
Penulis: Nazwa Nabilah Lubis
Hidup serba berkecukupan dan tidak pernah kekurangan apa pun, siapa bilang hidup yang seperti itu menyenangkan? Hai, perkenalkan namaku Siska. Aku adalah anak semata wayang ayah dan ibuku. Aku adalah harapan mereka. Saat ini, aku bersekolah di SMAN 2 Kwangya dan duduk di bangku kelas XII SMA.
Ayahku adalah seorang CEO di bisnis yang dikembangkan di keluarga kami sejak turun-temurun, dan ibuku mempunyai satu toko butik yang ia bangun sejak masih duduk di bangku kuliah. Toko butik ibuku sangat terkenal di kota ini, bahkan kancah penjualannya sudah mencapai tingkat internasional.
Baca Juga: Americano Lima Shot, Seporsi Kemenangan dan Kekalahan /2/
Ayah seorang CEO dan ibu yang mempunyai toko butik terkenal membuat deskripsi di pikiran orang-orang bahwa hidupku sangat menyenangkan karena tidak perlu memikirkan akan makan apa hari ini. Begitu ekspektasinya.
Hobiku adalah menggambar. Aku selalu mendapatkan nilai tinggi pada pelajaran seni di sekolah, dan impianku adalah menjadi seorang arsitek. Aku juga banyak memenangkan perlombaan menggambar sebagai perwakilan sekolah.
Entah sudah berapa kali aku mewakili sekolah dan bahkan pernah sampai di tingkat internasional. Hal itu membuat keinginanku menjadi seorang arsitek bertambah sangat besar. Di sekolah, aku adalah anak yang sangat periang. Kepribadianku yang seperti itu sangat bertolak belakang dengan kepribadianku saat berada di rumah.
Di rumah, aku adalah anak yang tidak banyak berbicara, jarang keluar kamar, dan bahkan jarang berkomunikasi dengan orang tuaku. Bagaimana bisa ingin sering berkomunikasi? Orang tuaku benar-benar hanya sibuk mengurusi bisnis mereka.
Karena hal itu, aku hanya akan bersemangat jika pergi ke sekolah. Bahkan, aku sering menghabiskan waktuku hingga sore di sekolah. Berbeda ketika aku hendak pulang ke rumah, karena setelah sampai rumah aku hanya akan masuk ke kamar sebab tidak ada yang menungguku di rumah.
Masa-masa duduk di bangku kelas XII SMA ini benar-benar membuatku menyadari bahwa aku telah berada di fase dewasa. Artinya, aku dan teman-teman sekelasku setelah ini akan memilih sendiri jalan hidup kami masing-masing untuk masa depan.
Suatu malam, ayah dan ibuku ada di rumah kala itu. Benar saja, mereka berdua hanya sibuk dengan gawai mereka dan mengurusi bisnis mereka. Aku berpikir, mungkin sudah saatnya aku memberi tahu orang tuaku mengenai rencana masa depanku. Aku menghampiri kedua orang tuaku.
“Aku rasa di masa depan aku akan menjadi seorang arsitek, Ayah, Ibu,” ucapku kepada ayah dan ibu. “Aku rasa tidak perlu penjelasan panjang mengapa aku ingin menjadi arsitek. Aku benar-benar tertarik dengan seni. Aku juga telah banyak memenangkan perlombaan seni menggambar. Kurasa itu sudah cukup menjadi pembuktian,” ucapku menimpali.
“Tidak usah berangan-angan ingin menjadi apa pun itu, apalagi menjadi seorang arsitek. Kau akan meneruskan bisnis ayah dan akan tetap seperti itu. Buanglah pikiran tentang arsitekmu itu,” ucap ayah.
“Fokuslah pada nilai belajarmu, jangan hanya pada pelajaran seni. Berikan nilai terbaik pada akhir kelulusanmu. Semua perlombaan yang kau menangkan sebenarnya sangat tidak berguna, jadi fokuslah pada belajarmu,” ucap ibu menambahi.
Setelah pembicaraan itu, aku benar-benar kesal dan marah. Sekali lagi, aku tidak meluapkan amarahku. Aku lebih memilih meninggalkan orang tuaku dan kembali saja ke kamarku. Aku tidak tahu apakah orang tuaku yang mendidikku begitu keras atau hanya hatiku saja yang mudah terbawa perasaan. Itu begitu menyakitkan.
Mereka menuntutku untuk menjadi apa yang mereka inginkan, namun mereka tidak pernah menuntunku. Inilah realitasnya. Aku hidup serba berkecukupan, namun tidak punya kebebasan untuk hidupku sendiri. Bahkan, ingin menjadi apa aku ke depannya, apakah aku benar-benar tidak bisa menentukannya sendiri? Apakah tidak ada rasa penghargaan atas apa yang telah aku raih selama ini sebagai seorang anak?
Walau pahit, inilah alurnya. Banyak orang tua yang menginginkan anaknya sesuai dengan keinginannya, bukan sesuai kemampuan anaknya. Orang tua memang baru pertama kali hidup di dunia ini, jadi wajar saja sering membuat kesalahan sebagai manusia. Namun, apakah seorang anak juga sama? Seorang anak juga baru pertama kali hidup di dunia, jadi wajar jika ia melakukan sesukanya.
Berlatar belakang berkecukupan bukan berarti menjadi faktor kebahagiaan abadi, seperti kisahku ini. Aku hanyalah seorang calon mahasiswi yang ingin mengejar mimpi dengan bakatku sendiri. Peran orang tua masih sangat berarti, tanpa harus dikecam ini dan itu. Walau sebenarnya, ini adalah perihal gengsi dan faktor utamanya adalah tentang komunikasi.
Ke depannya, mungkin aku akan terbiasa dengan semua alur kehidupanku ini. Mari berdamai dengan diri sendiri, tanpa harus ada orang lain yang tersakiti. Peran orang tua yang begitu minim edukasi walau memiliki banyak harta gono-gini, semoga menjadi sesuatu yang indah suatu saat nanti.
Baca Juga: Americano Lima Shot, Seporsi Kemenangan dan Kekalahan /1/
Editor: Naqiyya Alayya Arham Rambe

