Edelweis yang Tak Pernah Layu /2/

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok.Instagram @chika_19yra)

Penulis: Ummy Syafitri 

Menjelang siang, vaksinasi hampir selesai. Kirana membawa map berisi daftar siswa yang telah divaksin menuju meja pemeriksaan.

“Dok, ini data kelas tiga.”

Reza menerima map itu sambil tersenyum sopan.

“Terima kasih, Bu Guru.”

Saat jari mereka bersentuhan sesaat, Kirana merasa waktu seperti berputar mundur.

Baca Juga: De’ Journey of Struggle (1)

Dulu tangan itu pernah menggenggam tangannya saat mereka menyeberang jalan. Pernah menuliskan namanya di buku catatan. Pernah menghadiahkan sebuah gantungan kunci kecil saat ulang tahunnya. Semua kenangan itu datang begitu saja.

Berbeda dengan Reza. Ia membuka map tersebut, lalu berhenti.

Tatapannya beralih kepada Kirana. Lama. Seolah sedang berusaha mengingat sesuatu.

“Maaf …”

Kirana menahan napas.

“ … kita pernah bertemu?”

Kalimat itu jatuh pelan, tetapi terasa menghantam dadanya. Ia memaksakan senyum.

“Pernah.”

Reza mengernyitkan dahi.

“Aneh …”

“Kenapa?”

“Rasanya wajah Ibu sangat familiar.”

Ia memejamkan mata beberapa detik. Keningnya makin berkerut.

“Aku seperti pernah …”

Kalimat itu menggantung. Beberapa detik kemudian ia menggeleng pelan.

“Maaf.”

Nada suaranya terdengar penuh penyesalan.

“Akhir-akhir ini ingatanku memang sering bermasalah.”

Kirana hanya mengangguk.

“Tidak apa-apa.”

Namun setelah ia berbalik meninggalkan meja itu, dadanya terasa makin sesak.

Bukan karena Reza lupa. Melainkan karena ia tampak benar-benar berusaha mengingat.

Saat jam istirahat tiba, aula mulai lengang. Sebagian tenaga medis makan siang di ruang guru.

Kirana memilih berdiri di teras sekolah sambil menikmati hujan yang belum juga reda.

“Bu Kirana?”

Ia menoleh. Seorang perawat perempuan menghampirinya sambil membawa dua gelas teh hangat.

“Silakan.”

“Terima kasih.”

Perawat itu ikut berdiri di sampingnya.

“Bu Kirana kenal Dokter Reza?”

Pertanyaan itu membuat Kirana tersenyum tipis.

“Dulu kami teman SMA.”

Perawat tersebut tampak mengangguk pelan.

“Pantas.”

“Pantas apa?”

“Tadi Dokter Reza beberapa kali melihat ke arah Ibu.”

Jantung Kirana kembali berdegup.

“Benarkah?”

“Iya. Beliau bilang wajah Ibu terasa sangat familiar, tapi beliau tidak tahu di mana pernah melihatnya.”

Kirana menunduk.

Perawat itu terdiam sejenak sebelum berkata dengan suara lebih pelan.

“Sebenarnya saya tidak seharusnya banyak bercerita …”

Ia menarik napas panjang.

“Tapi saya rasa Ibu memang seseorang yang pernah berarti dalam hidup beliau.”

Kirana memandangnya bingung.

Perawat itu melanjutkan, “Dokter Reza didiagnosis mengidap Alzheimer stadium awal sekitar tiga tahun yang lalu.”

Dunia seakan berhenti. Hujan masih turun. Namun, suara rintiknya mendadak menghilang dari pendengaran Kirana.

“ … Alzheimer?”

Perawat itu mengangguk pelan.

“Awalnya hanya lupa jadwal praktik. Lalu mulai lupa menaruh barang. Terkadang, beliau mengulang pertanyaan yang sama tanpa sadar.”

Kirana menggenggam gelas teh lebih erat.

“Tapi beliau tidak pernah menyerah.” Perawat itu tersenyum tipis.

“Bahkan sering bilang kepada kami …”

“Kalau suatu hari nanti aku lupa banyak hal dalam hidupku, setidaknya aku ingin tetap menjadi seseorang yang berguna bagi orang lain.”

Air mata hampir jatuh dari pelupuk mata Kirana. Selama bertahun-tahun …

Ia mengira Reza telah melupakannya karena waktu.

Ternyata …

Ada alasan yang jauh lebih menyakitkan.

Ia menoleh ke arah aula.

Dari balik pintu kaca, Reza masih tampak tersenyum kepada murid-murid yang mengerubunginya. Tidak ada yang tahu bahwa di balik senyum itu, ia sedang berjuang melawan ingatannya sendiri.

Kirana memejamkan mata. Di dalam dadanya, sebuah pertanyaan perlahan tumbuh.

“Kalau suatu hari nanti ia benar-benar melupakan semua orang … apakah masih ada sedikit ruang di hatinya yang akan tetap mengingatku?”

Hujan terus turun, membasahi halaman sekolah.

Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun, Kirana menyadari bahwa pertemuan mereka bukanlah awal dari kisah lama yang kembali, melainkan awal dari perjuangan baru, perjuangan melawan lupa.

Bersambung …

Baca Juga: Edelweis yang Tak Pernah Layu /1/

Editor: Tengku Wafa’ Alifah

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles