
Judul: Ahlan Singapore
Sutradara: Indra Gunawan
Genre: Drama, Romansa
Tahun Rilis: 2026
Durasi: 1 jam 36 menit
Pemeran Utama: Rebecca Klopper, Kiesha Alvaro, Ibrahim Risyad
Peresensi: Afriana Alawiah. AR
Ahlan Singapore merupakan film drama romantis yang mengangkat kisah tentang mimpi, cinta, keluarga, dan proses penyembuhan diri. Cerita berpusat pada Aisyah (Rebecca Klopper), seorang mahasiswi asal Indonesia yang memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di Singapura. Keputusan tersebut menjadi titik awal perjalanan hidupnya, bukan hanya sebagai seorang pelajar yang ingin meraih masa depan lebih baik, tetapi juga sebagai perempuan yang berusaha melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalu yang masih membekas dalam hidupnya.
Sejak kecil, Aisyah hidup dengan luka emosional yang membuatnya sulit memercayai orang lain, terutama dalam urusan perasaan. Baginya, cinta bukanlah sesuatu yang mudah diterima karena pengalaman hidup telah mengajarkannya bahwa harapan sering kali berakhir pada kekecewaan. Oleh sebab itu, ia memilih fokus pada pendidikan dan cita-citanya dibandingkan membuka ruang bagi orang lain untuk masuk ke dalam hidupnya.
Baca Juga: Petualangan Empat Sahabat Menyingkap Jejak yang Pekat
Di lingkungan kampus, Aisyah dipertemukan dengan Liam (Kiesha Alvaro), seorang senior yang dikenal ramah, penyayang, dan selalu hadir membantu orang-orang di sekitarnya. Di balik kepribadiannya yang tenang, Liam ternyata menyimpan luka dan pergumulannya sendiri. Kesamaan pengalaman membuat keduanya perlahan saling memahami. Hubungan mereka berkembang secara alami, dimulai dari pertemanan sederhana hingga tumbuh menjadi rasa saling nyaman yang sulit dihindari.
Konflik mulai muncul ketika Ridwan (Ibrahim Risyad), sahabat lama Aisyah, kembali hadir dalam kehidupannya. Ridwan telah lama menyimpan perasaan kepada Aisyah dan berharap dapat menjadi sosok yang selalu menemaninya. Kehadiran Ridwan menghadirkan dilema bagi Aisyah. Di satu sisi, ia merasa nyaman bersama Liam yang memahami luka-lukanya tanpa banyak bertanya. Di sisi lain, Ridwan merupakan bagian dari masa lalunya yang telah mengenalnya jauh sebelum perjalanan di Singapura dimulai.
Ahlan Singapore menawarkan cerita yang lebih dalam daripada sekadar romansa remaja. Film ini menempatkan isu kesehatan emosional, hubungan keluarga, dan proses menerima masa lalu sebagai inti cerita. Penonton tidak hanya disuguhkan kisah cinta antara dua tokoh utama, tetapi juga diajak memahami bagaimana pengalaman hidup dapat membentuk cara seseorang mencintai dan memercayai orang lain.
Alur cerita dibangun secara perlahan (slow pace), sehingga setiap perkembangan hubungan antartokoh terasa lebih alami. Pendekatan ini memungkinkan penonton mengenal karakter satu per satu, memahami alasan di balik tindakan mereka, serta ikut merasakan konflik batin yang dialami Aisyah. Meskipun ritme cerita cukup tenang, film tetap mampu menarik perhatian penonton melalui dialog-dialog yang hangat dan adegan emosional yang menyentuh.
Dari segi akting, Rebecca Klopper berhasil menghidupkan karakter Aisyah dengan sangat baik. Ia mampu menampilkan sosok perempuan yang tampak kuat di luar, tetapi menyimpan banyak luka dalam dirinya. Ekspresi wajah, bahasa tubuh, hingga cara penyampaian dialog membuat karakter Aisyah terasa manusiawi dan mudah dipahami. Penonton dapat merasakan kecemasan, kebimbangan, hingga harapan yang dialami tokoh tersebut.
Sementara itu, Kiesha Alvaro tampil memikat sebagai Liam. Karakter Liam digambarkan sebagai sosok yang dewasa, penuh perhatian, dan tidak memaksakan kehendak. Cara Liam mendampingi Aisyah tanpa berusaha mengubahnya menjadi salah satu kekuatan cerita. Chemistry antara Rebecca Klopper dan Kiesha Alvaro juga terasa cukup kuat sehingga hubungan mereka berkembang secara meyakinkan.
Kehadiran Ibrahim Risyad sebagai Ridwan memberikan warna tersendiri dalam cerita. Ridwan bukan digambarkan sebagai tokoh antagonis, melainkan seseorang yang sama-sama memiliki ketulusan dalam mencintai Aisyah. Hal ini membuat konflik cinta segitiga terasa lebih realistis karena tidak ada tokoh yang benar-benar jahat. Penonton justru diajak memahami sudut pandang masing-masing karakter.
Salah satu aspek yang paling menonjol dalam film ini adalah sinematografi. Berbagai ikon kota Singapura seperti Marina Bay Sands, Gardens by the Bay, Merlion Park, hingga kawasan perkotaan modern ditampilkan melalui pengambilan gambar yang indah dan sinematik. Pemandangan tersebut bukan hanya berfungsi sebagai latar, tetapi juga menjadi simbol perjalanan batin para tokohnya. Warna-warna hangat dan komposisi gambar yang rapi berhasil memperkuat suasana romantis sekaligus melankolis.
Meskipun demikian, film ini masih memiliki beberapa kekurangan. Konflik cinta segitiga yang diangkat sebenarnya merupakan tema yang cukup umum dalam film romantis Indonesia sehingga beberapa bagian cerita terasa mudah ditebak. Selain itu, tempo cerita pada pertengahan film berjalan cukup lambat. Penonton yang menyukai alur cepat mungkin akan merasa beberapa adegan berlangsung terlalu panjang. Pendalaman karakter pendukung juga masih bisa dikembangkan agar hubungan antartokoh terasa lebih kompleks.
Baca Juga: Jangan Anggap Kampus Selalu Aman: Welcome to Hell University
Editor: Ummy Syafitri

