
Penulis: Karmila Sinaga
Hidup di keluarga sederhana, membuat Horas harus banting tulang untuk membantu kedua orang tuanya. Jhon Rajoki Horasman, atau akrab disapa Horas merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Saat ini Horas duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) kelas 3 di daerah kampungnya, yakni Desa Amborokan Panei Raya, Simalungun. Horas sangat penyabar dan pekerja keras.
Suatu hari, ada wanita yang menyatakan cintanya pada Horas. Ya, dia adalah Rosda, teman sekolahnya.
Rosda: “Ras, nanti sore sekitar jam 4 kita belajar di bawah pohon mangga, di atas danau ya,” ucapnya
Horas: “Iya Ros, kuusahakan ya, rencananya pulang sekolah ini. Aku sama kedua adikku mau pergi ke ladang, ngantar cemilan bapak sama mamak.”
Rosda: “Ohh, yaudah Ras, nanti aku kes ana kalau kulihat kau enggak datang-datang, berarti gak jadilah kita belajarnya.”
Horas: “Iya Ros, makasih, ya,”
Kringgggggg……..kring…..bel pulang sekolah pun berbunyi. Murid-murid merapikan buku di laci mejanya, dan bergegas keluar kelas. Begitupun Horas dan Rosda, mereka keluar kelas, dan pulang bersama. Sampai di persimpangan jalan, mereka berpisah karena beda arah.
Rosda: “Duluanla aku ya Ras, nanti kutunggu kau di tempat biasa.”
Horas: “Iya Ros, kuusahakan pun ya,” ucapnya sembari memberikan senyumnya.
Begitula desanya, hanya orang-orang kaya raya, yang memiliki kendaraan berupa mobil, motor dan hanya orang mampu yang memiliki gawai. Rosda adalah anak orang kaya, ibunya Pegawai Negeri Sipil dan bapaknya memiliki sawah yang sangat luas. Tapi, ia tidak pernah ingin, dijemput ketika pulang sekolah, ia ingin berjalan kaki bersama Horas. Sesampai di rumah, horas melihat kedua adiknya sibuk membuat cemilan, bakwan dan goreng pisang dan tempe goreng.
Horas: “Lagi buat cemilan mamak, ya Dek,?” tanyanya.
Hilda: “Iya Bang, ini banyak kami buat, kan Hes?”
Hesti: “Iya, Bang, dari aku pulang sekolah sampe jam 2 ini, inilah kerja kami sama kak Hilda, Bang,” jawabnya.
Horas: “Ooiyalah, jam berapanya mau diantar ini,”? tanyanya.
Hilda: “Jam setengah 3 ini, tapi aku, Hesti sama Tulang depan rumah saja ke ladangnya. Tulang itu mau lihat ladangnya juga, yang di seberang ladang kita, jadi nanti gak usah jalan kaki, numpang saja kami naik keretanya tulang itu, Bang,” jawabnya.
Horas: “Nanti gak suka Turang itu, kalian numpang- numpang ke lading.”
Hesti: “Gak papa, Bang, tadi aku sama Kak Hilda pulang sekolah, Tulang sama Turang itunya yang nanya dan nawarin kami, biar ke ladang sama-sama.”
Horas: “Iya sudah kalo gitu, Abang izin, ya. Jam 4 mau belajar sama kawan di danau,” ucapnya.
Hilda dan Hesti: “Oh iya, Bang, belajarlah Abang, sudah kelas 3 SMA, sudah mau ujian juga,” jawab mereka.
Horas pun pergi menemui Rosda di tempat biasa. Di sana sudah terlihat Rosda yang sibuk menatap danau, bukan membaca bukunya.
Horas: “Ros, ko’ tidak baca buku,”?
Rosda: “Oo, gak jadi ke ladang? Iya, lagi cantik kulihat danaunya,” ucapnya beralasan.
Horas: “Iya, sama Tulang depan rumah katanya Hesti dan Hilda, dari pada jalan. Jauh juga ladang Mamak,” jawabnya.
Rosda: “Iyalah ras, ayoklah kita baca buku, sambil jawab kuis yang semalam,” ucapnya.
Setelah belajar bersama, dan menjawab kuis, Rosda pun mengungkapkan perasaannya.
Rosda: “Ras, tamat SMA ini mau ke mana rencanamu”?
Horas: “Mau melamar Polisi rencanaku Ros ke Semarang, kalau kau, Ros?” tanyanya.
Rosda: “Disuruh Mamak sama Papak aku kuliah ke Jakarta, ke rumah Bou. Disuruh tinggal di sana, tapi masih belum kuiyakan,” balasnya.
Horas: “Ambillah itu, bagusnya saran Tulang sama Turang itu,” ucapnya.
Rosda: “Ras, tahun tahun kita kawan-kawan gini. Adanya rasa suka kau samaku,”? tanyanya.
Horas: “Kenapa gitu pertanyaanmu, Ros?”
Rosda: “Aku ada, Ras. Aku suka samamu,”
Horas: “Aku pun juga, Ros. Aku juga suka samamu, tapi aku sadar. Keluargaku tidak sekaya keluargamu,” jawabnya.
Rosda: “Jangan gitu, sama-sama berjuang kita, ya. Siap SMA ini, aku ke Jakarta, kau ke Semarang, tapi ,janji Ras, tiap tahun pulang kau, ya. Nanti kukasih nomorku, kalau rindu samaku, hubungi aku pakai ini,” ucapnya.
Horas: “Iya, sama-sama berjuanglah dulu kita,ya,” ucapnya dengan nada bahagia.
Ujian pun selesai, Horas pergi ke Semarang dan Rosda ke jakarta. Namun, sudah memasuki tiga tahun Horas tidak juga kembali ke desanya. Rosda yang selalu mencari keberadaan atau nomor handphonenya ke orang tua dan adik Horas, sama sekali tidak mendapat hasil. Ia tidak tahu, apakah Horas masih setia, atau tidak.
Rosda: “Dek, Hilda di mana abangmu sekarang, ya. Kalau kakak tahu alamatnya, kakak datangilah ke Semarang,” ucapnya.
Hilda: “Itulah enggak tahu aku, kak. Janjinya Bang Horas, dua tahun berjuang di Semarang, pulangnya dia, baru katanya kuliahlah aku, ini udah tiga tahun enggak pernah kami dapat kabar kak,” jawabnya.
Dengan perasaan sedih dan kecewa, Rosda pun pulang kerumahnya, hampir setiap tahun ia selalu mendatangi rumah Horas untuk bertanya kabar Horas dari adik dan orang tuanya, tapi hasilnya nihil. Ia berjanji, jika tidak menerima kepastian dan tidak mendapat kabar dari Horas, di tahun keempat nanti, ia akan mencoba menerima lelaki yang datang mendekatinya.
Hari itu datang, Rosda kedatangan tamu bapaknya. Bapaknya menjodohkannya dengan anak temannya. Rosda mencoba menerima, karena tidak ada kepastian dari Horas.
Bapak: “Ros, inilah si Franta. Udah lama dia suka samamu, Nang, menikahlah kau ya, Nang. Perempuan itu paling lama menikah di usia 25 tahun, sudah mau 25 tahun bentar lagi kau, Nang’e, adapun belum bapak lihat calonmu ke rumah ini,” ucap bapaknya.
Rosda: “Iya pak, menikah aku dengan Bang Franta,” jawabnya.
Pernikahan pun berlangsung, dengan adat Batak mereka manortor dan berbahagia bersama.
Setelah sebulan pernikahan, terdengar kabar Horas pulang ke kampung halamannya. Ia pulang dengan menggunakan seragam polisinya.
Rosda: “Bg franta, aku izin. Mau ke rumah kawan SMA-ku, sudah jadi polisi dia sekarang, sudah empat tahun enggak pulang”.
Franta: “Iya, Abang ikut, ya,” ucapnya.
Sesampai di rumah Horas, Horas terkejut melihat Rosda sudah menikah dengan lelaki lain. Di hadapan Rosda dia menangis, begitupun Rosda, iamenangis dan mencoba untuk tenang.
Rosda: “Maaf Ras, ini suamiku sekarang. Empat tahun aku nungguin kau yang katamu berjuang, gak pernah aku tahu kabarmu, gak ada kepastianmu. Sebulan lalu, aku dan Bang Franta menikah.”
Horas: “Maaf Ros, empat tahun itu aku berjuang, dan aku dididik menjadi abdi negara yang baik. Maaf mengecewakanmu. Mungkin, takdir kita tidak bukan berjodoh,” ucapnya.
Editor: Nurul Liza Nasution

