Aku, yang Tidak Pernah Cukup (Bagian 4)

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. https://id.pngtree.com/)

Penulis: Riska Nurasnida Siregar

Beberapa hari setelah hujan itu, tidak ada yang benar-benar berubah, setidaknya dari luar.

Ayura masih datang ke kampus dengan langkah yang sama, duduk di bangku yang sama, membuka buku yang sama. Suara dosen tetap terdengar seperti biasanya, bercampur dengan derit kursi dan bisik-bisik kecil di belakang kelas.

Semuanya tampak berjalan sebagaimana mestinya. Hanya saja, ada sesuatu yang tidak lagi utuh di dalam dirinya. Dia mulai sering tidak sengaja “mencari” keberadaan Naufal. Tiap lewat lorong, ia refleks melihat kanan-kiri. Dan tiap ia sadar sedang melakukan hal itu, ia langsung kesal dengan dirinya sendiri.

Baca Juga: Biliuner Cilik (Bagian 3)

Seharusnya tidak seperti ini.

Hari ini panas banget, ya.

Lo kelihatan lebih capek dari biasanya.

Ayura tetap tidak membalas, tetapi ia sudah tidak sedingin dulu.

Ayura tidak pernah membalas. Ia hanya membaca, lalu meletakkan ponselnya kembali. Namun anehnya, pesan-pesan itu tidak benar-benar hilang. Ia tetap tinggal, seperti gema kecil yang tidak sepenuhnya pergi.

Siang itu, kelas selesai lebih awal. Langit tampak pucat dan panas terasa menekan tanpa angin. Ayura berjalan menuju parkiran dengan langkah cepat, berharap segera sampai di rumah sebelum pikirannya kembali ramai.

Di dekat gerbang, sekelompok mahasiswa berdiri membentuk lingkaran kecil. Suara tawa mereka terdengar ringan, bercampur dengan obrolan yang saling bersahutan.

Di antara mereka, ada Naufal.

Ayura sebenarnya tidak berniat memperhatikan. Ia hanya lewat. Hanya kebetulan jaraknya cukup dekat untuk membuat suara mereka terdengar lebih jelas daripada seharusnya.

“Serius, Fal?”

Suara itu terdengar samar, lalu disusul tawa kecil.

Ayura tidak langsung berhenti. Ia hanya memperlambat langkah, nyaris tak terasa.

“Lo deketin dia cuma buat itu doang?”

Langkahnya terhenti.

Bukan karena ia ingin mendengar lebih jauh, melainkan karena tubuhnya seolah lupa bagaimana cara melanjutkan gerak. Ia berdiri di dekat salah satu pilar, tidak sepenuhnya bersembunyi, tetapi juga tidak benar-benar terlihat.

“Ya, nggak juga, sih.”

Jawaban itu datang dengan nada ringan. Terlalu ringan.

Sejenak tidak ada yang ia dengar selain detak di dalam dadanya sendiri.

“Tapi lo udah dapat, kan, apa yang lo mau?” Temannya nyaut lagi sambil tertawa.

Ayura menunduk. Pandangannya jatuh pada bayangan dirinya sendiri di lantai yang tersapu cahaya matahari. Bentuknya samar, terpotong oleh garis-garis bayangan lain.

“Gue cuma pengen tau aja,” suara itu terdengar lagi.

Ada jeda singkat.

“Orang kayak dia … bakal sejauh apa kalau dideketin.”

Kalimat itu tidak terdengar keras.

Tidak juga kasar.

Namun, justru karena itu, ia terasa lebih nyata.

Seperti sesuatu yang memang tidak perlu disembunyikan. Ayura tidak langsung bereaksi. Ia hanya berdiri, membiarkan kalimat itu mengendap perlahan, seperti air yang jatuh setetes demi setetes ke dalam ruang kosong.

“Ya … sama aja kayak yang lain.”

Suara berikutnya datang tanpa beban.

Lalu tawa.

Ringan. Biasa.

Seolah tidak ada yang sedang dipertaruhkan.

Ayura menarik napas, tetapi rasanya tidak cukup dalam untuk benar-benar mengisi dadanya. Ia melangkah mundur perlahan, lalu berbalik tanpa suara. Tidak ada yang memanggilnya. Tidak ada yang menyadari keberadaannya. Dan mungkin memang tidak pernah ada yang benar-benar melihatnya sejak awal.

Langkahnya makin cepat saat menjauh dari gerbang. Panas siang itu terasa lebih menyengat, atau mungkin hanya perasaannya saja yang berubah.

Ia tidak menangis.

Tidak juga merasa ingin menangis.

Yang ada hanya kekosongan yang aneh, seperti sesuatu yang sebelumnya ia jaga diam-diam, kini hilang tanpa sempat ia sadari bentuknya.

Di tengah jalan, ponselnya bergetar.

Satu pesan masuk.

Udah pulang?

Ayura berhenti sejenak.

Ia menatap layar itu cukup lama, seolah sedang membaca sesuatu yang lebih dari sekadar kata-kata. Lalu, perlahan, ia mengetik.

Nggak perlu hubungi aku lagi.

Pesan itu terkirim.

Tidak ada yang dramatis.

Tidak ada emosi yang meledak.

Hanya keputusan yang terasa … selesai.

Balasan datang tidak lama kemudian.

Kenapa?

Satu kata yang sederhana.

Ayura menarik napas pendek.

Aku bukan bahan percobaan kamu.

Kali ini, setelah pesan itu terkirim, ia tidak menunggu.

Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas dan melanjutkan langkahnya.

Sore itu terasa lebih panjang dari biasanya.

Malam datang tanpa banyak perubahan.

Di dalam kamar, Ayura duduk sendirian dengan lampu yang redup. Tidak ada suara selain detak jam dan sesekali kendaraan yang lewat di luar.

Ia tidak menangis.

Hanya diam.

Dan dalam diam itu, ia akhirnya mengerti sesuatu yang selama ini tidak pernah ia akui.

Yang membuatnya sakit bukanlah kata-kata itu.

Bukan juga orangnya.

Melainkan harapan yang sempat tumbuh, diam-diam, tanpa izin.

Harapan bahwa kali ini, ia mungkin cukup.

Dan ternyata, itu hanya miliknya sendiri.

Bersambung …

Baca Juga: Biliuner Cilik (Bagian 2)

Editor: Tengku Wafa’ Alifah

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles