Americano Lima Shot, Seporsi Kemenangan dan Kekalahan/7/

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet https://www.halodoc.com/)

Penulis: Nazwa Nabilah Lubis

Setelah pesan dari dosen itu masuk, Bagas duduk kaku di depan laptop hampir 5 menit. Pesan itu terus dibaca ulang, lalu di-screenshot kemudian dikirim ke grup keluarga.

“Bu, Pak, Bagas sidang minggu depan,” ketiknya penuh haru.

Balasan langsung ramai. Stiker doa, voice note nangis, semua ada. Malam itu, Bagas tidak langsung bergadang. Aneh. Biasanya kalau ada revisi, ia bisa melek sampai jam 3. Tapi kali ini beda. Di kepalanya cuma satu, yaitu sidang.

Baca Juga: Jejak Remaja (Bagian 6)

Ia mulai menyicil dari hal paling kecil. Setrika kemeja, semir sepatu. Print hardcopy skripsi 3 rangkap, dijilid rapi di percetakan dekat kos. Tukang jilidnya sampai nanya, “Sidang, ya, Mas?” Bagas cuma senyum sambil garuk kepala.

Dua hari sebelum sidang, Bagas pergi ke kampus untuk mengurus berkas. Bertemu teman-teman seperjuangan di lobi. Ada yang mukanya pucat, ada yang sudah santai banget.

“Udah siap belum, Gas?” tanya Dita, teman satu dosen bimbingan Bagas.

“Belum tahu. Yang penting slide sudah jadi,” jawab Bagas. Padahal di dalam hati, deg-degannya sama.

Malam sebelum sidang ia latihan di kamar. Menghadap kaca. 15 menit presentasi. Awalnya terus diulang-ulang di bagian “landasan teori”. Diulang lagi. Sampai akhirnya lancar sambil sesekali menunjuk layar. Kipas angin jadi saksi bisu.

Jam 1 malam Bagas kirim pesan ke Rifqi.

“Fi, kalau aku blank gimana?”

“Ya diem dulu, Bang, minum. Terus jawab sebisanya. Penguji juga manusia.”

“Kamu kok tenang banget, sih?”

“Karena aku tahu abang sudah paling ngerti isi skripsi abang sendiri. Masa kalah sama revisi jam 2 pagi yang dulu?”

Bagas ketawa kecil. Iya juga.

Hari H sidang, Bagas bangun jam 5. Salat, sarapan seadanya. Kemeja biru muda, celana hitam, sepatu yang sudah kinclong. Di tas ada botol minum, flashdisk cadangan, dan bunga kecil buat “self-reward” nanti.

Di perjalanan ke kampus, Bagas mampir beli es teh, agar tenggorokannya tidak kering. Kampus ramai. Banyak yang pakai jas, toga, ada juga yang masih bingung cari ruangan.

Ruangan sidang Bagas nomor 3. AC dingin, meja panjang, serta tiga penguji sudah duduk. Bagas masuk ke ruangan.

“Silakan Bagas, waktunya 15 menit,” ujar salah satu dosen penguji.

Detik pertama kaku. Suara tertahan di tenggorokan. Namun, ketika slide pertama terlewat, pelan-pelan lancar. Bagas cerita tentang penelitiannya seperti lagi cerita ke Rifqi di coffeeshop. Bahasa yang nggak terlalu ilmiah, tetapi mengena.

Sesi tanya jawab dimulai. Pertanyaan pertama aman. Kedua agak belibet. Ketiga, penguji menanyakan kelemahan penelitiannya. Bagas diam 3 detik. Lalu, menarik napas.

“Untuk kelemahannya, saya akui di bagian sampel masih terbatas. Tapi untuk penelitian selanjutnya bisa dikembangkan lagi dengan sampel-sampel yang lebih beragam.”

10 menit diskusi penguji rasanya seperti 1 jam. Bagas duduk di kursi plastik, minum es teh sampai 2 gelas. HP bunyi terus, ada telepon dari Rifqi, Ibu, dan teman-temannya.

Dosen penguji langsung memberikan kesimpulan dari hasil sidang tadi. Bagas kembali deg-degan.

“Dengan ini kami nyatakan Bagas lulus sidang skripsi dengan revisi minor. Selamat, ya.”

Otaknya nge-lag 2 detik. Lalu, sadar. LULUS.

Ia keluar, langsung jongkok di depan ruangan. Bukan nangis. Lebih ke lega yang ketahan setahun. Ia bergegas untuk video call dengan ibunya. Ibunya nangis, sementara Bapak di belakang teriak, “Alhamdulillah, Nak!”

Sorenya, ia langsung ke coffeeshop. Rifqi sudah pasang tulisan kecil di papan: “Selamat untuk pelanggan paling sering revisi.” Dibuatin butterscotch 2. Satu buat ngerayain, satu buat ngenangin semua malam begadang.

“Mau traktir apa, Bang? Udah lulus ini,” goda Rifqi.

“Traktir cerita aja dulu. Aku masih nggak nyangka.”

Mereka duduk sampai jam 11 malam. Ngobrolin yang ringan-ringan. Tidak ada lagi bahas revisi, tidak ada lagi bahas deadline.

Sesampainya di kos, Bagas langsung rebahan. Sambil menoleh ke tumpukan buku, jurnal, dan kertas coret-coret.

Akhirnya selesai juga. Besok urusannya wisuda. Lusa ngirim lamaran kerja. Tapi malam ini, ia ingin tidur nyenyak dulu. Tanpa alarm revisi.

Bersambung …

Baca Juga: Jejak Remaja (Bagian 5)

Editor: Ummy Syafitri 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles