Animal Farm: Ketika Revolusi Berubah Menjadi Tirani

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet https://shiramedia.com/)

Judul: Animal Farm

Penulis: George Orwell

Genre: Fabel, Satire Politik

Penerbit: Immortal Publishing

Tahun Terbit: 2021

Jumlah Halaman:133

Peresensi: Safa Nur Hanifah Br. Purba

Animal Farm novel karya George Orwell pertama kali terbit pada tahun 1945 (edisi pertama), tahun penuh kekuasaan dan merupakan cerminan langsung mengenai revolusi Rusia 1917. Novel ini ditulis sebagai alegori dan satire, yaitu kritikan langsung melalui seni mengenai pemberontakan hewan-hewan peternakan terhadap pemilik mereka, manusia, demi kebebasan yang mereka dambakan. Namun, siapa sangka, pengkhianatan yang tidak disangka terjadi hanya karena ambisi.

Novel ini bermula ketika dua ekor babi bernama Snowball dan Napoleon yang memiliki akal yang melebihi hewan lainnya merasa mereka diperbudak oleh manusia-manusia keji yang hanya memanfaatkan kemauan mereka, sedangkan mereka dipekerjakan secara paksa tanpa imbalan yang memadai. Maka, dengan semangat keduanya, mereka mengajak para hewan ternak lain untuk melakukan pemberontakan bersama.

Baca Juga: Mengurai Misteri di Balik Kehidupan Seorang Perempuan

Mereka mulai membuat lagu “Binatang Inggris” dan juga 7 peraturan atau perintah untuk memperkuat persatuan antar hewan memusuhi semua manusia. Banyak cara mereka lakukan, banyak pula teman yang mereka korbankan, hingga akhirnya manusia keji itu terbirit-birit meninggalkan peternakan, tentu saja dengan dendam terhadap hewan ternaknya yang tidak kenal untung. Dengan kemerdekaan itu, terpilihlah dua pelopor peternakan, yaitu Napoleon dan Snowball. Namun, kepemimpinan tidak bisa dihuni oleh dua petinggi yang mempunyai ambisi yang bertolak belakang.

Snowball, yang cakap dan idealis. Dia ingin semua binatang bisa membaca dan tidak mudah dipengaruhi oleh manusia yang licik dan kejam, yang mengerahkan semuanya agar hidup sejahtera, namun harus digulingkan oleh kelicikan Napoleon yang licik dan haus kuasa. Ia bahkan rela membuat Snowball terasingkan dan dibenci oleh seluruh peternakan dan mengambil hak paten atas usaha yang akan dibangun oleh Snowball.

Gejolak itu terjadi, mereka terburai. Lagu kebangsaan yang dulu mereka nyanyikan dengan hikmat, 7 aturan binatang yang membuat mereka bertahan untuk terus hidup sejahtera, dipelintir oleh pemimpin mereka sendiri. Mulai memanipulasi aturan hingga membuat para hewan lainnya tidak dapat mengutarakan pendapat atau kritikan.

“Semua hewan sederajat, tetapi beberapa hewan lebih sederajat daripada yang lainnya”. Para babi mulai menguasai semua bentuk kekuasaan, mengatasnamakan mereka lebih pantas dan semuanya untuk kemajuan peternakan mereka. Pada akhirnya, hewan lainnya takut bukan hanya berbicara, tetapi juga sekadar memikirkannya secara gamblang. Dan lagi-lagi, mereka hanya bisa percaya walau di hati dan mata mereka, para babi itu sama halnya dengan para manusia tamak, rakus, dan penuh ambisi hasrat mereka saja, hingga tidak dapat membedakan teman mereka dan manusia yang manusia yang mereka gulingkan.

Novel ini memiliki banyak kelebihan. Penulis berhasil menggambarkan sifat manusia melalui metafora hewan yang tidak berakal dan hanya mementingkan kepentingan pribadi. Dengan bahasa yang sederhana namun kuat, pesan-pesan yang terkandung dalam novel dapat tersampaikan dengan baik kepada pembaca. Selain itu, novel ini mendorong pembaca untuk berpikir kritis, menghadirkan karakter-karakter yang berkesan, serta mengangkat tema politik yang dikritik secara tajam. Tema tersebut juga tetap relevan hingga saat ini karena berbagai persoalan yang digambarkan dalam novel masih dapat ditemukan di sejumlah negara.

Meski demikian, novel ini juga memiliki beberapa kekurangan. Penggambaran emosi para tokohnya terkadang kurang mendalam sehingga pembaca tidak selalu dapat merasakan keterikatan emosional yang kuat. Pada beberapa bagian, terdapat sudut pandang yang dapat menimbulkan kesan ketimpangan pemahaman antara pihak yang memimpin dan yang dipimpin. Selain itu, akhir cerita yang tidak memberikan penyelesaian yang jelas mungkin terasa kurang memuaskan bagi sebagian pembaca. Kondisi yang digambarkan tetap berlangsung tanpa perubahan berarti, sehingga pembaca yang menyukai alur dengan klimaks dan resolusi yang tegas mungkin akan merasa kurang puas.

Baca Juga: Dompet Ayah Sepatu Ibu: Potret Nyata Perjuangan dan Jerih Payah Orang Tua

Editor: Tengku Wafa’ Alifah

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles