Jejak Remaja (Bagian 5)

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet https://id.pngtree.com/)

Penulis: Hadist Sulistiawati

Malam pun tiba, menyelimuti langit dengan kabut tipis dan lampu kota yang berkelip malu. Hening memenuhi kamar Risha, tetapi tidak dengan grup kelas mereka.

Ponselnya bergetar. Satu notifikasi, lalu dua, kemudian lima.

“Kirim dong foto tadi!”

“Lucu banget sih, pas kita baris depan rumah.”

Tak lama, sebuah nomor dengan awalan +62 membagikan beberapa foto. Foto-foto itu menangkap momen hangat yang tak terulang. Senyum lepas, wajah lelah tetapi bahagia, serta kenangan pertama setelah sekian lama mereka hanya melihat wajah satu sama lain melalui layar.

Baca Juga: Jejak Remaja (Bagian 4)

Risha buru-buru membukanya. Jari-jarinya menggulir pelan hingga matanya terpaku pada satu foto. Dirinya berdiri di antara teman-teman baru dengan wajah berseri, meski saat itu ia tidak benar-benar menyadarinya.

Senyum kecil muncul di bibirnya. Ada rasa hangat yang menjalar di hati, rasa nyaman dan diterima. Namun, semuanya berubah dalam sekejap.

Sebuah pesan dari Balqis muncul di grup.

“Davan lucu, ih, mukanya imut.”

Dada Risha terasa seperti disiram air es. Jantungnya seakan mengecil oleh kata-kata sederhana yang entah mengapa terasa begitu menyakitkan.

Ia membaca ulang pesan itu, lalu kembali menatap foto tadi. Perlahan, ia memperbesar wajah Davan. Dengan kupluk yang menyatu dengan jaket dan senyum sedikit malu-malu, Davan memang terlihat lucu.

Namun, bukan itu yang membuat Risha sesak. Ia teringat kejadian siang tadi. Saat teman-temannya menggoda dirinya dan Davan, Balqis langsung menepis. “Nggak ah, biasa aja.”

Terlalu cepat. Terlalu kuat. Seolah ada sesuatu yang sedang disembunyikan Balqis.

Diam-diam, pertanyaan mulai bermunculan di benak Risha.

“Apakah Balqis menyukai Davan?”

“Apakah aku juga menyukai Davan?”

“Sejak kapan aku jadi begini?”

Risha merasa asing dengan dirinya sendiri. Seolah ada seseorang yang baru sedang tumbuh di dalam dirinya. Seseorang yang mudah gugup, mudah tersenyum, dan kini mudah terluka.

Tak lama kemudian, Davan membalas pesan Balqis. “Apaan sih, Qis, nggak lah, wkwk.”

Balasan santai itu seharusnya membuat Risha lega. Namun entah mengapa, hatinya justru terasa makin panas. Api kecil yang sebelumnya hanya membara kini mulai menyala.

Cemburu, barangkali. Meski ia sendiri belum yakin apakah ia berhak merasakannya.

Ponsel Risha kembali bergetar. Kali ini bukan dari grup, melainkan notifikasi pribadi.

Nama yang muncul membuatnya terdiam. Davan. “Sha, gimana tugas kita tadi?”

Pesan itu sederhana. Namun bagi Risha, rasanya seperti dilempar ke persimpangan. Biasanya, ia akan langsung membalas dengan ramah dan cepat. Tetapi malam ini, jemarinya terasa berat.

Ia hanya memandangi pesan itu cukup lama, seolah berharap hatinya memberikan jawaban lebih dulu.

Akhirnya, ia mengetik singkat. “Iya, Van, nanti ya.” Hanya itu.

Tanpa emoji. Tanpa nada bersahabat. Bahkan tanpa dirinya yang biasanya.

Risha meletakkan ponsel, menarik selimut, dan membiarkan malam menyelimutinya. Namun pikirannya tetap terjaga, berkelana dalam sunyi.

Ia bertanya-tanya.

“Apakah perasaan ini nyata?”

“Atau hanya sepi yang sedang mencari pelabuhan?”

“Jika ini cinta, apakah ia datang di waktu yang salah?”

“Atau justru terlalu cepat untuk disebut apa-apa?”

Risha memilih diam. Bukan karena tak ingin bicara, tetapi karena hatinya sendiri belum tahu harus berkata apa.

Untuk sekarang, ia hanya ingin mendengar detak jantungnya sendiri dan mencoba membaca arah dari debar yang perlahan, tetapi pasti mulai tumbuh.

Bersambung …

Baca Juga: Ibu Selalu Bilang Tidak Apa-apa

Editor: Ummy Syafitri 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles