
Penulis: Siti Asyaroh
Dua bulan kemudian…
“Bu, hari ini pengumuman kelulusan Risa dan teman-teman. Doakan Risa yaa Bu,” ucap Risa seraya mencium tangan ibunya. Ia terlihat begitu gelisah.
“Iya sayang, doa Ibu selalu menyertai mu,” jawab Rani.
Risa pun berangkat ke sekolah dengan Pak Udin, ojek langganannya.
Sesampainya di sekolah, Risa menemui teman-temannya yang sedang duduk di kelas.
“Ris, apa kau tidak gelisah menunggu hasil ujian kita?” tanya Yaya salah seorang teman sekelas Risa.
“Tolong jangan memperjelas perasaanku,” jawab Risa sambil tertawa kecil. Saat mereka asyik berbincang, tiba-tiba datang seorang guru dan menyuruh mereka untuk berbaris di lapangan sekolah.
“Anak-anak, ayo segera ke lapangan, sebentar lagi kepala sekolah akan membacakan pengumuman kelulusan kalian,”
“Baik Bu,” jawab Risa dan teman-temannya serentak. Mereka bergegas ke lapangan dan segera mengambil barisan.
“Anak- anak, dengan bangga Bapak mengumumkan bahwa kalian semua lulus dan berhak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bapak harap kalian tidak melupakan sekolah ini yang menjadi salah satu saksi sejarah perjuangan kalian dalam belajar. Tetaplah rendah hati dimanapun kalian berada nantinya. Jangan lupa, besok kita akan mengadakan acara perpisahan, jadi mohon datang bersama orangtua kalian,” ucap kepala sekolah.
Riuh tepuk tangan menggema di lapangan sekolah. Semua siswa-siswi merasa senang, termasuk Risa, terjawab sudah kegelisahan nya.
Keesokan harinya, Risa dan Rani datang ke sekolah untuk memenuhi undangan acara perpisahan itu. Di pertengahan acara, ibu Risa dan ibu teman-teman yang lain saling menanyakan tentang kelanjutan pendidikan anak-anak mereka.
“Bu, nanti anaknya lanjut sekolah ke mana?” tanya bu Astri salah seorang ibu dari teman Risa.
“Insyaallah, di Medan Bu,” jawab Rani dengan bangga.
“Waaah hebat yaa Bu, bisa lanjut sekolah ke kota.”
Ibu Risa menggangguk dengan senyum lebar. Risa yang mendengar percakapan itu tiba-tiba menyanggah pernyataan ibunya “ Tapi aku tidak mau Buuu,”
“Loh, kenapa Nak? Bukannya bagus kamu bisa sekolah di kota?” tanya bu Astri. Ibu Risa hanya diam tanpa berucap sepatah katapun. Terlihat dari wajahnya, Rani begitu kesal mendengar jawaban Risa.
Pukul menunjukkan jam 15.00 WIB
Risa dan Rani pun pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Ibu Risa berkata “Nak, nanti malam Ibu ingin bicara denganmu,”
Risa hanya mengangguk dan berlalu begitu saja.
Malampun tiba
Risa datang ke kamar Rani untuk menanyakan hal apa yang ingin dibicarakan oleh ibunya itu.
“Begini Nak, langsung saja ke intinya. Kenapa kamu tidak mau melanjutkan sekolah ke Medan?”
Risa menghela nafas “Risa takut Buu,”
“Apa yang kau takuti nak?”
“Semua hal yang berkaitan dengan kota metropolitan itu Bu,”
“Apa saja itu?” tanya Rani sambil menggenggam tangan Risa yang dingin.
“Ibu tahu kan kalau Risa sangat sulit beradaptasi, Risa merasa bodoh, Risa takut tidak bisa bersaing dengan anak-anak kota itu Bu,” jawab Risa sambil terisak.
“Buuu Risa mohon, Risa tidak mau ke Medan, Risa akan berpisah dengan Ibu” lanjutnya sesenggukan.
“Nak, semua akan baik-baik saja, semua akan bisa kamu lalui, justru karena kamu merasa bodoh, haruslah kamu belajar. Apalagi kota Medan itu kota terbesar ke tiga se-Indonesia loh, tentunya akan banyak pengalaman nantinya ketika kamu sudah sekolah di sana, mencoba hal hal baru. Menyenangkan bukan? kalau kamu sudah pintar Ibu tak perlu menyuruhmu melanjutkan sekolah ke Medan”
“Nak, Ibu tidak menuntutmu untuk menjadi nomor satu di kelas, jadi jangan takut bersaing dengan teman-temanmu nantinya. Ibu hanya berharap kamu akan belajar sungguh-sungguh dan menggali ilmu sebanyak-banyaknya disana. Lakukan saja semampumu kamu pasti bisa! Ibu akan menjengukmu tiga bulan sekali” jelas Rani panjang lebar.
Hati Risa begitu perih mendengar penjelasan Rani, di satu sisi ia sangat setuju akan pendapat ibunya. Namun, disisi yang lain ia tidak percaya akan kemampuan dirinya.
“Nak, segera siapkan perlengkapan untuk dibawa ke Medan, tiga minggu lagi bibimu akan datang menjemput mu dan kau akan tinggal bersamanya nanti. Dia juga yang akan mengurus berkas untuk mendaftar ke sekolah barumu, kamu mau kan?“
Risa mulai berpikir, ia juga tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas itu untuk terus menggali pengalaman di kota orang “I-iya Bu,” jawabnya singkat.
“Baiklah, selama tiga minggu ini kita akan menghabiskan waktu bersama sebelum kau pergi ke Medan,”
“Ibuuuu bagaimana aku bisa hidup tanpamu disana?” tanya Risa yang terus saja menangis.
“Hmmm Anakku, tenanglah semua akan baik-baik saja. Kau harus belajar mandiri, nanti kau juga akan terbiasa tanpa Ibu,” jawab Rani sambil memeluk anaknya erat.
Tiga minggu pun berlalu, segala perlengkapan sudah siap, saatnya Rani mengantarkan Risa ke stasiun kereta api. “Nak, kamu akan dijemput oleh bibimu di stasiun Medan. Kau akan tinggal bersamanya nanti,” pesan ibu Risa.
Risa hanya mengangguk tanda setuju walau hatinya berat. Kereta api sudah tiba, penumpang segera masuk ke gerbong kereta.
Editor: Anggia Nurulita

