
Penulis: Zaitun Azzahra
Malam seharusnya menjadi waktu bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat. Namun, bagi sebagian orang, malam justru menjadi waktu yang paling produktif. Ada yang menghabiskan waktunya untuk bekerja, menyelesaikan tugas kuliah, bermain gim, menonton video, hingga memantau media sosial selama berjam-jam. Tanpa disadari, kebiasaan bergadang telah menjadi gaya hidup yang dianggap biasa. Padahal, tubuh manusia juga memiliki batas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa kurang tidur dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, mulai dari gangguan konsentrasi, penurunan daya tahan tubuh, obesitas, diabetes, hingga penyakit kardiovaskular.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga terus mengampanyekan pentingnya tidur yang cukup sebagai salah satu pilar utama menjaga kesehatan. Orang dewasa umumnya membutuhkan waktu tidur sekitar tujuh hingga sembilan jam setiap malam agar fungsi tubuh dan otak tetap bekerja secara optimal.
Baca Juga: Sehat Mental dan Kuat Iman, Mengapa Tidak Dapat Dipisahkan?
Sayangnya, ketika kesehatan mulai terganggu, banyak orang mencari berbagai cara untuk memulihkannya, tetapi lupa bahwa salah satu obat paling sederhana adalah tidur yang cukup. Islam telah mengajarkan pentingnya menjaga waktu istirahat. Tidur bukan sekadar kebutuhan biologis, tetapi juga bagian dari nikmat Allah yang harus selalu kita syukuri. Allah Swt. berfirman, “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang hari serta usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (QS. Ar-Rum: 23).
Ayat ini menjelaskan bahwa tidur adalah bagian dari tanda kebesaran Allah. Tidur bukanlah aktivitas yang sia-sia, melainkan mekanisme yang Allah ciptakan supaya manusia dapat memulihkan tenaga, menjaga kesehatan, dan kembali beraktivitas dengan baik. Bahkan, pergantian siang dan malam menjadi bukti bahwa kehidupan manusia diatur dengan ritme yang seimbang. Siang untuk mencari rezeki, malam untuk beristirahat dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Sayangnya, berkembangnya teknologi membuat batas antara siang dan malam makin kabur. Cahaya layar ponsel, notifikasi, dan hiburan digital membuat banyak orang menunda waktu tidur tanpa alasan yang mendesak. Tidak jarang mereka baru memejamkan mata menjelang dini hari, lalu memulai aktivitas keesokan harinya dengan tubuh yang lelah dan pikiran yang penuh sehingga sulit berkonsentrasi.
Kebiasaan ini bukan hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga mental. Tubuh yang kurang beristirahat cenderung lebih mudah marah, sulit berkonsentrasi, dan kehilangan semangat beribadah. Tidak jarang salat Subuh terlewat, membaca Al-Qur’an menjadi jarang, tetapi produktivitas pada siang hari juga berkurang.
Rasulullah saw. memberikan teladan yang sangat jelas mengenai pentingnya menjaga waktu istirahat. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Barzah Al-Aslami r.a. disebutkan bahwa Rasulullah saw. tidak menyukai tidur sebelum Salat Isya dan tidak menyukai berbincang-bincang setelahnya, kecuali untuk keperluan yang bermanfaat. Hadis ini menunjukkan bahwa Islam menganjurkan umatnya untuk memanfaatkan malam secara bijaksana, bukan menghabiskannya dengan aktivitas yang tidak memberikan manfaat.
Bukan berarti Islam melarang seseorang bergadang sama sekali. Ada keadaan tertentu yang dibenarkan, seperti menuntut ilmu, bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga, membantu sesama, atau beribadah pada waktu-waktu tertentu. Namun, bergadang yang hanya diisi dengan hiburan tanpa batas hingga mengorbankan kesehatan dan kewajiban kepada Allah tentu bukan kebiasaan yang patut dipelihara.
Pada akhirnya, tidur bukanlah tanda kemalasan, melainkan kebutuhan yang Allah anugerahkan agar manusia mampu menjalankan amanah kehidupannya. Tubuh yang sehat akan lebih kuat bekerja, belajar, beribadah, dan memberikan manfaat kepada orang lain. Sebaliknya, kebiasaan bergadang tanpa alasan yang jelas hanya akan menguras tenaga, mengurangi kualitas ibadah, dan merusak kesehatan.
Baca Juga: Pulang ke Rumah Fitrah: Menemukan Jalan Kembali Saat Jiwa Kehilangan Arah
Editor: Ummy Syafitri

