Bakat dan Keahlian Ada Bukan Karena Garis Takdir

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. Internet booksminority.net)
  • Judul Buku          : How to Master Your Habits
  • Penulis                 : Felix Y. Siauw
  • Penerbit               : Al Fatih Press
  • Genre                   : Sejarah, Motivasi, dan Psikologi
  • Tebal                    : 20,5 cm
  • Jumlah Halaman: 160 halaman
  • Tahun Terbit        : 2014
  • ISBN                      : 978-602-17997-2-7

Peresensi: Rodiatul Adawiyah Harahap

“Untuk melatih sebuah habits, maka kita harus menyisipkan habits itu pada habist lain yang sudah solid (sudah jadi) kuncinya adalah kata ‘setelah’ (halaman 100).

Buku yang berjudul How to Master Your Habits ini membahas bagaimana sesuatu yang terlihat luar biasa atau ‘wah’ dapat menjadi kebiasaaan yang bisa dilakukan oleh semua orang. Buku ini juga memotivasi pembaca bahwa keahlian atau bakat bukanlah sebuah warisan, melainkan hasil dari latihan berulang-ulang yang disebut dengan habits. Habits atau kebiasaan dalam buku ini adalah segala sesuatu yang kita lakukan secara otomatis bahkan tanpa berpikir.

Baca Juga: Santet Segoro Pitu, Sekeluarga Terancam Mati

Pada halaman 21, penulis menjelaskan bahwa untuk menjadi apapun atau menguasai keahlian yang diinginkan, jika memang sungguh-sungguh, caranya dengan membentuk kebiasaan pada diri sendiri. Bukan tidak mungkin seseorang dapat menjadi seperti ilmuwan-ilmuwan ternama seperti Imam Syafi’i, dan lainnya yang sampai saat ini ilmunya masih diterapkan.

Pada awal bab, buku ini memberikan gambaran umum tentang bagaimana seseorang dapat menguasai suatu hal harus dimulai dengan sebuah kebiasaan. Setiap baris dalam bab ini mengajak pembaca untuk berpikir bahwa sekadar kagum pada sosok yang ‘wah’ ketika megetahui trik dan rahasia dari keahlian yang didapatkannya akan memunculkan perkataan, ‘Biasa aja kok.’ Sebab, sebenarnya, sosok yang ‘wah’ tersebut telah membiasakan diri untuk melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan oleh orang lain.

Kemudian, pada halaman selanjutnya, penulis menjelaskan bahwa perasaan dipengaruhi oleh kebiasaan, sama seperti berpikir. Sebagai contoh, bagi kaum Muslim riba itu haram, maka mereka menghindarinya karena pemikiran mereka berasal dari kebiasaan taat kepada Allah Swt. sedangkan, non-Muslim akan menganggap sebagai hal baik dan berpikir berdasarkan asas manfaat, sehingga mereka melakukannya.

Semua pembiasan yang dilakukan berasal dari pemikiran dan perasaan yang mereka miliki. Jadi, apabila ada aktivitas yang berbeda dari kebiasaannya, mereka akan merasa ada yang janggal, karena kebiasaannya tidak dapat ditipu oleh dirinya sendiri.

Buku yang berisi 160 halaman ini juga membahas bahwa untuk menilai seseorang secara objektif, hal tersebut harus dilakukan dalam jangka waktu yang lama, begitu pula sebaliknya jika orang lain ingin menilai kita. Dengan kata lain, menilai seseorang pun harus berdasarkan kebiasaan atau habits-nya, sebab kebiasaan akan mempengaruhi perilaku ataupun aktivitas yang dilakukan, sehingga menjadi penentu keberhasilan dalam hidup. Sebagai contoh, seorang pemimpin akan memiliki kebiasaan yang lebih baik daripada orang yang akan dipimpinnya.

Dalam buku ini, tidak berhenti hanya pada kebiasaan (habits) saja, tetapi ada tahap lanjutan yaitu keahlian spesialis (expertise). Pada tahap ini, seorang ahli (expert) dapat membentuk, mengendalikan, dan menguasai kebiasaan, yang disebut dengan mastering habits.

Penulis juga mencantumkan bahwa untuk menjadi seorang ahli membutuhkan waktu yang panjang dan tidak akan tercipta dalam waktu singkat. Sebagai contoh, seperti yang dialami oleh Ronaldinho yang membutuhkan 13 tahun untuk menjadi pemain terbaik dunia, dan Donnie Yen yang memulai pelajaran Kungfu dari ibunya sejak kecil dan memulai debut film pada umur 20 tahun. Dengan demikian, tidak ada jalan pintas untuk menguasai suatu keahlian.

Pada akhir buku ini, dibahas tentang realisasi dari perencanaan, yaitu aksi atau amal nyata. Sepandai apa pun seseorang membuat sebuah rencana, namun jika masih menundanya, hal tersebut termasuk kebiasaan buruk. Bersikeras untuk menunda, maka ada satu penundaan yang baik, yaitu menunda diri untuk melakukan penundaan. Urgensi terhadap aksi berarti sebuah kesungguhan, dengan kata lain, pembeda antara impian dan khayalan.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk semua kalangan dan gender agar dapat mencapai keberhasilan dakwah serta menjalani kehidupan yang baik sesuai dengan aturan dari Sang Pencipta. Buku ini tidak hanya memberikan sekadar motivasi, tetapi juga membangkitkan pemikiran untuk memulai membentuk kebiasaan (habits), kemudian keahlian (expertise), dan tahap terakhir yang tak kalah penting, yaitu aksi (action).

Baca Juga: Jangan Menyerah, Tuhan Sedang Menyiapkan Kita Menjadi Pribadi yang Kuat

Editor        : Annisa 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles