
Penulis: Karmila Sinaga
Kringggg
Jam menunjukkan pukul 06.00 WIB. Suara alarm mulai meramaikan kamarku. Suara khas ibu kini sudah terdengar di telingaku.
“Sarah, bangun, Nak. Sudah jam berapa ini? Kamu enggak sekolah? Sarah bangun, dong, ini Hari Senin. Kamu, ‘kan ada upacara di sekolah hari ini, Sayang,” teriak Ibuku.
Aku sangat nyaman berada di kasur kesayanganku ini. Suara ibu tak juga membangunkanku. Dengan sigap ibu bergegas membawa kunci serap kamar dan membuka kamarku.
“Sarah…, udah salat belum?” tanya ibu sambil menggedor pintu.
Mataku masih menutup rapat, aku sangat mengantuk. “Iya, Bu, bentar lagi, lima menit lagi. Lagian Sarah lagi enggak salat, Bu,” lirihku sambil menarik selimut.
Ibu menghampiriku. “Ayo, dong, bangun, siap-siap. Biar sarapan pagi sama Ayah dan Ibu. Susu coklat kamu sudah Ibu siapin di bawah, sudah jam enam lewat sepuluh menit, kamu, ‘kan ada upacara di sekolah, Sarah.”
Astaga! Aku lupa! Hari ini ada upacara di sekolah. Seketika aku bangun dan bergegas ke kamar mandi.
“Buruan, Ibu dan Ayah nunggu kamu di bawah.”
“Siap, Ibu. Makasih, ya, Bu.”
Kehidupan keluargaku setiap paginya selalu begitu, ibu yang selalu membangunkanku, Ayah yang selalu bersiap untuk minum kopi hitamnya sebelum berangkat kerja, dan aku yang selalu disuguhkan susu coklat setiap paginya.
“Mana Sarah, Bu?” tanya ayah sambil menyeruput kopinya.
“Biasalah, Yah. Baru bangun terus bergegas mandi tuh. Anaknya pelupa banget, hari ini ada upacara padahal,” jawab ibu.
“Hm, Sarah ngikut Ibunya waktu muda dulu nih kayaknya,” goda ayah pada ibu.
“Ya ampun, Ibu dulu enggak begitu ya, Yah,” pungkas ibu malu-malu.
Ayahku sangat menyukai kopi hitam, setiap pagi sebelum berangkat kerja ibu selalu menyuguhkannya kopi. Setelah waktu menunjukkan pukul 07.05 WIB, aku pun keluar dari kamar, bergegas menuju meja makan. Di sana sudah tersedia susu coklat kesukaanku.
“Sudah jam berapa ini? Ayo sarapan,” ucap ibu.
“Kenapa kamu, Nak? Tadi malam begadang, kebiasaan bangunnya lama. Ayah enggak suka, ya,” titah ayah.
“Iya, Yah, Bu. Tadi malam ada tugas tenggatnya hari ini,” jelasku sambil menenggak susuku. “Oh iya, Yah, Bu, maaf Sarah enggak bisa sarapan, sudah jam segini. Hari ini yang bawa upacara kelas Sarah, dimulai jam 07.25 lagi. Dada, Ayah, Ibu.”
“Kamu enggak mau bareng sama Ayah?” tawar ayah padaku.
“Ayah lama, ‘kan, masih makan, Sarah duluan saja.” Aku lalu berlari ke depan gang.
Namaku Sarah, aku adalah siswi di SMA Unggulan Jakarta kelas 11. Aku adalah siswi yang bisa dikatakan berprestasi, aku menjuarai beberapa olimpiade tingkat sekolah maupun nasional. Aku sangat tertarik dengan melukis, bermain alat musik, dan juga mendesain. Berkat juara yang kuterima, aku berhasil membawa harum nama sekolah. Salah satu kelemahanku adalah fakta bahwa aku sering tidak tepat waktu. Ya, bisa dikatakan kedisiplinanku kurang.
Sesampainya di sekolah tepatnya pukul 07.19, aku langsung mengantar tas ke kelas dan berlari ke lapangan yang sudah ramai oleh siswa-siswa SMA Unggulan. Sesampainya di sana aku disapa oleh teman dekatku, Sonya.
“Eh, Sarah! Lama banget dah lo. Jam berapa nih? Bu Susi nyariin lo mulu dari tadi,” ucap Sonya.
“Eh, iya? Sorry deh gue kesiangan. Biasa, tadi malam gua ngelukis, lo mau liat enggak lukisan gue?” tawarku.
“Eh, entar aja, deh. Upacara bentar lagi mulai. Omong-omong, lo ngelukis cewek atau cowok?” tanya Sonya penasaran.
“Cowok, dong.”
Setelah percakapan Sarah dan Sonya, Ibu Susi yang merupakan Wali Kelas mereka datang menghampiri Sarah.
“Eh, lama banget Ibu tungguin, Sarah? Selalu terlambat, tidak disiplin,” tandas Bu Susi.
“Maaf, Bu, tadi enggak ada angkot. Maaf, ya, Bu,” ucapku penuh penyesalan.
“Baiklah, sekarang ambil posisi. Kamu jadi protokol, ‘kan?” tanya Bu Susi.
“Iya, Bu.” Aku berjalan menuju tempatku.
Sesudah upacara berlangsung, aku pun kembali ke kelas dan melakukan aktivitas pembelajaran, entah kenapa hari itu rasanya aku sangat tidak tertarik untuk belajar. Aku uring-uringan, juga memperlihatkan wajah lesuh.
Bu Susi yang menyadari itu lalu menghampiriku. “Kamu kenapa? Sakit?”
“Enggak, kok, Bu. Sarah baik-baik aja,” jawabku.
“Iya, nih, kenapa, Sar? Semangat, dong, katanya lo mau nunjukkin lukisan lo, mana?” tanya Sonya bersemangat.
Aku tertawa kecil. “Tunggu, ya, gue ambil dulu.”
Setelah pembelajaran berlangsung, sekitar jam 12.30 WIB, aku dipanggil temanku, katanya harus menemui Pak Rahman di ruangannya, sontak kaget karena aku sama sekali merasa tidak membuat masalah apa pun hari ini. Aku pun bergegas menemui pak Rahman.
“Sarah, sini kamu duduk,” panggil Pak Rahman.
“Ada apa ya, Pak?” tanyaku.
Pak Rahman menghela napasnya. “Sarah, kamu harus kuat. Bapak mendapat telepon dari ibu kamu katanya ayah kamu masuk rumah sakit karena penyakit asam lambung, jadi bapak memutuskan untuk mengantar kamu ke rumah sakit sekarang juga, ayo siapkan tas kamu.
Aku terkejut. “Ha? Serius, Pak? Ayah saya?” Aku mulai histeris dan menangis. “Ayah kenapa? Tadi pagi baik-baik aja di rumah.” Aku bergegas mengambil tasku di kelas lalu pergi dengan Pak Rahman.
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung memeluk ibuku dan menangis bersama. Pak Rahman tidak bisa lama, setelah mengantarkanku, ia pun berpamitan untuk kembali ke sekolah.
“Ibu, ayah kenapa? Tanyaku pada ibu.
“Ayah kamu terkena penyakit asam lambung, mungkin karena Ayah selalu minum kopi hitam di setiap pagi dan malam. Mungkin ini akibatnya,” tutur ibuku sambil menangis.
“Ibu jangan nangis, Sarah enggak kuat liat Ibu nangis. Kita berdoa bersama ya, Bu.”
Sejak saat itu, aku tidak lagi menyukai susu dan kopi. Aku membenci keduanya. Menurutku kedua hal itu menjadi kebiasaan di keluargaku, aku ingin menghentikannya. Maka kuputuskan aku juga berhenti mengkonsumsi susu seperti yang ayah lakukan, berhenti meminum kopi hitam.
Editor: Afrianti Safitri

