
Penulis: Putri Khairunisa Nabilah
Aku tak bisa terus-terusan diam di tempat. Aku harus bergerak, paling tidak selangkah lebih maju. Aku tak mau hanya menjadi mahasiswa yang hanya tahu tentang makalah, PPT, dan presentasi. Aku ingin berkembang seperti teman-temanku yang ikut dalam keorganisasian dan belajar banyak hal di dalamnya. Ingin kutunjukkan pada ayah dan ibu bahwa aku bisa hebat walau tak melulu soal kuliah.
Aku mencari tahu tentang organisasi-organisasi yang ada di kampusku. Risa, temanku yang cukup andal dalam hal ini membantuku mencari tahu semua organisasi yang ada di kampus serta bidang-bidangnya. Lalu, aku mulai tertarik dengan Mahaba (Mahasiswa Alam Banget). Ya, itu merupakan salah satu organisasi yang ada di kampusku yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan. Sebelum aku bulatkan tekad untuk bergabung ke organisasi tersebut, aku bertanya pada diriku sendiri, “Apakah aku bisa menjalaninya, padahal aku saja kurang peduli dengan sekitar”.
Aku memberanikan diri untuk cerita kepada Risa tentang apa yang aku risaukan. Risa mendengarkan dan memberi solusi. Risa juga menyemangatiku untuk membulatkan tekadku agar aku tak ragu bergabung dengan organisasi Mahaba. Risa mengenalkanku dengan pimpinan tertinggi yang ada di Mahaba.
“Put, kenalin, nih. Ini Kak Reza. Pimpinan Mahaba yang sekarang. Bagaimana? Oke kan?” goda Risa padaku.
“Oh, ini Putri. Selamat bergabung di Mahaba,” sambung Kak Reza padaku.
Aku tersipu malu, karena aku tak pernah berbincang dengan seorang senior sebelumnya.
Aku menjalani beberapa proses sebelum aku benar-benar menjadi anggota dari Mahaba. Salah satunya adalah mengikuti beberapa pelatihan dan mengerjakan tugas-tugas agar aku lulus seleksi. Aku cukup bersemangat akan hal itu. Aku merasa seperti kembali hidup ke dunia. Di sini aku bertemu dengan banyak orang dan saling berbagi cerita.
Seminggu sudah aku mengikuti pelatihan Mahaba. Setiap hari aku pulang sore dan tak izin terlebih dahulu dengan ibu. Aku takut ibu akan melarangku mengikuti kegiatan di luar kuliah. Ternyata ibu menyadari bahwa aku pulang lebih lama dari biasanya.
“Put, pulang sore lagi?” tanya ibu cukup menakutkan.
“I-iya, bu. T-tadi ada kegiatan tambahan di kampus,” jawabku gugup dan cukup terbata-bata.
“Kenapa enggak izin sama ibu? Lagian sejak kapan kamu ada kegiatan tambahan? Bukannya yang kamu tahu cuma kuliah dan belajar?”
“Kegiatan Putri ini juga belajar bu, tetapi beda dari kuliah”
“Tumben. Coba kamu cerita ke Ibu,”
Aku menceritakan semuanya ke Ibu. Aku menceritakan tentang rasa sepiku akhir-akhir ini, tentang jenuhku dengan rutinitasku, tentang beban pikiranku mengenai masa depanku, dan semua yang aku rasakan selama ini. Aku tak bisa menahan tangisku saat bercerita ke Ibu.
“Kenapa kamu baru cerita sekarang, Nak? Ibu enggak akan tahu tentang apa yang kamu rasakan selama ini kalau kamu enggak cerita ke Ibu. Kamu memang satu-satunya harapan ibu dan bapak, tetapi ibu enggak pernah memberatkan kamu soal masa depan. Ibu merasa bersalah sudah sering bertanya tentang cita-citamu tanpa ibu tahu apa yang kamu pikirkan. Jangan pernah merasa terbebani lagi, ya, Nak. Kamu jalani aja sebisa kamu,” ucap ibu dengan air mata di pipinya.
Bersambung…
Editor: Yaumi Sa’idah

