
Penulis: Zaitun Azzahra
Pagi mengikuti perkuliahan, siang mengerjakan tugas, sore menghadiri rapat organisasi, dan malam menyelesaikan pekerjaan yang belum rampung atau melakukan berbagai kegiatan lainnya. Bagi banyak mahasiswa, rutinitas ini terdengar biasa. Bahkan, sering kali dianggap sebagai tanda produktivitas. Namun, di balik kesibukan tersebut terdapat satu kesamaan yang jarang disadari, yakni sebagian besar aktivitas dilakukan sambil duduk.
Tanpa disadari, tubuh hanya bergerak seperlunya untuk berpindah tempat. Fenomena inilah yang dikenal sebagai gaya hidup sedentari, yaitu pola hidup dengan tingkat aktivitas fisik yang rendah dan didominasi oleh aktivitas duduk atau berbaring dalam waktu lama. Masalahnya, banyak orang menganggap gaya hidup ini bukan ancaman. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kurangnya aktivitas fisik telah menjadi salah satu tantangan kesehatan global yang serius.
Baca Juga: Dari Tagar ke Aksi, Mengapa Kepedulian Sosial Sulit Bertahan?
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa sekitar 80 persen remaja di dunia tidak memenuhi tingkat aktivitas fisik yang direkomendasikan. Artinya, sebagian besar generasi muda saat ini tidak cukup bergerak untuk menjaga kesehatan tubuhnya. WHO juga mencatat bahwa satu dari tiga orang dewasa di dunia memiliki tingkat aktivitas fisik yang tidak memadai. Fakta ini menunjukkan bahwa masalah kurang bergerak bukan lagi persoalan individu, melainkan persoalan kesehatan masyarakat yang terjadi secara luas.
Perkembangan teknologi juga mempercepat lahirnya gaya hidup ini. Kemajuan digital memang membawa berbagai kemudahan. Mahasiswa dapat mengikuti berbagai kegiatan secara daring tanpa harus berpindah tempat. Namun, kemudahan tersebut membuat aktivitas fisik yang dahulu menjadi bagian alami kehidupan sehari-hari makin berkurang. Berjalan kaki, bersepeda, atau sekadar bergerak di luar ruangan perlahan digantikan oleh aktivitas berbasis layar.
Dampak dari duduk terlalu lama memang tidak muncul secara langsung. Seseorang mungkin merasa baik-baik saja setelah duduk berjam-jam setiap hari. Akan tetapi, dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular, seperti obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi, hingga penyakit jantung. WHO bahkan menyebut kurangnya aktivitas fisik sebagai salah satu faktor risiko utama kematian global. Sebaliknya, aktivitas fisik yang cukup terbukti dapat menurunkan risiko berbagai penyakit tersebut sekaligus meningkatkan kualitas hidup seseorang.
Lebih dari itu, kurang bergerak bukan hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental. WHO menjelaskan bahwa aktivitas fisik dapat membantu mengurangi gejala kecemasan dan depresi serta meningkatkan kesejahteraan psikologis. Di tengah meningkatnya tekanan akademik, tuntutan organisasi, dan kecemasan terhadap masa depan, aktivitas fisik seharusnya menjadi kebutuhan dasar yang tidak boleh diabaikan oleh generasi muda.
Parahnya, budaya produktivitas sering kali memperburuk keadaan. Banyak mahasiswa merasa bangga ketika mampu duduk berjam-jam menyelesaikan tugas tanpa henti. Istirahat dianggap sebagai kemalasan, sedangkan kesibukan dipandang sebagai pencapaian. Padahal, tubuh manusia tidak dirancang untuk berada pada posisi yang sama sepanjang hari. Produktivitas yang mengorbankan kesehatan pada akhirnya hanya akan menghasilkan kelelahan dan menurunkan kualitas hidup.
Oleh karena itu, gaya hidup sedentari perlu dipahami sebagai isu kesehatan nyata bagi generasi muda. Solusinya tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Berjalan kaki beberapa menit setelah belajar, menggunakan tangga, melakukan peregangan saat bekerja, atau meluangkan waktu untuk berolahraga secara rutin merupakan langkah-langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi risiko kesehatan di masa depan. Pada akhirnya, tantangan terbesar generasi muda saat ini mungkin bukan hanya bagaimana menjadi produktif, melainkan bagaimana tetap sehat di tengah tuntutan produktivitas tersebut.
Baca Juga: Cancel Culture, Akuntabilitas Publik atau Penghakiman Massal?
Editor: Naqiyya Alayya Arham Rambe

