
Penulis: Nazwa Nabilah Lubis
Hari sudah menunjukkan pukul 22.53 WIB, yang artinya sebentar lagi hari akan larut malam. Coffeeshop ini tutup pukul 01.00 WIB, namun tugas-tugas tumpukan Bagas tak kunjung menemukan titik akhir.
“Besok datangnya pagi aja, Bang,” ucap Rifqi.
“Besok pagi saya kerja, Bang.”
“Oh begitu. Maksud saya biar pas aja gitu.”
“Pas kenapa, Bang?”
“Ya, Abang kan selalu jadi penutupan nih di coffeeshop kami, daripada jadi orang yang terakhir terus, mending jadi orang yang pertama datang juga.”
Baca Juga: Jejak Remaja (Bagian 3)
“Ngeledek saya, ya, Bang? Atau ngusir nih ceritanya?”
“Eh, enggak kok, Bang, hehe. Ada yang bisa dibantu, Bang?”
“Bantu doa aja deh, Bang. Saya enggak tahu ini akhirnya sampai mana biar tugas saya selesai.”
“Enggak apa-apa, Bang. Bilang aja kalau ada yang bisa dibantu.”
“Yaudah, Bang, kita tukaran aja, saya jadi barista, Abang yang kerjain tugas saya, ya, lagi stuck nih.”
“Kalau itu enggak dulu deh, Bang. Abang kerjain aja, nanti saya semangatin.”
Bagas menghela napasnya dengan panjang, seolah ini memang sudah hal yang biasa. Alasan coffeeshop ini menjadi tempat langganannya adalah karena baristanya yang ramah dan tempatnya juga nyaman. Karena saking seringnya ngopi di tempat ini, Bagas dan Rifqi benar-benar sudah akrab. Terkadang, lelucon-lelucon seperti tadi menjadi alasan Bagas untuk tetap tertawa di tengah kehidupan yang tiada damainya ini. Humor receh, tetapi cukup untuk mengurangi berat hidup beberapa gram.
Karena pukul sudah menunjukkan 00.51 WIB, Bagas akhirnya mulai menyusun barang-barang bawaannya karena sebentar lagi coffeeshop ini akan segera tutup.
“Aman tugasnya, Bang?” tanya Rifqi.
“Enggak, belum aman.”
“Terus gimana? Kita udah mau tutup nih.”
“Ya, saya geser.”
“Semangat ya, Bang, hehe. Semoga tugasnya cepat selesai.”
“Mau ikut enggak?”
“Enggak, Bang, saya juga mau ngopi.”
Hari-hari berikutnya selalu sama. Kuliah, organisasi, tenggat, coffeeshop, dan Americano lima shot.
Suatu hari, Bagas mulai membuka media sosialnya. Teman satu kelasnya baru saja mengunggah foto wisuda, ada juga yang mengunggah foto ia diterima bekerja, ada yang mengunggah ia sedang liburan ke luar negeri. Sementara Bagas? Begini-begini saja. Revisi, laporan, rapat, dan notifikasi customer. Malam ini sepertinya ia akan memesan Americano sepuluh shot. Bisa-bisa besok Bagas hanya tinggal nama.
Ia menutup ponselnya, menghela napas panjang, dan berkata, “Mungkin aku ketinggalan, atau mereka tidak menungguku, ya?” Ironisnya, dunia tidak pernah menunggu, ia akan terus berjalan tanpa peduli kamu siap atau tidak. Setiap orang punya garis start-nya masing-masing. Hidup adalah pilihan. Maka dari itu, Bagas memilih untuk datang ke coffeeshop langganannya daripada harus memikirkan hal-hal yang memang sedari awal di luar kendalinya. Berusaha saja.
“Bang, pesan seperti biasa, ya,” ucap Bagas.
“Americano?”
“Yoi.”
“Mau coba menu lain enggak? Sekarang kami ada menu yang kamu bilang lagi ngehitz.”
“Butterscotch?”
“Yoi.”
“Abang udah tahu resepnya, nanti enggak enak, kan biasanya enggak pernah buat menu butterscotch. Lagian hidup saya hari ini belum membutuhkan yang manis-manis, masih setia dengan Americano.”
“Coba dulu. Saya ini barista tetap. Ada alasan mengapa saya dijadikan barista tetap.”
“Memang alasannya apa, Bang?”
“Ya karena saya cepat belajar, soal menu baru itu easy.”
“Enggak bisa diukur dari situ lah, Bang.”
“Kenapa tidak? Kamu saja menentukan rintangan hidup seseorang berat atau tidak dari apa yang ia pesan. Mau coba dulu tidak?” ucap Rifqi membujuk.
“Ya sudah deh, Bang. Pokoknya kalau enggak enak, saya enggak mau bayar, saya kan pesan Americano.”
Rifqi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Ia suka ketika diremehkan, karena di saat itu ia bisa membuktikan dirinya. Kali ini, ambisinya adalah membuat kopi butterscotch latte yang approve di lidah pelanggannya yang satu itu. Rifqi ingin menunjukkan bahwa di coffeeshop ini tidak hanya ada Americano yang ia bisa rasakan dan lihat. Lagipula, selama ini, Rifqi selalu melihat ekspresi dari pelanggannya itu tidak menikmati Americano-nya.
Bersambung …
Baca Juga: Latar Belakang Mumpuni Tak Menjamin Kebahagiaan Abadi
Editor: Naqiyya Alayya Arham Rambe

