
Penulis: Nazwa Nabilah Lubis
Fear of Missing Out (FOMO) merupakan kondisi psikologis yang ditandai dengan munculnya rasa khawatir atau cemas ketika seseorang merasa tertinggal dari pengalaman, informasi, maupun aktivitas yang sedang dilakukan orang lain. Fenomena ini makin sering ditemukan di tengah masyarakat modern, terutama sejak berkembangnya teknologi digital dan media sosial yang memungkinkan setiap orang terhubung dengan berbagai informasi secara real time.
Era digital ditandai oleh perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat dan memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Mulai dari komunikasi, pendidikan, hiburan, hingga kegiatan berbelanja kini dapat dilakukan secara daring. Perkembangan tersebut melahirkan berbagai platform media sosial yang digunakan untuk berinteraksi, berbagi informasi, dan mengekspresikan diri.
Baca Juga: KKN Sebentar Lagi, Yuk Ingat Lagi Adab yang Harus Kita Jaga
Kelompok usia yang paling dekat dengan perkembangan teknologi digital adalah Generasi Z. Generasi ini merupakan individu yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Dengan jumlah populasi yang besar dan tumbuh bersamaan dengan pesatnya perkembangan internet, Generasi Z menjadi kelompok yang sangat akrab dengan dunia digital dibandingkan generasi sebelumnya.
Penggunaan smartphone yang makin luas memungkinkan Generasi Z memperoleh akses informasi secara cepat dan mudah. Media sosial seperti Instagram, TikTok, dan X tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun relasi sosial, memperoleh informasi terbaru, serta menunjukkan identitas diri.
Melalui media sosial, seseorang dapat melihat berbagai aktivitas, pencapaian, maupun pengalaman orang lain setiap saat. Sebagian besar konten yang dibagikan biasanya menampilkan sisi terbaik kehidupan seseorang, seperti keberhasilan akademik, perjalanan wisata, pencapaian karier, atau gaya hidup tertentu.
Paparan konten semacam itu secara terus-menerus dapat memunculkan dorongan untuk membandingkan diri dengan orang lain. Akibatnya, sebagian individu merasa tertinggal apabila tidak mengikuti tren atau tidak memiliki pengalaman yang dianggap menarik. Dalam kondisi tertentu, tren bahkan dipandang sebagai sesuatu yang harus diikuti agar tidak merasa berbeda dari lingkungan sekitarnya.
Fenomena FOMO kini sering dianggap sebagai bagian dari gaya hidup karena media sosial membuat seseorang selalu terhubung dengan berbagai informasi tanpa dibatasi ruang dan waktu. Ketika melihat teman atau influencer membagikan berbagai pengalaman yang menarik, muncul keinginan untuk melakukan hal yang sama. Keinginan tersebut sebenarnya wajar. Namun, yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang merasa harus mencoba semua hal yang sedang tren.
FOMO memiliki hubungan yang cukup erat dengan kesehatan mental. Individu yang sering mengalami FOMO cenderung lebih sering memeriksa media sosial untuk memastikan bahwa mereka tidak melewatkan informasi penting. Kebiasaan tersebut dapat meningkatkan tingkat kecemasan, mengurangi konsentrasi, bahkan menurunkan kepuasan hidup. Hal ini terjadi karena perhatian lebih banyak difokuskan pada apa yang belum dimiliki daripada pada pencapaian yang telah diraih.
Meskipun demikian, FOMO tidak selalu memberikan dampak negatif. Dalam beberapa kondisi, keinginan untuk mengikuti perkembangan informasi dapat mendorong seseorang menjadi lebih aktif dan tertantang untuk mencoba hal-hal baru. Namun, dorongan tersebut tetap perlu diimbangi dengan kemampuan mengendalikan diri. Tanpa kontrol yang baik, FOMO berpotensi menimbulkan tekanan psikologis yang berlebihan, terutama ketika keinginan yang dimiliki tidak dapat diwujudkan karena keterbatasan kondisi ekonomi atau faktor lainnya.
Baca Juga: Ketika Negara Sibuk Memperluas Kuasa, Siapa yang Mendengar Kecemasan Rakyat?
Editor: Naqiyya Alayya Arham Rambe

