
Penulis: Putri Khairunisa Nabilah
Aku merasa lega setelah menceritakan segala keresahanku dengan ibu. Tetapi, di sisi lain, aku juga merasa bersalah karena telah membuat ibu menangis. Sebenarnya aku tak ingin bercerita kepada ibu, tapi aku benar-benar merasa penat dan bingung harus bercerita kepada siapa lagi. Aku tak mau menyimpan beban ini sendirian. Dengan ini, ibu juga bisa mengerti keadaanku.
Sebulan sudah aku bergabung dalam Mahaba. Segala pelatihan, tugas, dan kesibukan lain membuatku cukup bingung dalam memanajemen waktu. Aku mendapat banyak tugas dan amanah kepanitiaan dari Mahaba. Di sisi lain, aku juga harus menyiapkan beberapa makalah untuk memenuhi tugas presentasiku. Aku merasa lelah dua kali lipat setelah aku gabung ke Mahaba. Tiap malam, aku begadang untuk menyelesaikan segala tugas dan tanggung jawabku.
Aku sadar tugasku sebagai mahasiswi adalah belajar, memenuhi segala tugas dari dosen, dan mendapatkan nilai yang bagus. Aku juga tak mau mengecewakan ayah dan ibu yang telah bersusah payah merawatku, membesarkanku, membayar uang kuliahku, dan memberi wajangan-wajangan kepadaku agar aku menjadi orang sukses kelak. Tetapi, aku tak mau meninggalkan organisasi yang sekarang telah melekat di hatiku. Aku sudah menemukan titik nyaman di dalamnya. Sebisa mungkin aku mencoba untuk kuat dan bertahan, karena aku yakin ini adalah proses untuk membentuk karakter dan kepribadianku.
Dari malam ke malam, aku meratapi kesibukanku dan keletihanku. Aku bergumam dalam hati, ‘oh begini rasanya jadi dewasa’, menemukan arti hidup yang sesungguhnya dan harus pandai-pandai menemukan jalan keluar sendiri. Aku mulai paham mengapa aku tak memiliki banyak teman. Ya, itu adalah seleksi alam. Yang tak sungguh-sungguh berteman denganku akan pergi dengan sendirinya. Aku juga tak perlu menjadi orang lain atau meninggikan ekspektasi orang lain terhadapku demi mendapatkan teman. Aku cukup menjadi diri sendiri untuk dicintai dan mendapatkan teman yang tulus menerimaku apa adanya. Ibu juga selalu berpesan hal demikian padaku.
“Nak, tak apa kalau tak punya banyak teman. Yang terpenting, kamu tetap menjadi dirimu sendiri. Biarlah orang lain berkata apa terhadapmu. Cukup jalani hidup senyamanmu saja, asal tetap berada di jalan yang benar. Menjadi dewasa itu proses, nak. Nikmati sajalah”. Pesan ibu yang selalu kuingat ketika aku sedih dan penat.
Benar kata ibu, menjadi dewasa itu proses, dan proses menjadi dewasa cukup sulit, tak seindah yang kubayangkan. Dulu, saat masih kecil, aku ingin cepat menjadi dewasa. Pandanganku terhadap orang dewasa salah. Aku pikir hidup menjadi dewasa akan lebih indah dibanding masa kanak-kanak. Banyak harapan dan ekspektasi yang tak sesuai kenyataan. Yah, mungkin aku saja yang terlalu banyak berharap.
Di masa inilah saatnya aku benar-benar mengembangkan diri, menimba ilmu, memiliki keingintahuan yang besar, agar harapan orang tuaku kepadaku bukan sekadar harapan. Akan aku buktikan kemampuanku, akan ku buat harapan mereka menjadi kenyataan. Agar usaha mereka untuk membuatku menjadi orang hebat tak sia-sia.
Editor: Miftahul Zannah

