
Penulis: Zaitun Azzahra
Perkembangan teknologi yang pesat menjadi tantangan baru bagi manusia, salah satunya krisis kesehatan mental. Media sosial dipenuhi dengan kehidupan orang-orang yang tampak sempurna. Tidak heran timbul rasa cemas, stres, kelelahan emosional, bahkan depresi. Kejadian ini dialami banyak orang, terutama generasi muda saat ini.
Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa sekitar satu dari delapan orang di dunia hidup dengan gangguan mental. Di Indonesia, hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 juga menunjukkan bahwa masalah psikologis, khususnya pada kelompok usia remaja dan dewasa muda, makin menjadi perhatian. Akan tetapi, di tengah meningkatnya kesadaran tentang kesehatan mental, masih ada yang beranggapan bahwa seseorang yang mengalami gangguan psikologis disebabkan oleh kurangnya iman atau kurang bersyukur. Pandangan ini bukan saja keliru, tetapi juga dapat membuat orang enggan mencari pertolongan. Islam, agama yang sempurna, tidak pernah memisahkan kesehatan jasmani, akal dan jiwa. Ketiganya amanah yang harus dijaga. Seorang Muslim diperintahkan untuk merawat tubuhnya, menjaga pikirannya dan memelihara ketenangan hatinya. Pada akhirnya, kesehatan mental bukanlah isu yang bertentangan dengan agama, melainkan bagian dari tujuan untuk menjaga manusia secara utuh.
Baca Juga: Pulang ke Rumah Fitrah: Menemukan Jalan Kembali Saat Jiwa Kehilangan Arah
Al-Qur’an menggambarkan bahwa hati manusia itu membutuhkan ketenangan sebagaimana manusia juga butuh makanan. Allah Swt. berfirman, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Ayat ini menunjukkan bahwa ketenangan batin itu tidak dapat diabaikan. Di tengah derasnya arus informasi, persaingan dan tekanan terjadi. Zikir, doa, dan kedekatan kepada Allah menjadi sumber kekuatan. Namun, ayat ini bukan berarti setiap masalah psikologis dapat selesai dengan memperbanyak ibadah tanpa ikhtiar. Justru Islam mengajarkan keseimbangan antara usaha lahir dan batin.
Kesedihan itu fitrah bagian dari manusia, bukan tanda lemahnya iman. Yang membedakan seorang mukmin adalah cara ia menghadapi ujian. Islam mengajarkan bahwa setiap kesulitan itu pasti ada harapan, musibah yang menghampiri bisa menjadi ladang pahala, dan Allah selalu tahu keadaan kita. Keimanan itu sebagai arah agar seseorang tidak putus harapan.
Islam juga mengajarkan bahwa setiap ujian yang menimpa seorang mukmin mengandung banyak hikmah yang mungkin belum kita pahami secara langsung. Rasulullah Saw. bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim No. 2999).
Hadis ini tidak mengajarkan seseorang untuk memendam luka atau menolak kenyataan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja. Sebaliknya, Islam mengajarkan sikap menerima ujian dengan kesabaran dan ikhtiar untuk mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut. Akan tetapi, menjadi catatan penting, sabar itu bukan pasrah tanpa usaha, melainkan tetap bergerak dan menggantungkan harapan kepada Allah Swt.
Oleh karena itu, seorang Muslim yang mengalami gangguan kecemasan, depresi atau masalah psikologis lainnya seharusnya tidak malu untuk mencari bantuan pada psikolog, psikiater ataupun konselor. Ikhtiar ini tidak bertentangan dengan tawakal.
Di sisi lain, pendekatan medis akan menjadi lebih kuat apabila dibarengi dengan salat, membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, memperbanyak istigfar, serta menjaga hubungan baik dengan sesama, yang merupakan nutrisi bagi hati.
Spiritualitas memberikan makna di balik penderitaan, sementara ilmu psikologi membantu seseorang memahami dan mengelola emosi secara sehat. Keduanya bukan untuk dipertentangkan, melainkan saling melengkapi.
Baca Juga: Ketika Doa Belum Dijawab, Apa yang Sedang Allah Siapkan?
Editor: Tengku Wafa’ Alifah

