
Penulis: Nazwa Nabilah Lubis
Selama 5 menit, dapur kecil coffeeshop itu riuh. Suara steam, sendok ketemu gelas, dan gumaman Rifqi yang sangat serius membuat menu barunya itu. Bagas cuma memperhatikan dari jauh. Aneh, sudah setahun dia langganan di sini, baru kali ini dia melihat Rifqi segugup itu bikin kopi. Karena menu baru mungkin, ya.
“Gugup banget itu orang buat menu baru, kaya enak aja,” ucap Bagas dengan nada kecil.
Akhirnya setelah sekian lama menunggu, pesanan Bagas siap disajikan. Gelas ditaruh di depan Bagas. Warnanya cokelat keemasan. Ada latte art hati yang agak miring.
Baca Juga: Americano Lima Shot, Seporsi Kemenangan dan Kekalahan /3/
“Silakan dicoba, Tuan Pecinta Americano,” ucap Rifqi bercanda.
Bagas menyeruput pelan. Pertama pahit. Kedua mulai ada karamel. Ketiga … hangatnya turun ke dada. Bagas hanya diam. Lama. Ia benar-benar menyelami rasa ini yang baru pertama ia coba selain Americano.
“Gimana rasanya, Bang?” tanya Rifqi.
Bagas menaruh gelasnya.
“Lumayan,” ucap Bagas serius.
“LU-MA-YAN?? Saya begadang nyari resep ini seminggu, Bang!”
“Iya, lumayan enak. Besok bikinin lagi.”
“Approve ni rasanya?”
“Iya, approve”.
“Gimana? Lebih enak dari menu Americano yang selalu Abang pesan, kan? Lagian pesan menu itu itu mulu, inovatif dikit dong, bang. Coba menu lain, kek, biar otak tu ga stuck, kerjaan juga lancar-lancar aja”.
“Dih, ngatain nih ceritanya? Baru juga buat sekali udah pamer begini. Lagian menu yang dua itu gabisa dibandingin, dong. Orang-orang mesannya pasti dikarenakan dua kondisi mood yang berbeda”
“Engga, tuh, saya lihat Abang mau bahagia, mau sedih, mau ini, mau itu sama aja, pasti pesannya tetap Americano. Ga niat coba yang lain gitu”.
“Yah, namanya juga orang setia, pasti pesannya itu-itu saja lah”.
Malam itu aneh. Tugas Bagas yang tadinya mentok di bab 4, tiba-tiba jam 22.30 ada 2 paragraf baru. Sedikit, sih, tapi untuk Bagas yang selama ini stuck terus sama revisiannya, ini merupakan peningkatan. Bukan karena kafeinnya nambah. Tapi karena ada yang manis di lidahnya, dan ada yang nemenin di seberang bar tanpa nanya “kapan lulus”. Sebelum pulang, Rifqi menepuk bahu Bagas.
“Bang, istirahat ya. Kopi ga akan ngerjain skripsi buat Abang.”
Bagas cuma ngangguk. Di jalan pulang, dia berpikir. Udah lama dia gak ngerasain “dicoba dulu” tanpa takut gagal. Menu baru yang baru Bagas coba tadi sepertinya efektif juga. Hari-hari berikutnya polanya sama, tapi ada sedikit yang berbeda. Kuliah jam 7. Rapat organisasi jam 3. Revisi jam 8. Coffeeshop jam 10. Bedanya adalah pesenannya ganti. Dari Americano 5 shot jadi Butterscotch Latte. Gula dikit. Kini, Rifqi sudah hafal menu pelanggan setia coffeeshop-nya itu. Begitu Bagas masuk, langsung:
“Satu butterscotch, less sugar ya, Bang? Atau masih tetap mau Americano? Saya lagi semangat buat dua-duanya, nih,” ucap Rifqi menggoda.
“Kali ini saya pesan butterscotch latte, deh, kemarin saya dapat pencerahan karena minum menu baru buatan Bang Rifqi,” ucap Bagas.
“Halah-halah, bilang aja lagi pengen yang manis-manis, Bang. Oh iya, tapi Abang tunggu sebentar, ya, soalnya menu baruku ini udah jadi salah satu menu best seller disini, saingan nih sama Americano, menu kecintaan Abang dulu, haha”.
“Wah cepat juga tu menu banyak penggemarnya, yaudah tunggu lama pun jadilah, asal aku tetap dapat satu gelas, ya”.
“Siap,” ucap Rifqi semangat.
Bagas mulai melanjutkan tugas-tugasnya. Kali ini, ia sudah tahu harus mulai dari yang mana dulu. Untung sebelum ke coffeeshop ini, Bagas sudah planning dulu harus mengerjakan apa terlebih dahulu.
“Butterscotch latte pesanan pelanggan awak dah siap,” ucap Rifqi mengejutkan.
“Akhirnya …” ucap Bagas yang sudah lama menunggu pesanannya.
Bersambung …
Baca Juga: Jejak Remaja (Bagian 3)
Editor: Naqiyya Alayya Arham Rambe

