
Coba saja kalian perhatikan bagaimana ekspresi orang di sekitarmu untuk mengolah kata-kata dan diksi bermajas. Bermacam tutur pasti akan menghipnotis kolbumu. Wajah gaguk, cengengesan, gelisah tidak menentu, garut kepala, pasang wajah melongo, goyang-goyang pulpen, tarik lengan baju atau bermacam ekspresi melukis situasi yang terjadi saat itu. Wajah mereka berkaca-kaca di depan cermin diksi beragam makna.
Dunia tulis-menulis memang identik dengan orang-orang yang berperang dengan waktu, namun berteman dengan perasaan penulis namun syarat akan makna yang tertulis dalam sebuah tulisan. Soal bertemankan perasaan sering membawa penulis terjatuh dalam suasana sehingga ia (penulis) seperti hakim dalam tulisan tersebut.
Seribu ekspresi tercermin dari wajah dan tingkah laku Kru LPM Dinamika UIN SU. Sore yang layaknya untuk istirahat dan bersantai ria, diajak berimajinasi dengan hentakan senjata yang ingin -ditodongkan kepada target sasaran. Bersempit-sempitan dalam ruangan berukuran 3 kali 4 meter, beradu lewat diksi-diksi yang diunggulkan masing-masing kru.
21 kru LPM Dinamika bermacam kemampuan mengolah kata mengikuti pelatihan menulis cerpen. Sebuah program kerja Redaktur Pelaksana 2018-2019 untuk periode setahun ini. Tak ayal, ekspresi mereka ikut menyapa hari menjelang mentari kembali tidur pulas hingga ayam berkokok membawa kembali mentari tersenyum dengan lebarnya.
Redaktur Pelaksana, seorang pria yang nekat harus membuat kelas cerpen khusus untuk Reporter Redaksi berjumlah 14 pejuang kebaikan. Sebenarnya tidak semua reporter mengikutinya, namun kerelaan hati dan semangat untuk belajar Kru menambah daftar kehadiran menjadi 21 kru. Namun, setelah diberikan materi oleh Redaktur Bahasa 2018-2019, Aminata Zahriata kerut wajah mereka seperti menua selama 1 jam durasi. Ada yang garut kepala, gawai bersarang informasi itu pun terus dibuka sambil mencari contoh cerpen singkat, “Loh, harus nulis cerpen bang,?” Keluh seorang kru berharap ditunda untuk hari berikutnya.
“Karena sudah diberikan pelatihan untuk kelas cerpen yang pertama ini, maka kalian harus tulis cerpen sesingkat mungkin dengan unsur-unsur cerpen didalamnya. Cukup tulis 3-5 paragraf saja,” Perintah Redaktur Pelaksana melihat daftar kehadiran mengikuti pelatihan kelas cerpen.
Redaktur Bahasa bersama segudang ilmu yang ia miliki terus menularkan virus semangat menulis kepada kru peserta pelatihan kelas cerpen, “Menulis itu tidak selalu harus butuh konsentrasi penuh. Kecuali untuk menulis makalah atau skripsi, butuh fokus,” katanya 30 menit menjelang pengumpulan naskah tulisan diatas kertas.
Singkatnya, 30 menit yang telah disepakati belum cukup ternyata untuk memberi bumbu untuk pilihan diksi dan membangun cerita semakin hidup dengan seluruh ketentuannya. Namun, secara fungsional tulisan harus menyampaikan pesan diakar tulisan.
Reporter Redaksi terbiasa berteman dengan berita stright news dan feature news agak kaku dengan tulisan-tulisan bermajas. Namun, redaktur pelaksana sebelum membuka pelatihan kelas cerpen berniat untuk menyeragamkan tulisan Reporter Redaksi khususnya soal olahan diksi sastra. Apalagi majas, diksi sastra dan atau pembangunan cerita secara berurut dan rapi pun bisa diterapkan dalam berbagai jenis tulisan termasuk berita bermacam tipe dan jenis.
Reporter : Rahmanuddin dan Aminata Zahriata

