
Penulis: Nazwa Nabilah Lubis
Seminggu setelah sidang rasanya aneh sekali. Laptop yang biasanya terbuka 24 jam untuk mengerjakan revisi, sekarang hanya digunakan untuk menonton YouTube dan melihat lowongan kerja. Folder “Skripsi FINAL” sudah dipindahkan ke hard disk. Namun, ternyata setelah sidang itu belum selesai juga. Masih ada wisuda.
Undangan wisuda datang dua minggu kemudian. Nama Bagas ada di urutan 37, Program Studi Ilmu Komunikasi, tanggal 20 Oktober. Malam pertama setelah mendapat undangan, Bagas melakukan video call ke rumah.
Baca Juga: Americano Lima Shot, Seporsi Kemenangan dan Kekalahan/7/
“Bu, Bagas jadi wisuda tanggal 20.”
“Alhamdulillah, Nak. Bapak sama Ibu ke sana, ya. Mau melihat anak Bapak wisuda.”
“Iya, Bu. Tapi jangan menangis di gedung, ya.”
“Ya, tidaklah,” jawab ibunya, padahal suaranya sudah tertahan.
Persiapannya lumayan ribet. Sewa toga, sewa jas, foto studio, dan membeli bunga. Bagas menghitung semuanya di catatan ponsel.
“Lumayan, tapi tidak apa-apa. Sekali seumur hidup.”
Tiga hari sebelum wisuda, Bagas ke kampus untuk gladi bersih. Cuaca panas. Lapangan digunakan untuk latihan baris. Dosen pembimbing akademik berteriak menggunakan mikrofon.
“Yang namanya dipanggil, jalan, salim, foto, lalu turun. Jangan menoleh ke kanan dan kiri!”
Bagas tertawa. Dulu, saat menjadi mahasiswa baru, ia berpikir, “Wisuda itu kapan, ya?” Sekarang, hari itu benar-benar akan terjadi.
Malam sebelum wisuda, ia tidak bisa tidur. Bukan karena gugup, tetapi karena terlalu bersemangat. Pukul 11, ia mengirim pesan kepada Rifqi.
“Besok aku wisuda, Fi.”
“Masyaallah, aku diundang, nih?”
“Boleh, kalau tidak sibuk.”
“Besok aku libur, mau datang, deh.”
“Pakai baju rapi, ya. Jangan pakai kaus coffeeshop,” ujar Bagas meledek.
“Siap, Bos.”
Keesokannya, Bagas bangun pukul 4. Ia mandi air hangat, lalu mengenakan jas yang agak sempit di bagian bahu karena sudah tiga bulan tidak dipakai. Rambutnya disisir menggunakan pomade pinjaman dari teman kos. Pukul 6 ia sudah berada di kampus. Orang tuanya datang pukul 7 dengan membawa koper kecil berisi oleh-oleh untuk tetangga kos.
Begitu melihat Bagas mengenakan toga, ibunya langsung memeluknya.
“Nak … besar sekali kamu sekarang.”
Bagas hanya diam. Takut kalau berbicara, ia malah ikut menangis.
Acara dimulai pukul 8. Pidato rektor, sambutan, lalu pembacaan nama. Panas sekali, tetapi tidak ada yang mengeluh. Semua sibuk berfoto.
“Wisudawan nomor 37, Bagas Pramudya, dengan IPK 3,42, predikat ‘Sangat Memuaskan’.”
Saat namanya disebut, Bagas berjalan menuju panggung. Kakinya terasa kaku. Ia menaiki tangga, menyalami rektor, menerima map ijazah, berfoto selama tiga detik, lalu turun.
Di bawah panggung, orang tuanya sudah menunggu sambil memegang bunga mawar putih. Ibunya kembali memeluknya. Kali ini, ia benar-benar menangis. Bapak menepuk pundak Bagas pelan.
“Bapak bangga, Nak. Terima kasih sudah mengalahkan capeknya.”
Rifqi juga datang. Ia membawa buket bunga matahari yang dirakit sendiri dari kertas krep.
“Ini bunga anti-layu, Bang. Seperti semangat abang.”
Bagas tertawa sambil menerima bunga itu.
“Terima kasih, ya, Fi. Kalau tidak ada menu butterscotch baru, sepertinya setahun ini mungkin aku sudah menyerah.”
Mereka berfoto bersama keluarga, Rifqi, dan teman-teman sekelas. Ada yang menangis, ada yang berteriak, ada yang melempar toga. Bagas ikut melempar toga juga. Rasanya lega.
Acara selesai pukul 12. Mereka makan siang di warung dekat kampus. Sederhana, tetapi terasa paling enak sedunia hari itu.
Sorenya, orang tua Bagas kembali ke kampung. Di stasiun, ibunya masih sempat berbisik,
“Jaga diri baik-baik, ya. Cari kerja yang halal.”
“Iya, Bu. Doakan Bagas, ya, Bu.”
Malamnya, kosan terasa sepi. Toga sudah dilipat rapi. Ijazah ditaruh di dalam plastik, kemudian dimasukkan ke laci. Bagas duduk di kasur sambil melihat langit-langit.
Setahun lebih perjuangannya. Dari begadang, revisi, ditolak jurnal, sampai menangis di kamar karena data tidak ditemukan. Sekarang semuanya sudah lewat.
Ponselnya berbunyi. Ada notifikasi email.
“Lowongan Content Creator di salah satu media online Medan.”
Bagas tersenyum. Oke, bab kuliah sudah ditutup. Bab baru akan dimulai.
Ia membuka jendela. Angin malam masuk. Kipas angin masih berbunyi “krek krek” seperti dulu. Namun, kali ini suaranya tidak mengingatkan pada deadline. Hanya menemani.
“Akhirnya,” bisik Bagas pelan.
Esok ia ingin melamar kerja, dan memulai hidup baru. Namun malam ini, ia ingin menikmati menjadi “Sarjana” dulu.
Bersambung …
Baca Juga: Jejak Remaja (Bagian 6)
Editor: Ummy Syafitri

