
Penulis: Muhammad Daffa
Halo, Sobat Kampus! Seiring meningkatnya kepedulian publik terhadap isu lingkungan, penggunaan tumbler atau botol minum yang dapat digunakan kembali sebenarnya sudah menjadi hal yang lumrah. Berbagai program untuk mengurangi sampah plastik terus didorong oleh banyak pihak, mulai dari pemerintah, komunitas peduli lingkungan, lembaga pendidikan, hingga pelaku bisnis. Namun, di banyak tempat publik, membawa tumbler masih dianggap sebagai perilaku yang hanya dilakukan oleh segelintir orang. Padahal, kebiasaan sederhana ini seharusnya sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, karena dapat mendorong perubahan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.
Bagi Indonesia, persoalan ini memiliki urgensi yang lebih besar. United Nations Environment Programme (UNEP) mencatat bahwa Indonesia menghasilkan sekitar 3,2 juta ton sampah plastik yang tidak terkelola setiap tahun, dan sekitar 1,29 juta ton di antaranya berakhir di laut. Kondisi tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara penyumbang pencemaran plastik laut terbesar di dunia. Botol air minum sekali pakai menjadi salah satu penyebab utama timbunan sampah yang sulit terurai. Ironisnya, meskipun berbagai pihak telah berupaya mengurangi penggunaan plastik, konsumsi minuman dalam kemasan sekali pakai terus meningkat. Kemudahan akses dan kebiasaan hidup praktis sering menjadi alasan mengapa masyarakat lebih memilih membeli minuman kemasan daripada membawa wadah minum sendiri.
Baca Juga: Fenomena Brain Rot dan Generasi yang Terbiasa “Cepat tetapi Dangkal”
Namun, dampak positif dari kebiasaan menggunakan tumbler tidak seharusnya diabaikan. Jika seseorang dapat mengurangi penggunaan satu atau dua botol plastik setiap hari, jumlah sampah yang dapat dihindari dalam setahun akan sangat besar. Bayangkan jika jutaan orang di Indonesia melakukan hal yang sama. Pengurangan sampah plastik tentu akan terasa lebih signifikan.
Sayangnya, masih terdapat berbagai kendala dalam menjadikan penggunaan tumbler sebagai kebiasaan yang umum. Salah satunya adalah kurangnya fasilitas pendukung di ruang publik. Tidak semua lokasi menyediakan akses pengisian air minum yang mudah dijangkau. Di beberapa tempat, masyarakat bahkan harus membeli air kemasan karena tidak tersedia alternatif lain. Kondisi ini menunjukkan bahwa membangun budaya peduli lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga memerlukan dukungan dari pengelola ruang publik dan pemerintah.
Selain masalah infrastruktur, masih ada anggapan bahwa membawa tumbler merupakan hal yang merepotkan. Sebagian orang merasa lebih praktis membeli minuman dalam kemasan daripada membawa botol minum dari rumah. Pandangan ini muncul karena kebiasaan yang telah berlangsung lama. Padahal, banyak negara telah berhasil menjadikan tumbler sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari. Membawa botol minum pribadi tidak lagi dianggap aneh, melainkan sesuatu yang lazim, sebagaimana membawa ponsel atau dompet saat bepergian.
Mengubah budaya memang membutuhkan waktu yang tidak singkat. Namun, langkah-langkah kecil dapat dimulai dari lingkungan sekitar. Kampus, sekolah, kantor, pusat perbelanjaan, dan berbagai tempat umum lainnya dapat menjadi contoh dalam membangun kebiasaan ini. Penyediaan dispenser air minum gratis atau stasiun pengisian ulang merupakan bentuk dukungan nyata yang dapat mendorong masyarakat untuk lebih terbiasa menggunakan tumbler.
Mungkin banyak yang menganggap bahwa satu botol plastik tidak akan membawa dampak berarti. Namun, masalah muncul ketika jutaan orang berpikir hal yang sama. UNEP melaporkan bahwa setiap hari setara dengan 2.000 truk sampah plastik dibuang ke sungai, danau, serta lautan di seluruh dunia. Sampah plastik tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga merusak habitat, mengganggu rantai makanan, dan mengancam keberlangsungan ekosistem perairan.
Sudah saatnya penggunaan tumbler menjadi kebiasaan yang umum, bukan sesuatu yang jarang dilakukan. Sebab, perubahan besar terhadap lingkungan biasanya dimulai dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten. Ketika masyarakat mulai terbiasa membawa tumbler ke berbagai tempat, upaya menuju gaya hidup berkelanjutan akan makin nyata. Menjadikan tumbler sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari berarti membangun kesadaran bahwa setiap individu memiliki peran dalam mengurangi sampah plastik, sekecil apa pun tindakan tersebut.
Baca Juga: Wamena dan Papua yang Tak Pernah Benar-benar Damai
Editor: Ummy Syafitri


saya merasa opini ini berguna,tidak hanya sekedar pandangan tapi harus di terapkan
keren,opini yang mencerahkan!