365 Days with him, Arbi

- Advertisement - Pfrasa_F

11139695_956614884369863_765634480_n

Oleh : Wannur Khadillah*

Hembusan angin ini benar-benar membuat mata sayup secara perlahan. Deburan ombak yang kencang bagai suara radio yang tengah siar dengan lagu romantis. Ya, senja tengah kacau. Tetapi mampu alihkan perasaan gegana yang bersarang dalam hati. Saat ini, jika mata memandang lantang ke depan, itu  adalah obat hati yang mujarab. Tetapi sayang, belum ada orang yang berbeda ketika aku hendak menenangkan hati di bibir pantai yang indah ini. Keinginan untuk menjauh malah semakin sulit. Bahkan kurasa benih itu sudah mulai menjadi kecambah.

Dan akhirnya akulah yang terjebak oleh cinta yang dangkal ini. Termakan oleh omongan sendiri. Berkata bahwa tidak akan benar-benar menyayangi pria itu, tetapi malah sebaliknya. Sial! Tapi sudahlah, hal ini sudah terjadi. Aku nikmati kepedihan ini secara perlahan. Aku sadar dia bukan siapa-siapaku sekarang, tapi dialah yang rela menemaniku ke mana pun aku mau. Siapa dia dan apa status dia di hatiku, aku tidak peduli. Yang jelas, siapa pun orangnya yang menurutku nyaman dan tidak membuatku rugi secara materi ataupun fisik, maka itulah yang menjadi teman dekatku saat ini.

Sebut saja Arbi. Dia adalah sosok teman lelaki yang dulu pernah menjadi teman dekatku. Bahkan, berujung pada mahligai cinta hingga jenjang yang lebih serius. Kalangan anak muda biasa mengenalnya dengan pacaran. Waktu berjalan begitu cepat. Perjalanan hidup yang singkat mengubah status hubungan kami pula.

Berawal dari sekolah menengah atas. Penentuan kelas XI dan jurusan berlangsung. Aku, gadis mungil yang biasa mereka sapa Dila terdaftar menjadi siswa kelas XI IPA 1 di salah satu sekolah ternama, begitu pula teman-teman sejawatku. Merasa terasingkan adalah perasaanku kala itu. Sudah menjadi rahasia umum ketika kita pindah ke ekosistem yang baru maka butuh penyesuian untuk beradaptasi kembali. Meskipun lima dari teman sekelasku di kelas X dulu ada di dekatku, tetapi tetap saja aku merasa asing.

“Sumpah rasanya mau nangis! masak iya sih, dari sekian banyak teman dekatku di kelas X tidak ada yang satu kelas lagi denganku?” gerutuku dalam hati.

Hari berjalan seperti biasa. Tetapi hati dan jiwalah yang kala itu menjadi luar biasa. Bahkan meminta pindah sekolah sempat terlontar dari bibir mungilku. Hingga pada suatu ketika aku melihat sosok teman yang menurut penyayang, dan perkiraanku tidak salah. Tidak butuh waktu lama untuk menjadi teman dekat dari pria yang duduk di depan bangkuku.

“Bi, amankan?” sapaku padanya.

“Aman. Kau gimana? Aman juga kan sama Khalil?” katanya.

“Iya. Kalau ada masalah pasti aku cerita denganmu,” sahutku kembali menyambung percakapan.

Kala itu Aku masih menjalin kasih dengan Khalil. Dia adalah ketua OSIS di sekolahku. Tidak lama kemudian waktu yang membuat kami semakin akrab satu sama lain. Dan tibalah kami menjadi mahasiswa yang bergelut di dunia fatamorgana penuh dengan godaan dan tantangan. Sampai pada akhirnya aku putus dengan Khalil dan menceritakan berita duka bagiku ini pada Arbi.

“Bodoh! Kau kira aku suka melihatmu seperti ini, kau kira aku bangga punya kawan cengeng?” ketusnya padaku.

Sontak Aku terkejut dengan pernyataan itu. “Aku bukan cewek lemah ya! Aku bukan cewek cengeng. Manusiawi aku rasa kalau baru putus nangis,” bentakku padanya.

“Mau sampai kapan? Besok? Satu minggu lagi? atau malah satu tahun lagi? Dil, kita masih muda. Apa pantas orang yang baru ngisi kekosongan hidupmu selama dua tahun belakangan dengan histerisnya kau nangis? Enggakkan? Kita boleh masih anak-anak tapi coba dewasalah!” katanya.

Seketika aku terdiam dan berkata, “Aku akan berhenti menangis. Bantu aku untuk move on dari dia!” jawabku. Dia pun langsung menjawaban, “Iya, aku bantu.”

Selang tujuh bulan kemudian, Arbi menyatakan perasaannya padaku. Dia berkata sejak aku memintanya untuk membantuku move on dari Khalil, sejak saat itu pula dia bertekad untuk serius padaku. Kaget sudah pasti. Tetapi itu bukan hal yang baru lagi untukku. Karena tidak jarang aku dengar teman dekat pria dan wanita pasti akan berjung dalam lembah cinta.

Cukup lama untuk memutuskan menerimanya atau tetap menganggapnya sebagai teman biasa. Akhirnya aku pun menerima Arbi, dengan begitu bisa melupakan Khalil.  Dan ternyata benar, sepuluh bulan seru-seruan bersama Arbi aku bisa melupakan Khalil seutuhnya.  Tetapi sayang, kisahku dan Arbi pun mulai di terpa masalah yang sebenarnya tidak begitu penting. Cemburu adalah salah satu faktor utamanya.

Aku merasa frustrasi kala itu. Berharap dengan mendapatkan cinta yang baru akan menjadi tentram, eh malah semakin mengacaukan pikiran dan suasana hatiku. Warna-warni di dalam colour run di sebuah festival menggambarkan perjalanan cintaku dan Arbi. Dia teman, pacar, dan juga teman berkelahiku kini telah menjadi sosok mantan yang terus ada di dekatku.

Entah apa yang aku pikirkan, sampai pada akhirnya tepat di hari ke-365 bersamanya berubah menjadi kelabu. Aku menangis dihadapannya sambil berkata, “Kau tau, kau adalah hal terindah dan terburuk yang pernah ada, lalu singgah dalam hidupku.”

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles