Menebus Maaf Lewat Mimpi /1/

- Advertisement - Pfrasa_F
(Ilustrator: Lelya Hilda Amira Ritonga)

Penulis: M. Rio Fani

Di sebuah ruangan perpustakaan berwarna biru dengan diameter 4×6 serta sedikit hiasan gabus warna-warni di lemari buku yang membentuk kalimat Long Life Education. Pikiran yang tetap fokus mengerjakan tugas-tugas kuliah serta beberapa buku pengantar ilmu sosial juga laptop yang menyala terang. 

Berjam-jam menatap layar, lalu menganalisis kata-kata yang menjadi acuan data, lapar seakan terpenjara tak ingin mengganggu. Keheningan perpustakaan pun membuat ruangan terasa menjadi mistis. Akibat tidur yang berkurang karena seringnya begadang, kantuk tiba-tiba keluar dari batasnya, menyerang pertahanan dari lelaki berkacamata yang bernama Pandu dan… 

“Brukk…” seketika Pandu tertidur.

Terlihat sebuah lorong bulat yang mengarah entah ke mana, terdapat cahaya yang berada di ujung lorong seperti menunjukkan sebuah arah, dan Pandu berjalan kebingungan. Sambil meraba dinding-dinding yang sedikit berlumut, lalu ia keluar.

“Wah… indah sekali,” Pandu merasa takjub sekaligus heran.

Pria berusia 21 tahun itu masih berkeliling diantara pohon-pohon cemara, dan sesekali mencium aroma bunga yang memamerkan wewangian asri. Ia merasa berada di hutan yang senantiasa menyambutnya dengan udara menyejukkan. Pandu memetik sebuah bunga dandelion, menghembusnya dan menatapnya penuh ketenangan. Sesaat bunga-bunga dandelion itu jatuh ke tanah, ia melihat dua orang anak perempuan kembar sedang berlari ke arahnya, sambil memanggil namanya.

“Bang Pandu, apa kabar? Sasa dan Sisi kangen tahu,” kedua anak kembar itu memeluknya dengan erat.

Dengan nada gembira bercampur sedih, Pandu terdiam lima detik, terkejut. Lalu memeluk kembali kedua adiknya yang sudah lama meninggal.

“Sasa … Sisi … Abang juga rindu,” balasnya dengan air mata yang mengalir tanpa diminta.

“Abang…abang, ayo kita ke rumah. Di sana ada ayah dan bunda, mereka juga kangen dengan abang. Bunda juga sudah masak sambal teri kesukaan abang loh. Ayoo..,” tarik paksa oleh kedua adiknya yang manja.

“Ayuk,” balasnya dengan tersenyum dan mengusap air mata yang sudah bertumpah.

Pandu berjalan memegang kedua tangan adiknya sambil menyayikan sebuah lagu ‘naik-naik ke puncak gunung’. Lalu, Sisi yang berada di sebelah kanannya meminta untuk digendong.

“Abang, Sisi mau digendong. Ya, ya ya, boleh ya,” ucapnya memelas manja.

“Iyaa, boleh. Sini,” balas Pandu dengan nada lembut.

“Horee..” sambung Sisi gembira.

Pandu yang menggendong Sisi di punggungnya serta Sasa yang masih asik bernyanyi, tiba di sebuah rumah berdesain klasik dengan kayu jati yang menjadi pondasi bangunan. Terdapat juga kursi goyang di teras rumah tersebut yang membuat Pandu merasa seperti mengenalnya. Seperti sebuah tempat tinggalnya dua tahun lalu. Dilihatnya pintu berwarna cokelat minimalis terbuka, lalu Sisi yang berada di punggung Pandu turun dan mengajaknya ke dalam rumah.

“Bun…oh bunda, Bang Pandu udah datang,” panggil Sasa sewaktu berada di dalam rumah.

Pandu dan kedua adiknya berjalan ke arah meja makan, seketika ia kembali terkejut, matanya berkaca-kaca dan melihat kedua orang tuanya tersenyum. Ia berlari, lalu memeluk mereka.

“Ayah… Bun.. Maafin Pandu,” ucap Pandu dengan air mata yang tidak lagi bertahan.

“Sudah-sudah, ayo makan. Nanti kita bercerita, yang terpenting kamu sehat, Nak.” balas ayahnya.

“Iya, yah.”

Editor: Anggia Nurulita

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Share article

Latest articles