
Penulis: Dara Puspita
Saat itu hari Minggu, jam menunjukkan pukul 06.00 pagi. Yusuf terbangun dengan penuh semangat karena pada hari itu ia akan berjalan kaki mengeksplorasi Kota Medan dengan teman SMPnya yang bernama Dika. Yusuf langsung bergegas menuju ke kamar mandi dan sangking semangatnya, ia pun sambil bernyanyi ria di dalam kamar mandi tersebut. Setelah selesai mandi, ia pun berpakaian ala-ala turis.
“Suf, kamu mau kemana, Nak? Kok pagi hari sudah rapi sekali pakaianmu, sok ala turis pula tuh,” tanya Ibu Yusuf melihat anaknya berpakaian seperti itu sambil tertawa mengejek.
“Yusuf mau jalan kaki Mak sama Dika mengeksplorasi Kota Medan sambil berfoto gitu. Yusuf kan suka foto sambil bergaya Mak biar jadi anak populer hehehe,” jawab Yusuf sambil tertawa.
“Ya sudah hati-hati kamu! Jaga barang-barangnya juga karena pagi begini masih rawan copet. Oh iya sarapan dulu biar enggak pingsan kamu nanti di jalan hehehe”.
Yusuf pun segera sarapan dan setelah itu ia pergi menuju rumah Dika yang jaraknya sekitar 1km dengan naik angkot. Tidak lama kemudian Yusuf pun sampai di rumah Dika.
“Assalamualaikum Dika, ini aku Yusuf,” salam Yusuf kepada Dika.
“Waalaikumussalam, bentar ya Suf aku mandi dulu hahaha,” jawab Dika yang saat itu belum mandi.
“Astaga Dragon ball. Dika, yang ku kiranya lah kau sudah mandi dan siap semuanya,” kata Yusuf dengan sedikit kaget.
“Santuy kenapa Suf, sebentarnya nih tinggal mandi kemudian pakaian langsung pigi kita,” jawab Dika.
Dika pun sudah siap dan mereka memulai perjalanan dari jalan Halat. Selama diperjalanan mereka menceritakan tentang hobi masing-masing, keseharian mereka dan pastinya mau kemana saja mereka berjalan kaki hari ini.
“Dik enaknya kemana kita ya? Tempat yang bagus gitu seperti bangunan tua yang pas untuk berfoto lah,” tanya Yusuf.
“Ke Lonsum aja yuk, disitu kan sering orang berfoto-foto. Foto untuk kelulusan, foto prewed . Mana tahu kau mau sekalian foto prewed sama si dia hahaha,” jawab Dika sambil cengengesan.
“Aih entah siapa pun dianya itu, udah lah yuk gas langsung kesana kita, lewat Sutrisno aja dulu,” kata Yusuf dengan semangat.
Mereka pun berjalan menuju jalan Sutrisno dan melihat suasana yang sunyi dan pas menurut Yusuf, ia pun meminta Dika untuk mengambil fotonya. Tiga jepretan pun sudah diambil Dika, mereka pun melanjutkan perjalanan dan tiba lah mereka di jalan Sutomo dengan suasana yang sunyi dan burung-burung berkicau. Yusuf pun lagi-lagi meminta Dika untuk memfotokannya.
“Suf, fotokan aku juga lah asik kau aja yang aku fotokan, aku pun mau juga lah difoto,” pinta Dika ke Yusuf.
Yusuf pun memfoto Dika dengan gayanya yang keren. Setelah mereka berfoto-foto, mereka melanjutkan kembali perjalanan menuju jalan Pandu. Tetapi, sebelumnya mereka sampai di simpang jalan Pandu, mereka dihadang oleh seorang pemuda yang tidak dikenal.
“Dek, ada nampak perempuan diganggu orang jahat? Adikku itu yang diganggu. Kata Adikku dua orang yang mengganggunya,” tanya pemuda itu.
“Enggak nampak kami Bang, kami aja baru lewat disini,” jawab mereka.
“Udah yuk ikut abang dulu kita jumpai Adikku”.
“Kalian ada bawa gadget? Coba aku pinjam dulu salah satu gadget kalian soalnya gadgetnya tadi diambil mana tahu sama kalian dan pastinya kalian pelakunya”.
Dengan polosnya mereka pun memberikan gadget mereka ke pemuda tersebut dan karena gadget Yusuf yang lebih bagus, maka handphone Dika pun dikembalikan. Mereka diajak berjalan melewati jalan kecil tepatnya di jalan Kapuas yang menuju ke Rumah Sakit Permata Bunda. Tidak lama kemudian mereka disuruh menunggu di depan sebuah rumah penduduk yang ada di dekat daerah tersebut.
“Dek, tunggu di sini aja kalian ya, Abang mau jumpai Adikku. Mau nunjuki betul enggak ni gadgetnya dia. Kalian di sini aja tunggu Abang, di sana sudah ramai warga takutnya dipukuli pula kalian sama warga,” kata si pemuda tersebut.
Yusuf dan Dika pun menurut dan mereka menunggu dengan waktu yang cukup lama. Tidak lama kemudian Yusuf pun tersadar kalau di sana tidak ada rumah tetapi hanya ada rumah sakit. Mereka pun segera menuju kesana, mencari pemuda tersebut. Sangat disayangkan, mereka sama sekali tidak menemukan pemuda tersebut, lagipula mereka tidak tahu harus bertanya kepada siapa karena sudah cukup lama selang waktu dari kepergian si pemuda tersebut.
“Dik, cemana nih hilang gadgetku, kita ditipu,” kata Yusuf dengan sangat panik.
“Ya bagaimana lagi Suf, mau kemana lagi kita cari? Coba ku telpon dulu gadgetmu ya,” jawab Dika sambil berusaha menenangkan Yusuf.
“Duh gak aktif lagi Suf, dimatikannya nih gadgetmu,” kata Dika yang malah ikutan panik.
“Aduh kacau kali ah, sudahlah tamat riwayat kalau begini. Kita pun bisa enggak sadar ya, kok bisalah kita ditipu begini,” kata Yusuf.
“Sudah Suf, kita lanjut saja dulu perjalanan kita. Nanti saat di rumahmu, aku bantu bilang kalau gadgetmu hilang tadi pagi karena dihipnotis,” ujar Dika.
“Yasudahlah, yuk jalan lagi kita,” kata Yusuf yang mulai tenang.
Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menuju Lonsum, dan mereka pun tiba di Lonsum. “Sudah jangan panik kali, pakai gadget aku aja fotonya ya,” kata Dika.
“Yaudah aman itu,” jawab Yusuf.
Mereka pun berfoto-foto di Lonsum tersebut dan bangunan tua sekitarnya. Jam menunjukkan pukul 12.00 siang, Dika mengajak Yusuf untuk pulang ke rumah.
“Yuk kita balik sudah tengah hari, aku tahu kau pasti masih panik karena gadgetmu hilang,” ajak Dika.
“Yuk lah balik kita,” jawab Dika.
“Dik, betul ya, bantu aku bilang ke mamakku kalau gadgetku hilang,” pinta Yusuf sambil jalan menuju rumah.
“Iya tenang aja, aku bantu ngomong nanti ya. Insyaallah aman enggak sampai diusir sama mamakmu hahaha,” jawab Dika sambil ngeledek.
Mereka pun sampai di rumah, Yusuf masih belum berani memberi tahu kepada mamaknya kalau gadgetnya hilang. Sampai akhirnya mamaknya curiga karena melihat ekspresi Yusuf yang sedikit aneh.
“Nak, kenapa? kok mukanya aneh gitu? tanya Ibu Yusuf.
Yusuf yang masih panik pun belum berani menjawab, sampai Dika menjawab pertanyaan Ibunya Yusuf.
“Gadget Yusuf hilang, Bu, tadi pagi saat kami lagi jalan-jalan. Kami ditipu sama seorang pria di jalan Sutomo. Dia berkata adiknya diganggu orang dan gadgetnya diambil sama pengganggu itu, Bu. Jadi gadget kami diminta untuk menunjukkan ke Adik pria itu. Lagipula gadget Yusuf yang lebih bagus daripada saya, makanya gadget Yusuf yang diambil,” jawab Dika.
“Astagfirullah, kok bisa lah Nak? Mamak sudah bilang jaga barang-barangmu, lagian masih SMP kalian jadi masih mudah ditipu-tipu sama orang. Sudah enggak usah pergi pagi-pagi lagi, kalau mau pergi jangan jalan kaki tapi naik angkot saja, ya,” jawab Ibu Yusuf seraya memberi nasihat.
“Iya, Mak. Kami enggak akan jalan kaki lagi,” kata Yusuf.
Editor: Anggia Nurulita

