Aku, yang Tidak Pernah Cukup (Bagian 1)

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. https://id.pngtree.com/)

Penulis: Riska Nurasnida Siregar

Pagi itu tidak benar-benar berbeda dari hari biasanya. Langit masih terlihat sama, jalanan tetap padat, dan kampus dipenuhi mahasiswa yang datang terburu-buru, seolah waktu selalu kurang bagi mereka.

Namun, tidak semua orang merasakan hari dengan cara yang sama. Ada yang tampak biasa saja dari luar, tetapi terasa berat saat dijalani.

Baca Juga: Dunia Kucing (Bagian 2)

Ayura Myesha termasuk di dalamnya. Sejak keluar dari rumah, pikirannya belum sepenuhnya tenang. Percakapan singkat dengan ayahnya masih terngiang. Tidak ada suara keras atau pertengkaran, tetapi nada bicaranya cukup membuat suasana berubah dingin.

“Belajar yang bagus! Kenapa kamu tidak bisa seperti abangmu, Yura?”

Kalimat itu sederhana, tetapi cukup membuat Ayura memilih diam. Bukan karena ia tidak memiliki jawaban, melainkan karena ia merasa apa pun yang dikatakannya tidak akan mengubah keadaan. Ibunya hanya duduk di ruang tengah, seperti biasa, tanpa ikut berbicara. Dan seperti hari-hari sebelumnya, Ayura memilih pergi tanpa memperpanjang suasana.

Perjalanan menuju kampus menjadi satu-satunya jeda yang ia rasakan. Di sana, ia bisa sedikit bernapas lebih lega, meskipun rasa sesak itu tidak sepenuhnya hilang.

Saat tiba, gedung perkuliahan sudah ramai. Beberapa mahasiswa terlihat bercanda di depan kelas, sementara sebagian lainnya sibuk dengan ponsel masing-masing.

Ayura berjalan melewati mereka tanpa benar-benar memperhatikan sekitar sampai langkahnya terhenti karena sebuah kejadian kecil.

Bruk.

Beberapa lembar kertas jatuh berserakan di lantai.

“Maaf, aku nggak sengaja,” ucapnya refleks sambil segera menunduk.

Ia langsung membantu mengumpulkan kertas-kertas itu. Gerakannya cepat, sedikit canggung. Orang yang ditabraknya ikut membantu. Wajah laki-laki itu terlihat santai, tidak menunjukkan rasa kesal sedikit pun.

“Nggak apa-apa,” katanya singkat.

Ayura sempat melirik. Jaket hitam, ekspresi datar, dan sikap yang terkesan cuek. Setelah kertas itu kembali rapi, Ayura menyerahkannya.

“Ini … maaf, ya.”

Laki-laki itu menerimanya, tetapi tidak langsung pergi. Ia justru menatap Ayura beberapa detik lebih lama.

“Kamu anak sini?”

Pertanyaannya terdengar santai, tetapi cukup membuat Ayura heran.

“Iya,” jawabnya singkat.

Laki-laki itu mengangguk pelan.

“Aku Naufal.”

Ayura hanya membalas dengan anggukan kecil.

“Ayura.”

“Hmm.”

Percakapan itu berhenti sampai di sana. Tidak ada yang mencoba melanjutkan.

Ayura pun langsung masuk ke kelas tanpa berpikir panjang. Seperti biasa, ia segera mengeluarkan binder beserta buku mata kuliah yang baru dibelinya beberapa hari lalu.

Beberapa menit kemudian, pintu kelas kembali terbuka. Naufal masuk dengan langkah santai, seolah datang terlambat bukan masalah besar. Ia memilih duduk di barisan tengah, tidak terlalu jauh dari Ayura.

Beberapa bisikan terdengar pelan.

“Itu Naufal Arshaka …”

“Yang anak teknik, kan?”

Ayura tidak terlalu menanggapi. Ia mencoba fokus pada dosen yang mulai menjelaskan materi. Namun, entah kenapa, kehadiran laki-laki itu terasa cukup mencolok. Bukan karena ia berisik, melainkan justru karena ia terlalu tenang di tengah keramaian diskusi kelas hari itu.

Waktu berlalu tanpa sesuatu yang istimewa hingga suara notifikasi dari ponsel Ayura terdengar pelan. Ia melirik layar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

“Tadi buru-buru banget perginya.”

Alis Ayura sedikit berkerut.

Ia tidak merasa pernah memberikan nomor ponselnya hari ini.

Perlahan, ia menoleh ke arah barisan tengah.

Kursi itu kosong.

Naufal sudah tidak ada.

Bersambung …

Baca Juga: Pengemis Online di Ambang Maut

Editor: Dinda

 

 

 

 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles