
Penulis: Muhammad Satria
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kalimantan menjadi salah satu penyebab munculnya asap tebal yang menyelimuti sejumlah wilayah. Kondisi ini tentu mengganggu aktivitas masyarakat. Orang-orang yang biasanya bebas melakukan kegiatan di luar rumah kini harus lebih berhati-hati, bahkan menggunakan masker agar tidak terlalu banyak menghirup asap.
Dikutip dari laman resmi detik.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa titik karhutla salah satunya dipengaruhi oleh kondisi iklim yang begitu kering akibat El Nino. Kondisi yang kering membuat lahan lebih mudah terbakar dan api juga lebih cepat menyebar.
Baca Juga: Satu Posko Laki-Laki dan Perempuan: Masalah Moral atau Masalah Cara Pandang?
“Kondisi iklim kering menjadi kondisi yang dapat membuat lahan dibakar dan banyak asap,” kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan kepada detikcom, Jumat (21/8/2026).
Yang menjadi pertanyaan adalah sampai kapan masyarakat harus terus berhadapan dengan kondisi seperti ini? Setiap kali musim kemarau datang, persoalan karhutla kembali muncul. Ketika musim kemarau berikutnya datang, masalah yang sama kembali terjadi.
Kondisi cuaca yang kering akibat El Nino dapat membuat kebakaran lebih mudah terjadi. Namun, kita juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan faktor alam. Api tetap membutuhkan penyebab. Ada kebakaran yang terjadi karena kelalaian manusia dan ada pula pembakaran lahan yang dilakukan dengan sengaja. Oleh karena itu, pembahasan mengenai karhutla seharusnya tidak berhenti pada masalah cuaca saja.
Kalau memang kondisi lahan sedang sangat kering, seharusnya pengawasan justru diperketat. Titik-titik yang dianggap rawan kebakaran harus lebih sering dipantau. Jangan sampai pemerintah baru bergerak setelah asap sudah menyebar dan masyarakat mulai terganggu. Pencegahan menurut saya jauh lebih penting daripada hanya sibuk memadamkan api ketika kebakaran sudah besar.
Masyarakat juga perlu mendapatkan informasi yang jelas ketika kondisi seperti ini terjadi. Misalnya, apakah kualitas udara masih aman untuk anak-anak beraktivitas di luar, apakah sekolah tetap berjalan atau diliburkan, dan wilayah mana saja yang terdampak asap. Informasi seperti ini penting karena masyarakat tidak mungkin mengetahui sendiri seberapa buruk kondisi udara hanya dengan melihat langit yang terlihat berkabut.
Masalah komunikasi juga tidak boleh dianggap sepele. Cerita orang tua yang baru mengetahui sekolah diliburkan setelah sampai di sekolah menunjukkan bahwa informasi harus disampaikan dengan lebih cepat. Jika keputusan untuk meliburkan sekolah memang sudah dibuat, orang tua seharusnya mendapatkan informasi sebelum berangkat. Dengan begitu, mereka tidak perlu menghabiskan waktu dan tenaga untuk mengantar anak ke sekolah dalam kondisi udara yang sedang buruk.
Di sisi lain, masyarakat juga harus ikut menjaga lingkungan. Jangan membakar sampah atau membuka lahan dengan cara yang bisa memicu kebakaran, terutama ketika kondisi sedang sangat kering. Hal yang terlihat kecil bisa menjadi masalah besar apabila api tidak terkendali dan menyebar ke lahan lainnya.
Namun, tanggung jawab terbesar tetap tidak boleh dibebankan kepada masyarakat saja. Pemerintah dan pihak-pihak yang mengelola lahan juga harus ikut bertanggung jawab. Pengawasan terhadap perusahaan dan pemilik lahan perlu dilakukan dengan serius. Jika ada pihak yang terbukti sengaja melakukan pembakaran atau lalai hingga menyebabkan kebakaran, maka harus ada tindakan yang jelas.
Menurut penulis, masyarakat sebenarnya sudah cukup sering menjadi pihak yang dirugikan. Mereka tidak menyalakan api, tetapi harus menghirup asapnya. Mereka tidak membakar hutan, tetapi harus menggunakan masker. Anak-anak tidak menyebabkan karhutla, tetapi mereka yang harus kehilangan waktu belajar ketika sekolah diliburkan. Oleh karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan meminta masyarakat berhati-hati.
Kita memang tidak bisa menghilangkan musim kemarau atau mengatur kapan El Nino terjadi. Tetapi kita masih bisa mengurangi kemungkinan terjadinya kebakaran yang disebabkan oleh manusia. Cara mengelola lahan, pengawasan, penegakan aturan, dan kesadaran masyarakat masih bisa diperbaiki.
Karhutla seharusnya tidak menjadi sesuatu yang dianggap biasa setiap kali musim kemarau datang. Kalau setiap tahun masalah yang sama terus terjadi, berarti ada sesuatu yang belum benar-benar diselesaikan. Jangan sampai kita hanya terbiasa dengan pemandangan langit yang dipenuhi asap, anak-anak memakai masker ke sekolah, dan masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah.
Asap yang menyelimuti Kalimantan adalah masalah lingkungan yang akhirnya kembali kepada manusia. Ketika hutan terbakar, yang terkena dampaknya bukan hanya pohon dan hewan di dalamnya, tetapi juga masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Oleh karena itu, pemerintah perlu lebih serius dalam melakukan pencegahan, bukan hanya bertindak ketika kebakaran sudah terjadi. Masyarakat juga perlu diberi pemahaman dan informasi yang cukup. Dengan begitu, karhutla tidak hanya ditangani ketika sudah menjadi berita besar, tetapi benar-benar dicegah sejak awal.
Sebab, masyarakat berhak mendapatkan udara yang bersih dan bisa menjalankan aktivitas tanpa harus terus-menerus khawatir dengan asap. Jangan sampai penggunaan masker dan sekolah diliburkan karena kabut asap justru menjadi hal yang dianggap normal setiap tahun.
Baca Juga: Kopdes Merah Putih: Modal Negara, Risiko Siapa?
Editor: Ummy Syafitri

