
Penulis: Adelini Siagian
Kesal, itulah kata yang menggambarkan suasana hati Rey sekarang. Ia harus menjalani KKN pada saat Feby, kekasihnya, sedang sakit. Rey turun dari bus dengan malas. Desa ini memang sangat indah dengan keadaan masyarakat yang ramah tamah pula, tetapi entahlah pikirannya sangat tidak tenang.
Ia sudah mencoba menghubungi Ketua Program Studi maupun Rektor untuk meminta dispensasi. Jawaban mereka kompak. Tidak ada toleransi. Rey sudah berada di akhir semester kampus yang mengakibatkan apabila dia tidak lulus tahun ini dia akan dikeluarkan. Bersamaan langkah kakinya menuju tempat dia akan tinggal selama dua minggu KKN di desa ini, satu per satu bus yang membawa rombongan mahasiswa berlalu.
Kediaman Rey bersama tujuh orang anggota kelompoknya adalah sebuah rumah penduduk yang sudah lama tidak terpakai. Pak Doni selaku kepala desa di sini mengatakan bahwa rumah ini tidak ditempati, karena masih diperebutkan antara ahli waris setelah Mbah Joyo meninggal. Masyarakat sekitar rupanya sudah merapikan rumah ini dengan baik sehingga tidak ada tanda-tanda rumah kosong sebelumnya. Tembok-tembok sudah dipoles dengan kapur sehingga lumut-lumut dan bau lembab hilang.
Dalam rumah tersebut tersedia dua kamar, ruang tamu, satu kamar mandi yang sudah rusak, dan dapur. Kamar Rey dan tiga anggota yang lain terletak paling belakang rumah tersebut, sedangkan kamar depan diisi anggota perempuan. Kamar mandi yang cukup parah dengan bagian luar hanya meninggalkan tumpukan batu bata dan atap tanpa genting. Beruntunglah Rey dan teman-temannya yang lain karena terdapat kamar mandi dan kloset darurat dua meter dari reruntuhannya dan satu meter dari sumur tua.
Malam pertama diisi dengan perkenalan antara mahasiswa dan penduduk sekitar. Rey meminta izin kepada ketua kelompok untuk tidak ikut serta. Sejak dari perjalanan tadi sampai sekarang pun kepalanya memang pusing. Agar izin dari ketua kelompok keluar ia berjanji untuk merancang saluran air yang akan digunakan mengalirkan air dari sumber di pegunungan sampai ke desa penduduk. Izinnya pun diterima oleh ketua kelompok.
Rey berakhir dengan kesendirian di dalam rumah. Setelah jam yang tak ada hentinya dilihat oleh Rey, jam pun bergerak di pukul sepuluh malam. Ia heran, pertemuan di Balai Desa seharusnya sudah selesai tetapi belum ada tanda-tanda keramaian di luar rumah yang menandakan mereka sedang menuju ke dalam rumah. Suasana rumah sepi. Bunyi jangkrik dan kumbang yang saling bersahut-sahutan sebagai pengiring malam yang sunyi. Dingin sungguh menggigit. Rey merapatkan sarung miliknya. Matanya sudah tak kuat lagi melihat kertas rancangan saluran air. Ia meletakkan pensil dan penggaris, menyesap kopi kemudian menyandarkan punggung pada sandaran kursi.
Jendela di samping tempat duduknya terbuka. Sinar bulan seharusnya dapat menerangi ruangannya. Sayang sinar lampu tempel menyembunyikannya. Listrik di rumah ini sudah dicabut beberapa bulan yang lalu. Masing-masing ahli waris tidak ada yang mau membayar sebelum ada kejelasan kepemilikan rumah.
Mata Rey setengah tertutup. Hampir saja ia jatuh tertidur. Samar-samar, terdengar suara air bergemericik di belakang. Telinga Rey menangkap senang, itu tandanya sudah ada teman-temannya yang datang. Mereka pastilah mencuci kaki sebelum memasuki rumah. Rey membenahi cara duduk. Ia tidak ingin diketahui sedang bermalas-malasan, sebab lain kali Ketua kelompoknya pasti tidak akan memberikan izin untuk tidak mengikuti acara.
Rey merasa heran. Sudah beberapa menit, tetapi suara air itu tetap terdengar dan tak kunjung berhenti. Tidak ada tanda-tanda orang masuk rumah. Kakinya menapak pelan-pelan menuju pintu belakang. Suara gemericik air tadi pun seketika berhenti. Ia heran. Dengan hati-hati dibukanya pintu. Hembusan angin basah membuat dadanya tiba-tiba seperti kram. Ini bukan lagi dingin, tapi beku. Pandangannya menjelajahi semua sisi dari kiri ke kanan. Tak ada tanda-tanda orang. “Lantas suara apa tadi? Sudah jelas tadi suara air,” batinnya.
Ia menutup pintu lagi dan masuk ke dalam. Kurang beberapa langkah di depan pintu kamar, suara gemericik air kembali terdengar. Rey berlari menuju pintu dan cepat-cepat membuka pintu. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan lagi. Suara air jatuh masih terdengar. Kali ini ia yakin ada seseorang di kamar mandi. Ukuran kamar mandi yang memang terbuat dari dinding anyaman bambu dan cukup kecil. Sehingga tidak heran jika seseorang yang mandi di dalam sesekali menyenggol dindingnya tersebut.
Tersengal-sengal, hidungnya berusaha mengatur udara yang masuk lambat-lambat agar tak menimbulkan suara. Matanya mencari sesuatu di sekitarnya. Sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai senjata. Ini sudah pasti pencuri, pikirnya. Orang ini pasti tahu kalau mahasiswa-mahasiswa dan penduduk sedang melaksanakan pengenalan diri di Balai Desa sehingga tempat tinggal banyak yang sepi.
Rey menemukan sebuah ranting kecil yang sekiranya bisa dipergunakan apabila ada tanda bahaya. Ia mengacungkan ranting tersebut ke udara sambil berjalan mengendap-endap mendekati kamar mandi. Jantungnya serasa ingin meledak menahan nafas. Pintu kamar mandi nampak bergerak. Ia bersiap. Genggaman jemarinya pada ranting semakin kuat.
“Ahhh…,” suara perempuan menjerit tertahan. Beberapa menit yang lalu, Rey melihat sebuah kaki akan menapak di tanah depan kamar mandi. Sinar bulan menerangi sedikit bayangan sosok yang merunduk. Rambutnya hitam dan lebat. Baru saja tangannya akan mengayunkan ranting ke arah kaki sosok itu, perempuan itu menjerit.
“Maaf, Mbak,” dia merasa bersalah.
Mata perempuan itu membesar sangking kaget dengan kedatangan Rey. Ia mencoba berdiri dan ingin menjauhi Rey. Cahaya rembulan yang minim membantu mengenali kulit tangannya yang putih, menyembul dari kaos berwarna putih. Rambutnya tergerai tak beraturan. Sejenak Rey mencium wangi bunga sedap malam.
“Saya kira Mbak tadi pencuri, maaf. Mari saya bantu berdiri,” ia mengulurkan tangan sebagai tanda permintaan maaf dan rasa bersalahnya kepada gadis tersebut.
Tangannya tetap terpaku ke tanah sementara mata gadis itu melebar. Menatap tajam tapi lemah ke arah Rey. Pemuda itu berjongkok dan tetap diam. Berharap gadis itu pulih dari rasa terkejut. Pelan-pelan gadis itu berdiri sendiri, tapi tiba-tiba tubuhnya limbung ke arahnya. Rey cepat-cepat mengembangkan tangan. Tubuh gadis itu tertangkap lengannya sebelum tersungkur. Sekali lagi wangi bunga sedap malam masuk ke ujung hidungnya.
“Ahh,” Sekali lagi gadis itu terpekik, terdengar menahan sakit.
“Sepertinya kaki Mbak terkilir. Ayo masuk kedalam, saya punya minyak urut di dalam rumah.” Gadis itu memegang lengan Rey. Pria itu maklum kalau gadis itu masih ketakutan.
“Jangan takut. Saya enggak akan menyakiti ataupun melakukan apapun, saya hanya ingin menolong, Mbak. Saya pikir Mbak pencuri, jadi saya tadi mau pukul, Mbak.”
Gadis itu duduk terpaku di kursi. Rey mengurut bawah kaki gadis tersebut.
“Namaku Putri,” ujar gadis itu serak. Rey mendongak. Ia lega gadis itu mulai pulih.
“Aku Rey,” senyum mengembang Rey membuat Putri merasa nyaman dalam rumah tersebut.
Gadis itu mulai tampak rileks. “Kamu penduduk di sini?” Rey bertanya-tanya sambil mencuri-curi pandang kepada gadis yang masih sedikit menunduk. Celana jeans yang dipakainya terlalu bergaya untuk dikatakan sebagai penduduk daerah ini. Kulitnya putih bersih. Rambutnya bergelombang hitam legam, tampak terawat.
Putri menarik sudut bibirnya. Senyum masih di antara rasa nyaman dan jengah. Karena Putri tak bersuara, Rey melanjutkan, “Apa kamu salah satu mahasiswa yang KKN? Aku tidak pernah melihat kamu sebelumnya. Dari fakultas apa?” Telapak tangannya mengurut dengan telaten sampai di bawah, setelah ia menggulung celana putri.
Semakin lama, pria ini merasa heran. Seharusnya balsem akan membuat telapak tangannya dan kaki Putri hangat. Tetapi entah kenapa, ketika telapak tangannya bersentuhan dengan kulit Putri, Rey merasakan tangannya semakin lama semakin beku. Semula tidak terasa. Tapi lama kelamaan, tangannya terasa kaku, seperti mencelupkan tangan pada sebaskom es.
Rey mendengar ada suara dari arah depan dan mengarahkan wajah pada pintu. Suara laki-laki bersahut-sahutan dengan gelegak tawa wanita. “Sebentar, ya. Aku buka pintu dulu. Tadi aku kunci pintu karena sendirian, kamu tunggu dulu di sini ya.”
Rey membuka pintu, “Hei, kamu rugi gak ikutan Rey. Tadi kita kenalan dengan anaknya pak lurah. Cakep juga loh.” Budi terkekeh. Membesar-besarkan kata “Cantik” agar Rey merasa rugi.
“Klise banget,” jawab Rey.
“Seperti di sinetron saja. Kenapa kalau di desa yang cantik selalu anaknya pak lurah? Kenapa tidak anaknya Pak Camat atau salah satu penduduk, kek.” Jawabnya dengan wajah kecut.
Mereka serempak tertawa. Rey menggeser badannya agar teman-temannya melewatinya. “Aku enggak kalah sama kalian, meskipun bukan anak Pak Lurah,” ia mengatakan dengan angkuhnya.
Budi dan Ruslan berputar balik agar bisa melihat ekspresi Rey, “Maksudnya kamu juga sama? Hem…ehmmm di sini?” Ruslan menyelidik.
Mereka berdua lantas berjalan cepat ke arah dalam. Ruangan depan memang dipisahkan oleh tembok dan dihubungkan dengan pintu besi model zaman dulu. Ketiga gadis di belakang mereka cuma geleng-geleng kepala. “Dasar cowok.”
Rey berjalan lambat-lambat, dia sengaja membiarkan mereka merasa beruntung karena gadis yang ditolongnya tak bertampang mengecewakan. Namun, ketika dirinya sampai selangkah dari pintu, ia melihat Budi dan Ruslan kebingungan. Mata Rey tidak dapat melihat kedudukan kursi dan Putri dari seberang pintu karena terhalang tembok. Ia lantas melewati pintu dengan tanda tanya. Tak ada Putri. Dia lantas ke kamar, tak ada seorang pun.
Kemudian ia menyusuri koridor pendek menuju pintu belakang. Tak ada sesosok pun. Pandangannya terarah ke kamar mandi. Tak ada gerakan apapun. Ia lantas melihat Budi dan Ruslan lewat bahunya. Kedua temannya tampak terheran-heran, sedang Rey mencari keberadaan Putri yang menghilang bagai secepat kilat.
Editor: Anggia Nurulita

