Americano Lima Shot, Seporsi Kemenangan dan Kekalahan /1/

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet https://www.halodoc.com/)

Penulis: Nazwa Nabilah Lubis

Bagi Gen Z, kopi bukan sekadar minuman biasa, tetapi simbol perjalanan hidup. Menurut penelitian, ketika Gen Z mengalami masalah, mereka tidak mencari validasi, tetapi mencari coffee shop baru yang harus dikunjungi. Itulah wishlist mereka. Bagi Gen Z, coffee shop bukan hanya tempat minum kopi atau nongkrong, tetapi juga tempat belajar, bekerja, rapat organisasi, atau hanya sekadar mencari suasana baru.

Burnout karena tugas kuliah, organisasi, kebiasaan overthinking, FOMO setelah melihat pencapaian teman di media sosial, memang paling pas jika diakhiri dengan menikmati kopi sambil mencari makna hidup ini. Gen Z bisa tidak makan nasi sehari, tetapi tidak bisa jika tidak minum kopi sehari.

Baca Juga: Jejak Remaja (Bagian 2)

Selain peduli dengan work-life balance dan kesehatan mental, ternyata kopi menjadi salah satu penyelamat tak bersayap yang selalu bersama Gen Z. “Semua akan terlewati, tapi ngopi dulu.” Ini bukan slogan fiksi, tetapi realitas yang selalu mengisi hari-hari mereka. Jangan heran ketika Gen Z diajak keluar, mereka akan menyarankan coffee shop yang ada di daftar mereka. Ketika mereka hilang arah, satu solusi termanjur: tolong arahkan mereka ke coffee shop terdekat.

Ibaratnya, kopi sudah masuk daftar kebutuhan pokok sehari-hari, bersaing dengan nasi. Ajakan “ngopi, yuk” bukan sekadar ajakan biasa. Itu adalah ajakan seseorang yang sedang bertarung dengan dunianya dalam mencari makna hidup. Kopi bukan hanya sekadar solusi, ia adalah jeda dari hidup yang tengah terus berlari.

Bagas, mahasiswa semester VII, dan tentu saja ia adalah seorang Gen Z. Baginya, setiap jenis kopi menjadi simbol fase kehidupan. Hidup seseorang bisa diukur dari jenis kopi apa yang mereka pesan. Itulah yang ia yakini.

Suatu hari, di sebuah sudut coffee shop yang selalu ramai, Bagas duduk di depan laptopnya yang layarnya selalu dipenuhi revisi skripsi, laporan, notifikasi grup organisasi, dan tugas kuliah yang deadline-nya besok. Enggak deadline, enggak oke. Dalam hidup, ia hanya melihat deadline, deadline, dan deadline, asal bukan Bagas yang end.

Hari ini terasa berat baginya. Semua hal harus dikerjakan, tetapi ia bingung harus memulai dari mana. Itu hal yang wajar. Namun, Bagas datang ke tempat yang tepat, coffee shop langganannya. Hari ini, ia benar-benar sangat membutuhkan banyak ide agar tidak stuck dengan pekerjaan yang sedang ia cicil. Bukan cicilan uang, sih, tetapi kalau tidak dicicil akan jadi marabahaya.

“Bang, seperti biasa, ya,” ucap Bagas santai kepada barista yang ada di depannya.

“Americano one shot?” ucap barista.

“Tambah lima shot deh, Bang. Banyak yang mau dikejar malam ini.”

“Kalau nangis, abang nggak tanggung jawab, ya!”

“Enggak bakal lah, Bang.”

Barista mulai menggiling biji kopi dan membuat pesanan untuk pelanggannya yang satu itu, meskipun kali ini pesanannya cukup membuat jantung terkejut. Namanya Rifqi, barista yang selalu hafal setiap pesanan pelanggan tetap, tetapi tidak benar-benar tahu alasan dan cerita di balik kopi yang dipesan.

“Berat banget, Bang, hari ini?”

“Berat, Bang. Kukira semester VII bukan hanya tentang mengejar mimpi, tetapi ternyata ada cicilan deadline, revisi yang tak tahu kapan selesainya, rapat organisasi, dan tugas yang sudah selesai satu, besok datang lagi. Ya, meskipun kopi tidak bisa menghapus semuanya, setidaknya malam ini ada beberapa yang masih bisa diselesaikan.”

“Curhat, ya, Bang? Lagi perang sama siapa, sih, Bang?”

“Sama hidup. Enggak usah nanya sih, Bang, tadi. Mending Americano lima shot pesanan saya cepat dibuat, hehe,” ucap Bagas dengan akrab.

“Yowes, ini lagi dibuat. Tangan saya gemetar bikin lima shot, takut yang minum juga getar-getar.”

Bersambung …

Baca Juga: Edelweis yang Tak Pernah Layu /2/

Editor: Naqiyya Alayya Arham Rambe

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles