Dari Tagar ke Aksi, Mengapa Kepedulian Sosial Sulit Bertahan?

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. https://diskominfo.pangkalpinangkota.go.id/)

Penulis: Zaitun Azzahra

Tanpa disadari setiap kali sebuah isu sosial menjadi viral, lini masa media sosial seakan berubah menjadi ruang solidaritas bersama. Banyak tagar yang muncul, unggahan dukungan dibagi ribuan kali, dan berbagai pendapat memenuhi kolom komentar. Dalam hitungan jam, sebuah isu dapat menarik perhatian jutaan orang. Namun, beberapa waktu kemudian, perhatian itu mulai hilang. Tagar yang sempat mendominasi media sosial tenggelam oleh tren-tren baru. Isu yang sebelumnya dianggap penting tidak lagi menjadi bahan pembicaraan. Fenomena inilah yang menimbulkan pertanyaan: mengapa kepedulian sosial di era digital sering kali sulit bertahan?

Di satu sisi, media sosial telah membuka ruang partisipasi yang belum pernah ada sebelumnya. Informasi dapat diakses dengan cepat dan masyarakat memiliki kesempatan untuk menyuarakan pendapatnya secara langsung. Kemudahan tersebut bisa menjadi peluang yang besar untuk meningkatkan kesadaran sosial masyarakat, terutama generasi muda. United Nations Children’s Fund (UNICEF) mencatat bahwa Indonesia memiliki sekitar 46 juta remaja berusia 10 hingga 19 tahun. Jumlah ini merupakan potensi besar bagi lahirnya generasi yang aktif, kritis, dan peduli terhadap berbagai persoalan sosial. Namun, besarnya jumlah generasi muda belum tentu sebanding dengan tingkat keterlibatan sosial yang berkelanjutan.

Baca Juga: Cancel Culture, Akuntabilitas Publik atau Penghakiman Massal?

Realitas yang terjadi, tampak kesenjangan antara kepedulian di media sosial dan keterlibatan di dunia nyata. Banyak orang dengan mudah membagikan unggahan mengenai suatu isu, tetapi hanya sedikit yang terlibat dalam aksi nyata setelahnya. Ada juga yang merasa telah berkontribusi hanya dengan menekan tombol suka, membagikan, dan menggunakan tagar tersebut. Fenomena ini sering disebut sebagai slacktivism, yaitu bentuk aktivisme yang dilakukan dengan usaha minimal melalui media digital tanpa diikuti keterlibatan yang lebih mendalam.

Fenomena ini sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Membagikan informasi memang dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap suatu persoalan. Namun, masalah muncul ketika kepedulian berhenti pada tahap ekspresi digital. Akibatnya, perhatian publik menjadi sangat bergantung pada algoritma media sosial. Ketika sebuah isu tidak lagi muncul di beranda, kepedulian terhadap isu tersebut ikut memudar.

Penelitian mengenai keterlibatan kewargaan Generasi Z di Indonesia menunjukkan bahwa generasi muda memiliki kesadaran terhadap berbagai persoalan sosial, tetapi harus menghadapi tantangan dalam mewujudkan kepedulian tersebut dalam partisipasi yang nyata dan berkelanjutan. Salah satu faktor yang memengaruhinya adalah budaya digital yang mendorong konsumsi informasi secara cepat. Informasi datang silih berganti tanpa memberi banyak waktu untuk refleksi yang mendalam. Akibatnya, perhatian publik mudah berpindah dari satu isu ke isu lainnya.

Kondisi ini makin diperkuat dari cara kerja media sosial yang dilihat dari tren. Algoritma platform digital cenderung mempromosikan konten yang sedang ramai diperbincangkan. Dampaknya, isu sosial sering kali diperlakukan seperti tren yang seharusnya belum selesai, tetapi ikut kehilangan sorotan. Masyarakat kemudian beralih ke topik baru tanpa benar-benar memahami perkembangan atau penyelesaian dari persoalan sebelumnya.

Masalah ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa generasi muda saat ini memiliki akses informasi yang jauh lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, akses informasi yang besar tidak selalu menghasilkan keterlibatan sosial yang kuat. Informasi yang terlalu banyak justru dapat menimbulkan kelelahan informasi. Dalam situasi ini, seseorang cenderung kehilangan fokus dan sulit mempertahankan perhatian terhadap satu isu dalam jangka waktu yang lama.

Perlu diketahui, kepedulian sosial itu membutuhkan lebih dari sekadar perhatian sesaat. Ia butuh waktu, komitmen, dan keterlibatan yang nyata. Mengikuti kegiatan sosial membutuhkan energi yang jauh lebih besar daripada membagikan unggahan. Sayangnya, budaya serba cepat yang berkembang di era digital sering kali membuat bentuk keterlibatan tersebut kalah menarik dibandingkan respons instan yang ditawarkan media sosial.

Oleh karena itu, fenomena ini seharusnya menjadi bahan refleksi bagi kita khususnya seorang mahasiswa. Perubahan butuh tindakan nyata, konsistensi, dan keberanian untuk tetap peduli meskipun sorotan publik telah beralih ke isu lain. Media sosial memang dapat menjadi pintu masuk bagi tumbuhnya kesadaran sosial, tetapi ia tidak boleh menjadi tujuan akhir dari kepedulian itu sendiri.

Baca Juga: Normalisasi Tumbler: Langkah Kecil Menyelamatkan Lingkungan

Editor: Tengku Wafa’ Alifah

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles