
Penulis: Nazwa Nabilah Lubis
Setelah obrolan panjang itu, akhirnya kopi Americano lima shot pesanan Bagas siap disajikan. Tegukan pertama adalah saksi beratnya hidup Bagas di hari itu. Dalam tegukan pertama, Bagas tidak menyangka ternyata Americano lima shot memang sepahit itu, tetapi tentu saja tidak lebih pahit dari tugas-tugas yang menghantuinya malam ini.
“Akhh, berat, berat, berat,” ujarnya.
“Mantap, Bang? Kalau enggak kuat nangis aja, itu di sebelah ada tisu,” ucap Rifqi.
“Aman aja lah, Bang, enggak gaya kita kali itu.”
Baca Juga: Americano Lima Shot, Seporsi Kemenangan dan Kekalahan /1/
Bagas termasuk generasi yang tumbuh bersama internet. Bangun tidur cek notifikasi, sebelum mandi cek media sosial, dan sebelum tidur malah overthinking karena melihat pencapaian orang lain di media sosial. Bagas punya prinsip “tidak peduli omongan orang”. Nyatanya, setiap malam ia selalu kepikiran omongan orang. Sebenarnya enggak mau dipikirin, sih, tapi kepikiran.
Bagas meeupakan mahasiswa semester VII, yang tergabung dalam organisasi dan bekerja sebagai freelance. Terkadang, ia juga lupa kalau dirinya juga manusia yang perlu istirahat. Kalender Bagas semuanya penuh deadline. Tidak ada jadwal untuk bernapas. Skripsi sudah sampai mana? Revisi laporan jangan lupa. Revisi customer tolong secepatnya, ya. Ada waktu ketika semua notifikasi datang bersamaan, membuat Bagas bingung harus mulai dari mana.
Lelah mental, lelah tenaga, dompet tipis. Tetapi tetap harus ngopi. Terkadang Bagas berpikir, akankah semua hari berat ini disisipkan untukku agar di kemudian hari aku telah terlatih menjadi seorang CEO? Why not? CEO yang hari-harinya selalu dipenuhi rapat dadakan dengan rekan kerjanya.
Setelah semua suara-suara itu, Rifqi ternyata mendapati Bagas sedang berkhayal di depan layar laptopnya. Bukannya menyantap kopi hidangannya, ia justru lebih memilih menyantap lamunan-lamunan yang sedang penuh di kepalanya itu.
“Bang, awas kopinya hilang,” ucap Rifqi yang menegur Bagas agar terbangun dari khayalannya.
Suara Rifqi membuyarkan lamunan Bagas.
“Saya penasaran,” ucap Rifqi.
“Penasaran kenapa?”
“Kenapa selalu Americano? Lima shot lagi.”
“Soalnya pahit.”
“Itu alasan?”
“Iya. Kalau hidup lagi pahit, kopinya jangan manis. Biar enggak bingung mana kenyataan, mana hiburan.”
“Bang Bagas terlalu banyak filosofi, ya.”
“Ada filosofi lain juga dari jenis-jenis kopi yang lain. Mau tahu enggak?”
“Boleh,” ucap Rifqi penasaran.
“Oke, pertama dari Americano dulu, ya. Biasanya orang-orang yang pesan Americano adalah orang-orang yang sedang bingung akan dirinya. Rasanya memang pahit, tetapi itu hanya di awal. Justru dari rasa pahit itu kita bisa belajar menikmati proses. Sama seperti hidup, tidak semua hal harus manis baru bisa bermakna.”
“Kedua, cappuccino. Ini perpaduan antara kopi dan susu. Orang-orang yang pesan ini biasanya melambangkan keseimbangan dalam hidup. Jadi hidupnya belum berat-berat kali lah, masih bisa menikmati yang manis-manis.”
“Ketiga, cold brew. Yang saya tahu, ini buatnya dengan proses yang lama, barulah bisa disajikan kopi dengan rasa yang brew abiez. Berarti ini menyimpulkan bahwa orang-orang yang memesan menu ini selalu berprinsip bahwa hasil terbaik sering kali membutuhkan banyak kesabaran dan waktu.”
“Yang lagi tren sekarang saya dengar sih menu butterscotch latte. Tidak terlalu pahit dan rasanya cenderung lebih lembut dan creamy dibandingkan dengan kopi karamel biasa. Jadi istilahnya, jika Americano adalah simbol keberanian dalam menghadapi kenyataan, maka butterscotch latte adalah pengingat bahwa setelah banyak hari yang pahit, seseorang punya hak untuk menikmati rasa manis.”
“Bang, ini masih mau lanjut? Kalau saya lanjut, takutnya abang enggak kebagian dialog lain nih,” ucap Bagas meyakinkan.
“Oh iya-iya, lanjut saja, saya dengerin, kok. Ini saya juga lagi buat pesanan untuk yang lain.”
“Mending saya lanjut tugas saya aja deh, Bang.”
Bersambung …
Baca Juga: Jejak Remaja (Bagian 2)
Editor: Naqiyya Alayya Arham Rambe

