
- Judul : 172 Days
- Sutradara : Hadrah Daeng Ratu
- Pemeran : Bryan Domani, Yasmin Napper, Yoriko Angeline, Amara Sophie, Abun Sungkar, Adhitya Putri, Ridwan Ghany, Cindy Fatika Sari, Tengku Firmansyah, Meisya Siregar, Hamas Syahid, Oki Setiana Dewi, Messi Gusti, Alfie Alfandi, dan Uli Herdi Nadzira Shafa
- Durasi : 1 Jam 43 Menit
- Tanggal Rilis : 23 November 2023
Peresensi: Rahma Damayanti Azzahro
Berdasarkan novel karya Nadzira Shafa, film drama romantis 172 Days menceritakan narasi perjalanan hijrah Nadzira dan kisah cintanya selama 172 hari dengan mendiang Amer Azzikra, seorang pendakwah dan anak mendiang Ustaz Arifin Ilham. Zira dan Amer, protagonis utama, diperankan oleh Bryan Domani dan Yasmin Napper. Film ini disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu dan diproduksi oleh Starvision. Hadrah Daeng Ratu selaku Sutradara film 172 Days ini menyatakan akan menunjukkan bagaimana nasihat dalam hidup seseorang bisa datang dari sumber yang tidak biasa. Termasuk peristiwa yang digambarkan dalam kisah Zira dan Amer.
Film ini mengisahkan seorang wanita bernama Nadzira Shafa yang berumur 19 tahun mengambil keputusan meninggalkan masa lalunya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Sebelumnya dia terkurung dalam lingkungan yang cukup bebas dan interaksi yang jauh dari agama. Nadzira Shafa memperoleh banyak ilmu agama selama proses hijrahnya dan sering menghadiri acara pengajian. Nadzira Shafa bertemu dengan Amer Azzikra yang berumur 20 tahun dan merupakan seorang ustaz.
Baca Juga: Melihat Kemewahan Saranjana dalam Film Saranjana: Kota Gaib
Suatu hari di pengajian, Zira diajak taaruf oleh Amer melalui Umi Zira dan menjalani kisah cintanya pasca menikah oleh Ustaz Amer Azzikra yang sempat ditemuinya. Awalnnya Zira ragu untuk menerimanya karena merasa malu akan masa lalunya. Namun, kemudian Zira menerima bimbingan yang sangat lembut dari Amer untuk membantunya menjadi wanita muslimah yang salihah. Zira merasa Amer adalah salah satu hadiah terbaik dari Allah Swt. yang diberikan kepadanya.
Perjalanan cinta mereka berlanjut dengan penuh kebahagiaan, mendapatkan dukungan yang sangat besar dari keluarga dan teman-teman. Amer dan Zira melalui hari-hari dengan sangat penuh kasih sayang dan kebahagian. Setiap harinya Amer selalu mempelakukan Zira dengan kasih sayang, mereka selalu melakukan banyak hal bersama. Amer menghadiahkan rumah untuk Zira dan ia ingin menghias rumah mereka sendiri.
Ketika cinta mereka semakin besar setiap harinya, ujian demi ujian pun datang dalam kehidupan mereka. Suatu hari Zira dinyatakan hamil, namun karena umur janin yang sangat muda dan Zira memiliki tubuh yang sangat lemah, mereka berdua sepakat untuk tidak memberikan kabar bahagia ini kepada keluarga. Selang beberapa hari, Zira mengalami keguguran dan peristiwa ini membuat mereka sedih. Namun, Amer tetap meyakinkan Zira bahwa setiap rezeki pasti sudah ada porsinya dan begitu juga untuk mereka.
Suatu hari Amer merasa ada yang aneh dengan keadaan tubuhnya sendiri, mulai mengalami batuk-batuk dan merasa susah untuk bernapas. Zira merasa khawatir dengan keadaan Amer dan membawanya ke rumah sakit. Dokter memberikan kabar bahwa keadaan paru-paru Amer tidak dalam keadaan baik-baik saja, dokter menyarankan untuk dirawat. Setelah beberapa hari di rumah sakit, Amer dinyatakan meninggal dunia. Zira merasa sedih yang amat terdalam karena penikahannya masih menginjak 172 hari atau 6 bulan, ia sudah ditinggalkan sendiri untuk selama-lamanya.
Dari film ini kita dapat menyadari bahwa segala sesuatu yang hidup pasti akan mati. Hal itu tidak bisa dihindari. Kehilangan dan ditinggalkan adalah dua takdir yang tidak bisa kita hindarkan. Siapa pun itu, pasti akan mengalaminya. Terlepas dari kondisi fisik, kebahagian, kekeluargaan, atau pun cinta.
Baca Juga: Belajar Persahabatan dan Karma dari Film “The Boy In The Striped Pajamas”
Editor: Syahda Khairunnisa

