Divergen /2/

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator: Muhammad Haris)

Penulis: Miftahul Zannah

Semenjak kejadian di kolam renang tersebut, Klara menjadi pemurung. Tetapi Vera dan Rudi terus menyemangati anaknya tersebut.

Tiga Tahun Kemudian…

“Ma. Klara sudah rapi belum?” tanya Klara kepada Vera.

“Wah. Akhirnya anak Mama sudah sekolah. Kamu sudah rapi, kok. Cantik lagi,” puji Vera.

“Ih, Mama. Nanti telinga Klara naik, takutnya enggak bisa turun,” jawab Klara dengan wajah memelas.

“Idih, kamu bisa saja, deh,” 

Klara pun diantar oleh Vera dengan menggunakan seragam merah putih yang baru, Klara sangat bersemangat. Klara yakin, pasti bakalan ada yang menggantikan posisi Jane yang terus menemaninya sekaligus menjadi sahabatnya.

Bel pun berbunyi, Klara pamit dan Vera langsung pulang.

Di sekolah baru, Klara bertemu dengan temannya namanya Resa, Klaundra, dan Jesi. Mereka kemana-mana selalu bersama. Sampai mereka memasuki sekolah menengah pertama. Tetapi ada yang aneh akhir-akhir ini. Klara sering tidak ikut kumpul dengan mereka. Klara lebih memilih menyendiri.

“Guys, akhir-akhir ini Klara kenapa menyendiri mulu, sih?” tanya Klaundra.

“Iya benar. Klara sudah berubah,” jawab Resa dengan wajah kesal.

“Tapi kan, kemarin aku liat Klara duduk ditaman belakang seperti bicara sendiri,” bisik Jesi.

“Ah. Kamu serius Jes. Kok, serem. Duh, bulu kuduk mulai merinding, nih,” ucap Resa.

Semakin hari Klara lebih memilih sendiri, dan bukan hanya Jesi saja yang sering melihat Klara bicara sendiri. Seperti ada makhluk tak kasat mata yang berbicara padanya.

“Klara, kok kamu berubah. Kamu aneh banget akhir-akhir ini. Seperti orang stres bicara sendiri,” ucap Klaundra.

“Ih. Kalian apaan sih. Aku lagi bicara dengan Jeni,” jawab Klara.

“Jeni siapa Klara? Disini tak ada siapa pun kecuali kita,” jelas Jesi sambil menyodorkan mata ke arah sekeliling mereka.

“Ada, kok. Ini dia lagi di sam..” ucapan Klara terpotong.

“Sam apa Klara? Samping kamu? Kita semua enggak ada liat,” sambung Jeni.

“Lama-lama di kira orang kita berteman dengan orang gila kali. Udah deh enggak perlu berteman dengan Klara lagi,” hasut Klaundra.

Mulai dari situ tak ada yang mau berteman dengan Klara. Karena tak hanya teman-temannya saja yang sering melihat Klara berbicara sendiri, tetapi gurunya pun sering memperhatikannya.

“Bu…sepertinya Klara harus diperiksa sikologinya. Karena saya selalu memperhatikan kalau Klara sering berbicara sendiri,” jelas guru Klara.

“Tapi, Bu. Anak saya normal kok. Di rumah biasa-biasa saja,” jawab Vera.

“Tapi ini tidak bisa dibiarkan, Bu,” sambung Mega.

“Baiklah saya akan mengajak Klara ke Dokter Psikolog,” tutup Vera.

Sepulang sekolah Klara dan Vera di jemput Rudi dan langsung membawa mereka ke Dokter Psikolog.

Setelah melakukan pemeriksaan, dokter harus banyak mempelajari apa sebenarnya yang terjadi dengan Klara.

“Baik, Bu. Setelah saya selesai melakukan pemeriksaan terhadap anak Ibu, hasilnya sangat-sangat diluar ekspektasi saya. Mungkin juga bagi Bapak dan Ibu,” ucap dokter.

“Memangnya anak kami kenapa dokter?” tanya Vera dengan wajah panik.

“Sebenarnya anak Ibu…” ucap dokter terpotong

“Jeni, kemari, aku punya coklat,” teriak Klara dari balik tirai tempat tidur.

Semua mata terbelalak menyaksikan keadaan Klara yang sangat aneh.

Bersambung…

Editor: Amelia Pratiwi

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles