
Judul: Panggil Aku Ayah
Sutradara: Benni Setiawan
Genre: Drama Keluarga
Tahun Rilis: 2016
Durasi: 1 jam 30 menit
Pemeran Utama: Ringgo Agus Rahman, Nirina Zubir, Muzakki Ramdhan
Peresensi: Mutiara Fauziah
Film “Panggil Aku Ayah” menghadirkan kisah yang kuat tentang perubahan hati, tanggung jawab, dan makna keluarga yang tidak hanya lahir dari hubungan darah. Cerita ini berpusat pada Dedi, seorang pria yang bekerja sebagai penagih utang. Dalam kesehariannya, Dedi terbiasa menghadapi orang-orang yang tidak mampu melunasi pinjaman. Pekerjaannya menuntut sikap tegas, bahkan cenderung keras, sehingga ia dikenal sebagai sosok yang tidak banyak menggunakan perasaan dalam mengambil keputusan. Hidupnya berjalan datar, tanpa tujuan yang jelas selain menyelesaikan pekerjaan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Konflik utama dimulai ketika Dedi menagih utang kepada seorang perempuan yang tidak sanggup membayarnya. Ia mempunyai anak perempuan bernama Intan. Dalam kondisi terdesak, Dedi mengambil anak perempuan tersebut menjadikan Intan sebagai jaminan sementara. Keputusan itu menjadi titik awal perubahan besar dalam kehidupan Dedi. Ia yang awalnya hanya berurusan dengan tagihan, kini harus berhadapan dengan seorang anak kecil yang tidak mengerti apa-apa tentang utang piutang. Situasi tersebut terasa janggal dan tidak nyaman bagi Dedi, karena ia tidak pernah memiliki pengalaman mengurus anak.
Baca Juga: Obsession 2025: Ketika Keinginan Membawa Petaka
Pada awalnya, Dedi hanya memperlakukan Intan sebagai bagian dari pekerjaannya. Ia menjaga jarak dan tidak ingin terlibat secara emosional. Bagi Dedi, Intan hanyalah “jaminan” yang harus ia bawa hingga utang orang tuanya dilunasi. Selama ditahan, Intan terus menangis dan memanggil ibunya. Merasa iba melihat kondisi tersebut, Dedi akhirnya mengizinkan ibu Intan datang untuk menemui putrinya. Setelah pertemuan itu, ibu Intan kembali ke Jakarta dan menitipkan Intan kepada Dedi sembari berpesan agar ia menjaga anaknya dengan baik. Sejak saat itu, kehadiran Intan perlahan mengubah suasana. Dengan kepolosan dan ketulusannya, Intan menunjukkan bahwa ia membutuhkan perhatian, bukan sekadar tempat untuk dititipkan. Ia berbicara dengan jujur, bersikap apa adanya, dan tanpa disadari mulai mendekatkan diri kepada Dedi.
Momen penting dalam film ini terjadi ketika Intan mulai memanggil Dedi dengan sebutan “ayah”. Panggilan tersebut awalnya terasa asing dan membuat Dedi tidak nyaman. Ia menolak peran itu karena merasa tidak pantas dan tidak mampu. Namun, seiring waktu, panggilan tersebut justru menjadi pengikat emosional yang kuat. Dedi mulai menyadari bahwa kehadirannya memiliki arti besar bagi Intan, jauh melampaui sekadar hubungan antara penagih utang dan jaminan.
Seiring berjalannya cerita, hubungan mereka berkembang secara perlahan namun pasti. Dedi mulai belajar melakukan hal-hal sederhana yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan, seperti memastikan Intan makan, menyekolahkan Intan, menjaga keselamatannya, dan memberikan perhatian. Perubahan ini menunjukkan sisi lain dari Dedi yang selama ini tersembunyi. Ia tidak lagi hanya menjadi sosok yang keras, tetapi juga mulai menunjukkan kepedulian dan kasih sayang.
Konflik makin terasa ketika Dedi harus berhadapan dengan tuntutan pekerjaannya. Lingkungan kerja dan sistem yang ia jalani tidak memberi banyak ruang untuk perasaan. Ia dituntut untuk menyelesaikan urusan utang sesuai aturan yang berlaku. Di sisi lain, kedekatannya dengan Intan membuatnya sulit untuk bersikap seperti sebelumnya.
Tekanan tersebut membuat Dedi mengalami pertarungan batin yang cukup dalam. Ia mulai mempertanyakan pekerjaannya, cara hidupnya, dan nilai-nilai yang selama ini ia pegang. Intan menjadi titik balik yang membuka pandangannya tentang kehidupan. Kehadiran Intan membuat Dedi memahami bahwa tanggung jawab tidak selalu datang dari kewajiban formal, tetapi juga bisa tumbuh dari rasa peduli dan kasih sayang.
Puncak cerita memperlihatkan perubahan besar dalam diri Dedi. Ia tidak lagi memandang Intan sebagai beban atau sekadar jaminan, melainkan sebagai bagian penting dalam hidupnya. Hubungan yang semula dibangun atas dasar keterpaksaan pun berkembang menjadi ikatan yang tulus layaknya ayah dan anak. Pada akhirnya, Dedi menerima peran tersebut dengan sepenuh hati, meskipun ia harus menghadapi berbagai risiko dan konsekuensi atas pilihan yang diambilnya.
Film ini ditutup dengan pesan sederhana, tetapi sarat makna, bahwa keluarga tidak selalu dibentuk oleh hubungan darah. Seseorang dapat menjadi sosok “ayah” melalui kehadiran, kepedulian, dan kasih sayang yang tulus. Panggil Aku Ayah berhasil menggambarkan bagaimana hubungan yang berawal dari keterpaksaan dapat berkembang menjadi ikatan keluarga yang hangat, penuh cinta, dan bermakna.
Baca Juga: The Good Bad Mother: Seekor Babi yang Memotivasi
Editor: Naqiyya Alayya Arham Rambe

