Belajar Melepaskan demi Menemukan Diri dalam Once We Were Us

- Advertisement - Pfrasa_F
(Foto: Dok. X @cinepolisID)

Judul: Once We Were Us

Sutradara: Kim Do-Young

Genre: Romansa, Drama

Tahun Rilis: 2026

Durasi: 1 jam 55 menit

Pemeran Utama: Koo Kyo-hwan, Moon Ga-young

Peresensi: Nazwa Rahma Fitri

Ada masa ketika mencintai seseorang justru membuat diri sendiri berhenti bergerak. Bukan karena tidak ingin berkembang, tetapi karena terlalu sibuk menjaga, menyesuaikan, dan memikirkan satu sama lain. Dalam ruang yang sempit itulah Once We Were Us menghadirkan kisah tentang dua manusia yang saling mencintai, tetapi tidak pernah benar-benar tumbuh selama mereka bersama.

Berlatar di Seoul pada tahun 2008, pertemuan Eun-ho dan Jeong-won di sebuah bus menjadi awal dari kedekatan mereka. Di tengah kehidupan kota yang padat dan melelahkan, keduanya menemukan tempat pulang satu sama lain. Mereka berbagi mimpi, harapan, dan rasa yang tumbuh tanpa paksaan. Namun, kedekatan itu secara perlahan berubah menjadi keterikatan yang membatasi. Tanpa disadari, mereka mulai menyesuaikan hidup satu sama lain hingga kehilangan ruang untuk berkembang sebagai individu.

Baca Juga: Perjalanan Luka dan Rindu Menuju Penerimaan Diri

Film ini tidak menghadirkan perpisahan sebagai penyesalan, melainkan sebagai keputusan yang lahir dari kesadaran. Tekanan realitas membuat keduanya memilih jalan masing-masing. Cinta yang mereka miliki tidak hilang, tetapi tidak lagi cukup untuk mempertahankan hubungan. Dalam diam, mereka melepaskan. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena memahami bahwa bertahan justru akan menyakiti keduanya.

Perkembangan karakter menjadi lebih kuat setelah jarak antara mereka tercipta. Setelah 10 tahun kemudian, mereka dipertemukan kembali di dalam pesawat yang sama. Kedua tokoh hadir sebagai versi diri yang berbeda. Mereka tidak lagi terjebak dalam ketergantungan yang sama. Pengalaman hidup telah membentuk mereka menjadi individu yang lebih utuh, meskipun membawa kenangan yang tidak pernah benar-benar hilang.

Secara visual, film ini mengandalkan pendekatan yang tenang dengan warna lembut yang menggambarkan suasana hati karakter. Pada bagian awal, nuansa yang lebih redup memperkuat kesan keterbatasan dalam hubungan mereka. Seiring berjalannya waktu, perubahan warna visual menjadi lebih terang menandakan terbukanya ruang baru dalam kehidupan masing-masing. Penggunaan gambar yang sederhana justru memperkuat kedalaman emosi yang ingin disampaikan.

Isu yang diangkat dalam film ini terasa relevan dengan kehidupan banyak orang. Ketergantungan emosional, keterikatan yang mencekik, kehilangan jati diri dalam hubungan, dan keberanian untuk melepaskan menjadi tema utama yang diolah dengan halus. Film ini menunjukkan bahwa kedekatan tidak selalu berarti pertumbuhan. Ada kalanya seseorang perlu mengambil jarak untuk benar-benar memahami dirinya sendiri.

Hubungan Eun-ho dan Jeong-won juga memperlihatkan kondisi ketika dua orang terkadang terlalu fokus mempertahankan hubungan sampai lupa memikirkan dirinya sendiri. Mereka memang saling mendukung lewat kata-kata, tetapi pada kenyataannya keduanya justru lebih banyak mengorbankan keinginan pribadi demi menjaga hubungan tetap berjalan. Perlahan mereka hidup dengan menyesuaikan arah satu sama lain. Hal itu membuat mimpi dan tujuan pribadi terasa tertunda. Film ini seperti ingin mengatakan bahwa cinta saja tidak selalu cukup jika dua orang berhenti berkembang sebagai individu.

Hal lain yang membuat film ini terasa dekat adalah cara film menggambarkan rasa lelah dalam hubungan tanpa harus menghadirkan konflik besar. Tidak ada pertengkaran yang terlalu dramatis ataupun tokoh antagonis yang merusak hubungan mereka. Justru karena semuanya terlihat biasa, penonton dapat merasakan bahwa hubungan yang perlahan melelahkan memang sering terjadi dalam kehidupan nyata. Terkadang, sebuah hubungan berakhir bukan karena tidak ada cinta, tetapi karena dua orang yang saling mencintai sudah tidak bisa bertumbuh di tempat yang sama.

Pertemuan mereka setelah bertahun-tahun juga menjadi bagian yang paling emosional. Tatapan canggung, percakapan sederhana, dan suasana yang tenang justru memperlihatkan bahwa perasaan lama tidak pernah benar-benar hilang. Namun, keduanya sudah memahami bahwa mereka bukan lagi dua orang yang sama seperti dahulu. Mereka terlihat lebih dewasa, lebih tenang, dan lebih mengenal diri sendiri. Dalam momen itu, film memperlihatkan bahwa jarak ternyata memberi mereka kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih utuh.

Meskipun memiliki kekuatan pada kedalaman emosi, ritme cerita yang cenderung lambat dapat menjadi tantangan bagi sebagian penonton. Tidak banyak konflik dramatis yang mencolok, sehingga alur terasa berjalan perlahan. Namun, pendekatan ini justru membuat cerita terasa lebih realistis dan dekat dengan kehidupan nyata.

Pada akhirnya, Once We Were Us tidak sekadar bercerita tentang hubungan yang berakhir, tetapi tentang proses menjadi diri sendiri. Film ini menghadirkan pemahaman bahwa perpisahan bukan selalu kegagalan, melainkan langkah yang memungkinkan dua orang untuk tumbuh secara terpisah. Dalam jarak yang tercipta, mereka tidak hanya kehilangan satu sama lain, tetapi juga menemukan versi diri yang selama ini tertunda.

Baca Juga: Menemukan Cahaya di Tengah Badai Kehidupan dalam Film Air Mata Mualaf

Editor: Dinda

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles