pemerintah, hingga kritik terhadap kondisi demokrasi dan supremasi sipil. Tuntutan tersebut disebut sebagai hasil konsolidasi mahasiswa yang merefleksikan berbagai persoalan yang dirasakan masyarakat.

BEM UI dalam aksi tersebut membawa sejumlah tuntutan yang berkaitan dengan kondisi ekonomi, penggunaan anggaran negara, hingga persoalan demokrasi. Dilansir dari Kumparan, mahasiswa menuntut pemerintah melakukan evaluasi terhadap berbagai kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat serta meminta adanya transparansi dalam pengelolaan anggaran negara. Tuntutan tersebut lahir dari hasil konsolidasi yang dilakukan mahasiswa bersama berbagai elemen masyarakat.

Di sisi lain, mahasiswa juga perlu menyadari bahwa kritik yang disampaikan akan lebih kuat jika dibangun di atas data dan argumentasi yang jelas. Kritik yang baik bukan hanya menunjukkan apa yang salah, tetapi juga membuka ruang untuk mencari solusi. Oleh karena itu, gerakan mahasiswa tidak boleh berhenti pada slogan atau tuntutan semata, melainkan perlu terus menghadirkan gagasan yang dapat memperkaya diskusi publik.

Pemerintah pun perlu melihat aksi seperti ini sebagai bagian dari dinamika demokrasi. Tidak semua kritik lahir dari kebencian atau kepentingan politik tertentu. Sering kali kritik muncul karena adanya kekhawatiran bahwa kebijakan yang diambil belum sepenuhnya menjawab kebutuhan masyarakat. Ketika ruang dialog tetap terbuka, maka perbedaan pandangan tidak harus berakhir pada konflik.

Sejarah menunjukkan bahwa mahasiswa sering menjadi kelompok yang peka terhadap perubahan sosial. Mereka mungkin tidak selalu benar dalam setiap pendapat yang disampaikan, tetapi keberanian mereka untuk menyuarakan keresahan publik merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi. Kehadiran mahasiswa di jalanan pada akhirnya bukan sekadar tentang menolak atau mendukung suatu kebijakan, melainkan tentang menjaga agar suara masyarakat tetap terdengar.

Bagi penulis, seruan aksi “Menuju Indonesia Bangkrut” seharusnya menjadi bahan refleksi bersama. Bukan soal setuju atau tidak setuju dengan slogan yang digunakan, melainkan tentang bagaimana pemerintah, mahasiswa, dan masyarakat dapat sama-sama melihat berbagai persoalan yang sedang dihadapi bangsa secara jujur. Sebab, negara yang kuat bukanlah negara yang bebas dari kritik, melainkan negara yang mampu mendengarkan kritik dan menjadikannya sebagai bahan perbaikan.

Pada akhirnya, suara mahasiswa mungkin tidak selalu mewakili seluruh masyarakat. Namun ketika suara itu muncul dari keresahan yang dirasakan banyak orang, maka mendengarkannya adalah langkah yang jauh lebih bijak daripada mengabaikannya.

Baca Juga: Duduk Terlalu Lama, Bahaya yang Dianggap Biasa Saja

Editor: Tengku Wafa’ Alifah

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles